Gubernur yang Miskin (2)

Mendengar ucapannya itu, seolah-olah suatu marabahaya sedang menimpanya. Kerana itu isterinya segera menghampiri seraya bertanya, “Apa yang terjadi, hai ‘Sa ‘Id? Meninggalkah Amirul Mu ‘minin?”

“Bahkan lebih besar dan itu!” jawab Sa’id sedih. “Apakah tentara muslimin kalah berperang?” tanya Isterinya pula.

“Jauh lebih besar dari itu!” jawab Sa’id tetap sedih. Apa pulakah gerangan yang Iebih dari itu?” tanya isterinya tak sabar.

‘Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah tangga kita,’ jawab Sa’id mantap.

“Bebaskan dirimu daripadanya! “ kata isteri Sa’id memberi semangat, tanpa mengetahui perihal adanya pundi-pundi uang yang dikirimkan Khalifah ‘Umar untuk pribadi suaminya.

“Mahukah Engkau menolongku berbuat demikian?” tanya Sa ‘id.

‘Tentu…;! “jawab isterinya bersemangat.

Maka Sa’id mengambil pundi-pundi uang itu, lalu disuruhnya isterinya membagi-bagi  kepada fakir miskin.

Tidak berapa lama kemudian, Khalifah ‘Umar berkunjung ke Syria, menginspeksi pemerintahan di sana. Dalam kunjungannya itu beliau. menyempatkan diri singgah di Himsh. Kota Himsh pada masa itu dinamai orang pula “Kuwaifah (Kufah kedil)”, kerana rakyat nya sering melapor kepada pemerintah pusat dengan kelemahan-kelemahan Gubernur mereka, persis seperti kelakuan masyarakat Kufah. Tatkala Khalifah singgah di sana, rakyat mengelu-elukan beliau, mengucapkan Selamat Datang.

Khalifah bertanya kepada rakyat, “Bagaimana penilaian Saudara-Saudara terhadap kebijakan Gubernur.

“Ada empat macam kelemahan yang hendak kami laporkan kepada Khalifah,” jawab rakyat.

“Saya akan pertemukan kalian dengan Gubernur kalian,” jawab Khalifah ‘Umar sambil mendo’a: “Semoga sangka baik saya selama ini kepada Sa’id bin ‘Amir tidak salah.” Maka tatkala semua pihak, yaitu Gubernur dan masyarakat—telah lengkap berada di hadapan Khalifah, beliau bertanya kepada rakyat, “Bagaimana laporan sau dara-saudara tentang kebijakan Gubernur Saudara-sau dara?”

Pertanyaan Khalifah dijawab oleh seorang Juru Bicara.

Pertama: Gubernur selalu tiba di tempat tugas setelah matahari tinggi.

“Bagaimana tanggapan Anda mengenai lapor’an rakyat Anda itu, hai Sa ‘id?” tanya Khalifah.

Gubernur Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy diam sejenak. Kemudian dia berkata: “Sesungguhnya saya keberatan menanggapinya. Tetapi apa boleh buat.. Keluarga saya ti dak mempunyai pembantu. Kerana itu tiap pagi saya terpaksa turun tangan membuat adonan roti lebih dahulu untuk mereka. Sesudah adonan itu asam (siap untuk dimasak), barulah saya buat roti. Kemudian saya berwudhu’. Sesudah itu barulah saya berangkat ke tempat tugas untuk melayani masyarakat.”

“Apa lagi laporan Saudara-saudara?” tanya Khalifah kepada hadirin. Kedua, Gubernur tidak bersedia melayani kami pada malam hari.”

“Bagaimana pula tanggapan Anda mengenai itu, hai Sa’id?” tanya khalifah.

“ Ini sesungguhnya lebih berat bagi saya menanggapinya, terutama di hadapan umum seperti ini,” kata Sa ‘id. “Saya telah membagi waktu saya, siang hari untuk melayani masyarakat, malam hari untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah,” lanjut Sa‘id

“Apa lagi,” tanya Khalifah kepada hadirin.

Ketiga: Gubernur tidak masuk kantor sehari penuh dalam sebulan.

“Bagaimana pula tanggapan Anda, hai Sa’id?” tanya Khalifah ‘Umar.

“Sebagaimana telah saya terangkan tadi, saya tidak mempunyai pembantu rumah tangga. Di samping itu saya hanya memiliki sepasang pakaian yang melekat di badan ku ini. Saya mencucinya sekali sebulan. Bila saya mencucinya, saya terpaksa menunggu kering lebih dahulu. Sesudah itu barulah saya dapat keluar melayani masyarakat,” ucap Said.

‘Nah, apa lagi laporan selanjutnya?” tanya Khalifah.

Keempai: Sewaktu-waktu Gubernur menutup diri untuk bicara. Pada saat-saat seperti itu, biasanya beliau pergi meninggalkan majlis.”

“Silakan menanggapi, hai Gubernur Said!” kata Khali fah ‘Umar.

“Ketika saya masih musyrik dulu, saya pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin ‘Ady dihukum mati oleh kaum Quraisy kafir. Saya menyaksikan mereka menyayat-nyayat tubuh Khubaib berkeping-keping. Pada waktu itu mereka bertanya mengejek Khubaib, “Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?”

Ejekan mereka itu dijawab oleh Khubaib, “Saya tidak ingin bersenang-senang dengan isteri dan anak-anak saya, sementara Nabi Muhammad tertusuk duri …“

‘Demi Allah…!” kata Sa’id. “Jika saya teringat akan peristiwa , di waktu mana saya membiarkan Khubaib tanpa membelanya sedikit jua pun, maka saya merasa, bahwa dosaku tidak akan diampuni Allah swt.”

Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakanku,” kata Khalifah ‘Umar mengkahiri dialog itu.

Sekembalinya ke Madinah, Khalifah ‘Umar mengirimi Gubernur Sa’id seribu dinar untuk memenuhi kebutuhannya. Melihat jumlah uang sebanyak itu, isterinya berkata kepada Sa’jd, “Segala puji bagi Allah yang mencukupi kita berkat pengabdianmu. Saya ingin uang ini kita per gunakan untuk membeli bahan pangan dan kelengkapan kelengkapan lain-lain. Dan saya ingin pula menggaji seorang pembantu rumah tangga untuk kita.”

“Adakah usul yang lebih baik dan itu?” tanya Sa’id kepada isterinya.

“Apa pulakah yang lebih baik dari itu? “ jawab isterinya balik bertanya.

“Kita bagi-bagikan saja uang ini kepada rakyat yang membutuhkannya. Itulah yang lebih baik bagj kita,” jawab Sa’id.

“Mengapa….?” tanya isterinya.

‘Dengan begitu berarti kita mendepositokan uang ini kepada Allah. Itulah cara yang lebih baik,” kata Said.

“Baiklah kalau begitu,” kata isterinya. “Semoga kita dibalasi Allah dengan balasan yang paling baik.”

Sebelum mereka meninggalkan majlis, uang itu dimasukkan Sa ‘Id ke dalam beberapa pundi, lalu diperintah kannya kepada salah seorang keluarganya:

‘Pundi ini berikan kepada janda si Fulan. Pundi ini kepada anak yatim Si Fulan. Ini kepada si Fulan yang miskin… dan seterusnya.”

Semoga Allah swt. meridhai Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy. Dja telah membeli akhirat dengan menghindari godaan kemewahan dunia, dan mengutamakan keridhaan Allah serta pahala yang berlipat ganda di akhirat, lebih dan segala-galanya. Amin!!!

Kapan ya Indonesia memiliki gubernur dan bahkan presiden seperti Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy? Saat setiap jengkal tanah Allah berkahi dengan kesejahteraan dan keselamatan-Nya. Mungkin pada saat kita menjadi orang tua nanti. Atau mungkin saja saat anak cucu kita nanti. Yakinlah masa itu pasti akan tercapai karena itulah janji Allah lewat Rasul-Nya. Wallaahua’lam

Gubernur yang Miskin (1)

“Dia telah membeli akhirat dengan dunia, dan mengutamakan keridhaan Allah dan Rasul atas segala-galanya.” (Mu’arrikhin). SA’ID BIN ‘AMIR AL JUMAHY, termasuk seorang pemuda di antara ribuan orang yang pergi ke Tan’im, di luar kota Makkah. Mereka berbondong-bondong ke sana, dikerahkan para pemimpin Quraisy untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadap Khubaib bin ‘Ady, yaitu seorang sahabat Nabi yang mereka jatuhi hukuman tanpa alasan.

Dengan semangat muda yang menyala-nyala, Sa’id maju menerobos orang banyak yang berdesak-desakan. Akhirnya dia sampai ke depan, sejajar dengan tempat duduk orang-orang penting, seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah dan lain-lain. Kaum kafir Quraisy sengaja mempertontonkan tawanan mereka dibelenggu. Sementara para wanita, anak anak dan pemuda, menggiring Khubaib ke lapangan maut. Mereka ingin membalas dendam terhadap Nabi Muhammad saw., serta  melampiaskan sakit hati atas ke kalahan mereka dalam perang Badar.

Ketika tawanan yang mereka giring sampai ke tiang salib yang telah disediakan, ‘Sa’id mendongakkan kepala melihat kepada Khubaib bin ‘Ady. ‘Said mendengar suara Khubaib berkata dengan mantap, “Jika kalian bolehkan, saya ingin shalat dua raka’at sebelum saya kalian bunuh….”

Kemudian Sa’id melihat Khubaib menghadap ke kiblat (Ka’bah). Dia shalat dua raka’at. Alangkah bagus dan sempurna shalatnya itu. Sesudah shalat, Khubaib menghadap kepada para pemimpin Quraisy seraya berkata, “Demi Allah! Seandainya kalian tidak akan menuduhku melama-lamakan shalat untuk melambat-lambatkan waktu kerana takut mati, nescaya saya akan shalat lebih banyak lagi.” Mendengar ucapan Khubaib tersebut, Sa’id melihat para pemimpin Quraisy naik darah, bagaikan hendak mencencang-cencang tubuh Khubaib hidup hidup.

Kata mereka, “Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?”

“Saya tidak ingin bersenang-senang dengan isteri dan anak-anak saya, sementara Muhammad tertusuk duri….,” jawab Khubaib mantap.

“Bunuh dia…! Bunuh dia…!” teriak orang banyak.

Sa’id melihat Khubaib telah dipakukan ke tiang salib. Dia mengarahkan pandangannya ke langit sambil mendo’a, “Ya, Allah! Hitunglah jumlah mereka! Hancurkanlah mereka semua.

Jangan disisakan seorang jua pun!”

Tidak lama kemudian Khubaib menghembuskan nafasnya yang terakhir di tiang salib. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka kerana tebasan pedang dan tikaman tombak yang tak terbilang jumlahnya.

Kaum kafir Quraisy kembali ke Makkah biasa-biasa saja. Seolah-olah mereka telah melupakan peristiwa maut yang merenggut nyawa Khubaib dengan sadis. Tetapi Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy yang baru meningkat usia remaja tidak dapat melupakan Khubaib walau agak sedetikpun. Sehingga dia bermimpi melihat Khubaib menjelma di hadapannya. Dia seakan-akan melihat Khubaib shalat dua raka’at dengan khusyu’ dan tenang di bawah tiang salib. Seperti

terdengar olehnya rintihan suara Khubaib mendo‘akan kaum kafir Quraisy. Kerana itu Sa’id ketakutan kalau-kalau Allah swt. segera mengabulkan  do’a  Khubaib,  sehingga  petir  dan halilintar menyambar kaum Quraisy.

Keberanian dan ketabahan Khubaib menghadapi maut mengajarkan pada Sa’id beberapa hal yang belum pernah diketahuinya selama ini. Pertama, hidup yang sesungguhnya ialah hidup berakidah (beriman); kemudian berjuang mempertahankan ‘akidah itu sampai mati.

Kedua, iman yang telah terhunjam dalam di hati seorang dapat menimbulkan hal-hal yang ajaib dan luar biasa.

Ketiga, orang yang paling dicintai Khubaib ialah sahabatnya, iaitu seorang Nabi yang dikukuhkan dari langit. Sejak itu Allah swt. membukakan hati Sa’id bin ‘Amir untuk menganut agama Islam. Kemudian dia berpidato di hadapan khalayak ramai, menyatakan: alangkah bodohnya orang Quraisy menyembah berhala. Kerana itu dia tidak mahu terlibat dalam kebodohan itu. Lalu dibuangnya berhala-hala yang dipujanya selamaini. Kemudian diumumkannya bahwa mulai saat itu dia masuk Islam. Tidak lama sesudah itu, Sa id menyusul kaum muslimin hijrah ke Madinah. Di sana dia senantisasa mendampingi Nabi s.a.w. Dia ikut berperang bersama beliau, mula mula dalam  peperangan Khaibar. Kemudian dia selalu turut berperang dalam setiap peperangan berikutnya.

Setelah Nabi saw. berpulang ke rahmatullah, Sa’id tetap menjadi pembela setia Khalifah Abu Bakar dan ‘Umar. Dia menjadi teladan satu-satuya bagi orang orang mu’min yang membeli kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Dia lebih mengutamakan keridhaan Allah dan pahala daripada-Nya di atas segala keinginan hawa nafsu dan kehendak jasad. Kedua Khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan ‘Umar bin  Khaththab, mengerti bahwa ucapan-ucapan Sa’id sangat berbobot, dan taqwanya sangat tinggi. Kerana itu keduanya tidak keberatan mendengar dan melaksanakan nasihat-nasihat Sa ‘id. Pada sutu hari di awal pemerintahan Khalifah ‘Umar  bin Khaththab, Sa’id dating kepadanya memberi nasihat.

Kata Sa’id, “Ya ‘Umar! Takutlah kepada Allah dalam memerintah manusia. Jangan takut

kepada manusia dalam menjalankan agama Allah! Jangan berkata berbeda dengan perbuatan. Kerana sebaik-baik perkataan ialah yang dibuktikan dengan perbuatan. Hai Umar! Tujukanlah seluruh perhatian Anda kepada urusan kaum muslimin baik yang jauh mahupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang Anda dan keluarga sukai. Jauhkan dari mereka apa-apa yang Anda dan ke luarga  Anda  tidak  sukai.  Arahkan semua karunia Allah kepada yang baik. Jangan hiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci.”

“Siapakah yang sanggup melaksanakan semua itu, hai Sa’id?” tanya Khalifah ‘Umar.

“Tentu orang seperti Anda! Bukankah Anda telah dipercayai Allah memerintah ummat Muhammad ini? Bukankah antara Anda dengan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?” jawab Sa’id meyakinkan.

Pada suatu ketika Khalifah ‘Umar memanggil Sa’id untuk diserahi suatu jabatan dalam

pemerintahan. “Hai Sa’id! Engkau kami angkat menjadi Gubernur di Himsh!” kata Khalifah Umar.

“Wahai ‘Umar! Saya memohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya condong kepada dunia,” kata Sa’id.

“Celaka Engkau!” balas ‘Umar marah. “Engkau pikulkan beban pemerintahn ini di pundakku, tetapi kemudian Engkau menghindar dan membiarkanku repot sendiri.”

“Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan Anda,” jawab Sa’id. Kemudjan Khalifah ‘Umar melantik Sa ‘Id menjadi Gubernur di Himsh.

Sesudah pelantikan, Khalifah ‘Umar bertanya kepada Sa’id, “Berapa gaji yang Engkau

inginkan?”

“Apa yang harus saya perbuat dengan gaji itu, ya Amirul Mu’minin?” jawab Sa’id balik

bertanya. “Bukankah penghasilan saya dan Baitul Mal sudah cukup?”

Tidak berapa lama setelah Sa ‘id memerintah di Himsh, sebuah delegasi datang menghadap Khalifah ‘Umar di Madinah. Delegasi itu terdiri dari penduduk Hims yang di tugasi Khalifah mengamat-amati jalannya pemerintahan di Himsh. Dalam pertemuan dengan delegasi tersebut, Khalifah ‘Umar meminta daftar fakir miskin Himsh untuk diberikan santunan. Delegasi mengajukan daftar yang diminta Khalifah. Di dalam daftar tersebut terdapat nama-nama si Fulan, dan nama Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy. Ketika Khalifah meneliti daftar tersebut, beliau menemukan nama Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy. Lalu beliau bertanya “Siapa Sa ‘id bin ‘Amir yang kalian cantumkan ini?”

“Gubernur kami! “jawab mereka.

“Betulkah Gubernur kalian miskin?” tanya khalifah heran.

“Sungguh, ya Amiral Mu’minin! Demi Allah! Sering kali di rumahnya tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak),”jawab mereka meyakinkan. Mendengar perkataan itu, Khalifah ‘Umar menangis, sehingga air mata beliau meleleh membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundi-pundi berisi uang seribu dinar.

“Kembalilah kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Sa’id bin ‘Amir. Dan uang ini saya kirim kan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya” ucap ‘Umar sedih.

Setibanya di Himsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Sa’id, menyampaikan salam dan uang kiriman Khalifah untuk beliau Setelah Gubernur Sa ‘id melihat pundi-pundi berisi uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap, ‘inna lilahi wa inna ilaihi raji’un (Kita milik Allah, pasti kembali kepada Allah).”

Nilai Seorang Pemimpin

Bung Hatta

Menduga perasaan rakyat dan memberi jalan kepada perasaan itu keluar itulah kewajiban yang amat sulit dan susah. Itulah kewajiban leadership! Caranya memenuhi kewajiban itu bergantung pula pada waktu dan tempat.

Ambillah sebagai contoh sejarah Rusia sebelum perang besar, ambillah sejarah Italia sebelum ia bersatu dan merdeka, dan ambillah pula sejarah Indonesia sendiri. Apa yang kita katakan itu akan ternyata semuanya.

Rakyat yang banyak pada mulanya tidak tahu bergerak apa-apa, sesungguhnya sakit dan gusar yang ditanggungnya hampir tidak tertahan lagi. Langkah terikat oleh ketiadaan pengetahuan pandangan sayup oleh kekurangan penerangan. Sitani yang miskin dan bodoh mempunyai alam pikiran yang tidak lebih luas dari pada batas tanah yang dikerjakannya. Paham tertutup dan ingatan tak lain daripada memikirkan bagaimana makan dari sehari ke sehari dan bagaimana membayar pajak kalau pegawai datang menagih. Dalam rasa sakit yang seperti itu, dalam tindasan yang menutup kalbu, orang banyak tawakkal saja kepada nasibnya, menyerahkan untung kepada “apa boleh buat”. Apalagi di zaman despotisme yang tidak berhingga, seperti di Rusia dahulu. Orang takut akan murka rajanya, yang gampang membuang orang ke Siberia. Berkata tidak berani, karena takut akan terdengar oleh mata-mata rahasia yang mempunyai kuping di mana-mana.

Siapakah berani mengatakan, bahwa rakyat yang hidup semacam itu tidak mempunyai perasaan dan kemauan? Selagi manusia tinggal manusia, ia insaf akan nasibnya, berapa juga bodoh dan bebalnya. Hanya ada perbedaan antara rakyat dan rakyat. Yang satu lekas mencari jalan sendiri dan yang lain lambat bergerak. Di sinilah tempatnya pemimpin, menduga apa yang terasa dalam hati rakyat, menggerakkan apa yang tidak bisa berjalan sendiri, menyuluhi jalan yang masih gelap di mata rakyat, tetapi telah terkandung di hatinya. Pemimpin mengemudikan apa yang sudah dikehendaki oleh rakyat. Itulah sebabnya maka pemimpin lekas dapat pengikut dan pergerakan yang dianjurkannya cepat berkembang.

Sebelumnya pemimpin ada dengan pergerakan, yang menjadi jurubahasa hati rakyat terdapat kaum terpelajar, pemuda-pemudi yang sudah mendapat pelajaran sekolah. Hatinya sedih melihat nasib rakyatnya yang begitu melarat. Dalam hatinya terasa suruhan untuk membela nasib rakyat jelata itu. Belas kasihan melihat keadaan rakyat, itulah yang menjadi sebab mula-mula, maka kaum terpelajar dan pemuda-pemudi anak orang bangsawan maju ke muka, menceburkan diri sebagai pembuka jalan kepada orang banyak, bagaimana harus bergerak menuntut perbaikan nasib. Dan dengan kurban ia hendak memberi contoh, supaya perbuatan itu diikuti oleh rakyat yang banyak. Dengan tiada gentar dan takut seorang pemuda tadi memajukan aksinya, berpropaganda ke mana dengan rahasia untuk membangunkan semangat rakyat yang tertutup. Demikianlah keadaan di Rusia pada zaman Tzarisme, demikian juga di Italia pada waktu Mazzini dan Garibaldi menganjurkan persatuan dan kemerdekaan Tanah Air. Supaya rakyat yang banyak terbangun dan tahu menuntut hak-haknya, orang seorang berkurban, hidup dalam bui dan sengsara dalam pembuangan.

Inilah masa romantisme dalam pergerakan kemerdekaan. Penganjur-penganjur, yang belum lagi bernama pemimpin, berkorban, supaya terbuka jalan bagi pergerakan rakyat. Supaya perasaan rakyat yang tertutup dalam hati, dapat mencari jalan keluar.

Setelah terbuka mata rakyat, individuele actie berganti menjadi massa-actie, yaitu aksi orang banyak yang tersusun sebagai satu badan. Dengan itu timbullah leiderschap, pemimpin yang mempunyai pekerjaan tertentu. Ia mengemukakan apa yang terasa oleh rakyat, yang tidak dapat dikeluarkannya sendiri. Di sini timbul organisasi rakyat yang mempunyai semangat sendiri, gelagat dan sifat sendiri. Pendeknya timbul satu collective psyche dan kemauan bersama, yang dikemudikan oleh pemimpin.

Pada satu ketika kemauan bersama itu tampak keluar dengan jelas. Misalnya pada kongres, pada rapat umum dan pada beberapa keputusan yang diambil dalam rapat tertutup dan diumumkan. Dan pada waktu anggauta-anggauta tidak berkumpul, pemimpin itulah yang menjadi jurubahasa (tolk) perasaan dan kemauan pergerakan. Semuanya ini menyatakan, bahwa tiap-tiap organisasi itu mempunyai jiwa sendiri dan kemauan sendiri. Dan inilah yang dianjurkan dan dikemudikan oleh Pemimpin. Tidak lain kedudukan pemimpin. Sejak ayam jantan yang berkokok sebab hari akan siang, pemimpin bersuara sebab pergerakan dan rakyat mempunyai kehendak.

Kebenaran ini ternyata pula dengan jelas dalam sejarah pergerakan umum. Kalau seorang pemimpin menyimpang dari dasar organisasinya, kepercayaan rakyat hilang kepada dia dan ia disingkirkan dari pimpinan. Dan kalau ia terlalu jauh meliwati batas, ia dilemparkan keluar organisasi. Jalan pemimpin adalah terutama jurubahasa daripada rakyat. Betul dialah yang menyusun politik, program partai dan lain-lainnya, akan tetapi bukti ini tidak lain daripada menyatakan kemauan bersama.

Dalam pergerakan rakyat, pada suatu masa organisasi, sikap pemimpin mestilah cocok dengan yang dipimpin. Tidak dapat pemimpin berbuat sesuka-sukanya, sedangkan seorang dictator di waktu sekarang terpaksa memperhatikan semangat dan perasaaan yang hidup dalam hati rakyat. Sering juga kekuasaannya bersandar kepada sebagian rakyat yang menjadi pengikutnya. Kalau tidak ia mesti jatuh! Dalam pada itu pemimpin bukan pula budak pergerakan semata-mata. Ia penduga perasaaan rakyat, penganjur dan jurumudi pergerakan. Dan pemimpin yang cakap dan populair dapat melaksanakan teguhnya organisasi. Tetapi pekerjaan pemimpin sedikit hasilnya, kalau tidak dibantu dengan majalah dan tidak dibantu oleh anggauta-anggauta dengan memperkuat partai.

Mohammad Hatta dalam “Memoir”, 1984, Jakarta:PT Tintamas Indonesia

Masjid Al-Muntaha Kompleks PT Pupuk Iskandar Muda-Rumah Pak Sogol-Aceh Utara, 7 Juni 2009

Adakah muslim ekstrim?

Lima hari yang lalu atau tepatnya tanggal 23 Juli 2008 aku ditelpon seorang teman SMA-ku, teman seperjuangan ketika dulu ikut tes Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Akan tetapi kami berdua akhirnya tidak melanjutkan ke sekolah tersebut, aku memutuskan untuk kuliah di ITB sedangkan temanku tersebut memutuskan untuk menjadi tentara dan mengikuti pendidikan militer di Bandung juga. Setelah berbasa-basi, aku iseng bertanya kepada dia :

“Kapan mau nikah?” tanyaku

“Nikah!?! Wah nanti dulu aja lah. Pengin nikmatin masa muda dulu. Kalo nikah nanti udah gak bebas lagi, hehehe….”, jawabnya

”Lho bukannya kamu sekarang udah punya penghasilan? Wah kalau aku jadi kamu mungkin aku udah nikah, hehehe…”, balasku dengan nada agak meledek

”Belum siap euy. Masih ada tanggungan adik. Lha kamu emang mau nikah kapan?!” jawabnya

”O…sama dong. Aku insya allah bulan 2011, mohon doanya aja! Ngomong-ngomong masih dengan pramugari itu gak?” tanyaku

”Wah! Udah lama putus, 2 bulan yang lalu. Mau nyariin lagi apa?” katanya

”Emm…kalau berjilbab lebar gimana? Hehehe….”, kataku dengan nada bercanda

”Boleh, gak apa-apa berjilbab.” jawabnya

”Serius nih?” tanyaku lagi

”Yah, berjilbab boleh asal jangan terlalu ekstrim!” jawabnya

Ekstrim yang gimana maksudmu?” tanyaku walaupun sebenarnya sudah ada gambaran ekstrim apa yang dia maksud.

”STMJ,” jawabnya.

”Apa itu STMJ?” tanyaku

”Shalat Terus Maksiat Jalan,” katanya sambil tertawa

Astaghfirullahal ’adziim, batinku ingin menangis mendengar kata itu

Yah, itulah sepenggal percakapan kami. Menurut anggapan temanku, wanita yang berjilbab lebar, sering membawa dan membaca Al-Qur’an atau laki-laki yang berjenggot itu identik dengan ekstrim. Mungkin anggapan tersebut tidak hanya dari temanku tapi dari sebagian besar orang. Anggapan seperti itu juga dulu pernah aku rasakan. Dulu aku pernah merasa canggung dan gak enak kalau melihat laki-laki yang berjenggot atau wanita yang berjilbab besar dan lebar. Hal ini tidak lain karena dulu aku dididik islam itu hanya sebatas shalat, mengaji, masjid, dan aktivitas membosankan menurut kebanyakan orang. Islam dianggap tidak mengatur hal-hal yang sifatnya duniawi. Dulu aku percaya dengan sumber hukum Islam yaitu Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijtihad tetapi menjalankan beberapa perintah sedangkan perintah yang lain kutinggalkan.

Padahal Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah : 208

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu.

Islam meliputi berbagai aspek kehidupan baik ibadah, pendidikan, ekonomi, politik, seni, bahkan aktivitas yang sederhana mulai bangun tidur, mandi, kuliah/belajar, makan, minum. Jadi tidak ada aspek kehidupan yang tidak terlingkupi oleh islam. Islam itu ada untuk mengatur hidup manusia agar selamat dan sejahtera.

Sayyid Qutb di dalam buku Petunjuk Jalan mengatakan Islam tidak hanya sebatas ritual dan teori saja tetapi harus ditunjukkan kepada ummat lewat bukti nyatanya. Dan bukti nyata itu sudah dilakukan semuanya oleh Rasulullah SAW. Pertanyaannya adalah sekarang kan Rasulullah SAW sudah tidak ada. Nah, di sinilah peran dari menjadi ahli ilmu Al-Qur’an, dan Sunnah. Sementara itu, untuk menjalankan teori-teori itu, diperlukan pionir-pionir yang dengan sekuat tenaga dan bersemangat memperjuangkannya. Pionir-pionir yang kebanyakan orang menganggapnya sebagai muslim yang ’ekstrim’ padahal julukan itu tidak selayaknya ditujukan kepada mereka karena julukan tersebut identik dengan kekerasan dan tidak toleran. Pionir-pionir yang insya allah berjuang atas nama Allah Rabb semesta alam. Masih pantaskah muslim yang benar-benar berjuang untuk memperjuangkan dan mengejawantahkan islam dalam kesehariannya karena melihat kebobrokan ummat dan ketidakmampuan sistem selain islam menjadi solusi atasnya mendapat julukan ’ekstrimis’ ? Semoga Allah memberikan kekuatan dan kemampuan kepada diri yang lemah ini untuk selalu mengkaji islam dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.



Abu Raihan Al Biruni Filsuf dan Fisikawan Ulung

Namanya tak diragukan lagi di pentas sains dan ilmu pengetahuan abad pertengahan. Dunia sains mengenalnya sebagai salah seorang putra Islam terbaik dalam bidang filsafat, astronomi, kedokteran, dan fisika. Wawasan pengetahuannya yang demikian luas, menempatkannya sebagai pakar dan ilmuwan Muslim terbesar awal abad pertengahan. Ilmuwan itu tak lain adalah Al-Biruni. Bernama lengkap Abu Raihan Muhammad ibn Ahmad Al-Biruni, ilmuwan besar ini dilahirkan pada bulan September tahun 973 M, di daerah Khawarizm, Turkmenistan. Ia lebih dikenal dengan nama Al-Biruni. Nama “Al-Biruni” sendiri berarti ‘asing’, yang dinisbahkan kepada wilayah tempat tanah kelahirannya, yakni Turkmenistan. Kala itu, wilayah ini memang dikhususkan menjadi pemukiman bagi orang-orang asing.

Dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama, Al-Biruni tumbuh dan besar dalam lingkungan yang mencintai ilmu pengetahuan. Tak seperti kebanyakan ilmuwan Muslim lainnya, masa muda Al-Biruni tak banyak terlacak oleh sejarah. Meski demikian, dari beberapa literatur diketahui, ilmuwan besar ini memperoleh pendidikan dasarnya dari beberapa ulama ternama di masanya, antara lain Syeikh Abdus Shamad bin Abdus Shamad. Di bidang kedokteran, ia belajar pada Abul Wafa’ Al-Buzayani, serta kepada Abu Nasr Mansur bin Ali bin Iraq untuk ilmu pasti dan astronomi. Tak heran bila ulama tawadlu dan gemar baca-tulis ini sudah tersohor sebagai seorang ahli di banyak bidang ilmu sejak usia muda.

Sebagai ilmuwan ulung, Al-Biruni tak henti-hentinya mengais ilmu, termasuk dalam setiap penjelajahannya ke beberapa negeri, seperti ke Iran dan India. Jamil Ahmed dalam Seratus Tokoh Muslim mengungkapkan, penjelajahan paling terkesan tokoh ini adalah ke daerah Jurjan, dekat Laut Kaspia (Asia Tengah), serta ke wilayah India. Penjelajahan itu sebenarnya tak disengaja. Alkisah, setelah beberapa lamanya menetap di Jurjan, Al-Biruni memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Namun tak disangkanya, ia menyaksikan tanah kelahirannya itu penuh konflik antaretnis. Kenyataan ini dimanfaatkan oleh Sultan Mahmoud Al-Gezna, yang melakukan invasi dan menaklukkan Jurjan.

Keberhasilan penaklukkan ini membawa Al-Biruni melanglang ke India bersama tim ekspedisi Sultan Mahmoud. Di sini, ia banyak menelorkan karya tulis, baik berupa buku maupun artikel ilmiah yang disampaikannya dalam beberapa pertemuan. Selain menghasilkan karya, penjelajahan bersama sang Sultan ini juga menghasilkan dibukanya kawasan India bagian timur sebagai basis baru dakwah Islam Al-Biruni.

Dalam rangkaian ‘tur’ nya di India ini, Al-Biruni memanfaatkan waktu luang bagi penelitian sekitar adat istiadat dan perilaku masyarakat setempat. Dari penelitiannya inilah, beberapa karya berbobot lahir (lihat boks). Tak hanya itu, Al-Biruni pula yang pertama memperkenalkan permainan catur ‘ala’ India ke negeri-negeri Islam, serta menjelaskan problem-problem trigonometri lanjutan dalam karyanya, Tahqiq Al-Hind. Dalam kaitan ini, ia berkata, “Saya telah menerjemahkan ke dalam bahasa Arab dua karya India, yakni Sankhya, yang mengupas tentang asal-usul dan kualitas benda-benda yang memiliki eksistensi, dan kedua berjudul Patanial (Yoga Sutra), yang berhubungan dengan pembebasan jiwa.” Kedua buku India ini juga memuat secara otentik sejarah akurat invasi Sultan Mahmoud ke India.

Kepiawaian dan kecerdasan Al-Biruni merangsang dirinya mendalami sekitar ilmu astronomi. Ia misalnya memberikan perhatian yang besar terhadap kemungkinan gerak bumi mengitari matahari. Sayangnya, bukunya yang membicarakan soal ini hilang. Namun ia berpendapat, seperti pernah ia sampaikan dalam suratnya kepada Ibnu Sina, bahwa gerak eliptis lebih mungkin daripada gerak melingkar pada planet. Al-Biruni konsisten mempertahankan pendapatnya tersebut, dan ternyata di kemudian hari terbukti kebenarannya menurut ilmu astronomi modern.

Sebagai sosok yang gemar membaca dan menulis, kepakaran Al-Biruni tak hanya di bidang ilmu eksakta. Ia juga mahir dalam disiplin filsafat. Karena itu, ia dikenal sebagai salah seorang filsuf Muslim yang amat berpengaruh. Pemikiran filsafat Al-Biruni banyak dipengaruhi oleh pemikiran filsafat Al-Farabi, Al-Kindi, dan Al-Mas’udi (w. 956 M). Hidup sezaman dengan filsuf besar dan pakar kedokteran Muslim, Ibnu Sina, Al-Biruni banyak berdiskusi dengan Ibnu Sina, baik secara langsung maupun melalui surat menyurat. Keduanya tak jarang terlibat debat sekitar pemikiran filsafat. Ia misalnya menentang aliran paripatetik yang dianut oleh Ibnu Sina dalam banyak aspek. Al-Biruni memperlihatkan ketidaktergantungan yang agak besar terhadap filsafat Aristoteles dan kritis terhadap beberapa hal dalam fisika paripatetik, seperti dalam masalah gerak dan tempat.

Semua yang dilakukannya itu selalu ia landaskan pada prinsip-prinsip Islam, serta meletakkan sains sebagai sarana untuk menyingkap rahasia alam. Hasil eksperimen dan penelitiannya selalu bermuara pada pengakuan keberadaan Sang Pencipta (Allah). Ketika seorang ilmuwan, katanya, akan memutuskan untuk membedakan kebenaran dan kepalsuan, dia harus menyelidiki dan mempelajari alam.

Kalau pun ia tidak membutuhkan hal ini, maka ia perlu berpikir tentang hukum alam yang mengatur cara-cara kerja alam semesta. Ini akan dapat mengarahkannya untuk mengetahui kebenaran dan membuka jalan baginya untuk mengetahui Wujud yang mengaturnya. Dalam bukunya Al-Jamahir, Al-Biruni juga menegaskan,

”penglihatan menghubungkan apa yang kita lihat dengan tanda-tanda kebijaksanaan Allah dalam ciptaan-Nya.

Dari penciptaan alam tersebut kita menyimpulkan eksistensi Allah.” Prinsip ini dipegang teguh dalam setiap penyelidikannya. Ia tetap kritis dan tidak memutlakkan metodologi dan hasil penelitiannya. Pandangan Al-Biruni ini berbeda sekali dengan pandangan saintis Barat modern yang melepaskan sains dari agama. Pandangan mereka tentang alam berusaha menafikan keberadaan Allah sebagai pencipta.

Keberhasilan Al-Biruni di bidang sains dan ilmu pengetahuan ini membuat decak kagum kalangan Barat. Max Mayerhof misalnya mengatakan, “Abu Raihan Muhammad ibn Al-Biruni dijuluki Master, dokter, astronom, matematikawan, ahli fisika, ahli geografi, dan sejarahwan. Dia mungkin sosok paling menonjol di seluruh bimasakti para ahli terpelajar sejagat, yang memacu zaman keemasan ilmu pengetahuan Islam.” Pengakuan senada juga dilontarkan sejarahwan asal India, Si JN Sircar. Seperti dikutip Jamal Ahmed, ia menulis, “Hanya sedikit yang memahami fisika dan matematika. Di antara yang sedikit itu yang terbesar di Asia adalah Al-Biruni, sekaligus filsuf dan ilmuwan. Ia unggul sekaligus di kedua bidang tersebut.” Tokoh dan ilmuwan besar ini akhirnya menghadap Sang Ilahi Rabbi pada 1048 M, dalam usia 75 tahun.

Al-Biruni dan Karya

Laiknya para ilmuwan Muslim generasi sebelum dan sesudahnya, Al-Biruni juga dikenal sebagai penulis dan pemikir yang produktif. Menariknya lagi, sebagian karya-karyanya tersebut dihasilkan ketika berpetualang ke beberapa negeri. Menurut sumber-sumber otentik, karya Al-Biruni lebih dari 200 buah, namun hanya sekitar 180 saja yang diketahui dan terlacak. Beberapa di antara bukunya terbilang sebagai karya monumental. Seperti buku Al-Atsarul Baqiyah ‘anil Qurunil Khaliyah (Peninggalan Bangsa-bangsa Kuno) yang ditulisnya pada 998 M ketika ia merantau ke Jurjan, daerah tenggara Laut Kaspia. Dalam karyanya tersebut, Al-Biruni antara lain mengupas sekitar upacara-upacara ritual, pesta, dan

festival bangsa-bangsa kuno.

Masih dalam lingkup yang sama, Al-Biruni tak menyia-nyiakan kesempatan beberapa ekspedisi militer ke India bersama Sultan Mahmoud Gezna. Ia pergunakan lawatannya tersebut dengan melakukan penelitian seputar adat istiadat, agama, dan kepercayaan masyarakat India. Selain itu, ia juga belajar filsafat Hindu pada sarjana setempat. Jerih payahnya inilah menghasilkan karya besar berjudul Tarikhul Al-Hindy (Sejarah India) tahun 1030 M. Intelektual Iran, Sayyed Hossein Nasr, dalam Science and Civilization in Islam (1968), menyatakan, buku ini merupakan uraian paling lengkap dan terbaik mengenai agama Hindu, sains, dan adat istiadat India.

Al-Biruni, dalam karyanya ini antara lain menulis analisis menarik, bahwa pada awalnya manusia mempunyai keyakinan monoteisme, penuh kebaikan dan menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tapi, lantaran nafsu murka telah membawa mereka pada perbedaan agama, filsafat, dan politik, sehingga mereka menyimpang dari monoteisme ini. Ia juga membahas tentang geografi India. Al-Biruni juga berpendapat, lembah Sungai Hindus dan India, mulanya terbenam dalam laut, namun perlahan menjadi penuh endapan yang dibawa air sungai.

Tak hanya menulis buku tentang sosiologi, Al-Biruni juga banyak menulis tentang ilmu-ilmu eksakta seperti geometri, aritmatika, astronomi, dan astrologi. Karya di bidang ini misalnya Tafhim li Awa’il Sina’atut Tanjim. Khusus disiplin ilmu astronomi, ia menulis buku berjudul Al-Qanun Al-Mas’udi fil Hai’ah wan Nujum (Teori tentang Perbintangan). Di Barat, buku ini memperoleh penghargaan dan menjadi bacaan standar di berbagai universitas Barat selama beberapa abad. Ilmuwan Muslim ini juga dikenal sebagai pengamat pertambangan. Untuk masalah ini, ia menulis buku Al-Jamahir fi Ma’rifatil Jawahir tahun 1041 M.

Karya lainnya, di bidang kedokteran berjudul As-Saydala fit Thib (Farmasi dalam ilmu Kedokteran), Al-Maqallid ‘Ilm Al-Hai’ah (tentang perbintangan), serta buku Kitab Al-Kusuf wal Khusuf ‘Ala Khayal Al-Hunud (Kitab tentang Pandangan Orang-orang India terhadap Peristiwa Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan). (Heri Sucipto)

Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa Bidang Lingkungan Hidup (KKTM-LH) 2008

Dalam rangka pengembangan wawasan dan kemampuan akademik mahasiswa, Direktorat Akademik Ditjen Dikti Depdiknas pada tahun anggaran 2008 kembali akan menyelenggarakan Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa Bidang Lingkungan Hidup(KKTM-LH) dengan tema: “Pembangunan berkelanjutan dalam pelestarian fungsi Lingkungan Hidup menurut Perspektif Mahasiswa”

Adapun penjelasan KKTM-LH tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Peserta lomba adalah mahasiswa yang terdaftar pada perguruan tinggi pada jenjang S0/S1 dari berbagai program studi, dan bersifat perorangan;
  2. Setiap Perguruan Tinggi dapat menyampaikan lebih dari 1 (satu) makalah;
  3. Penulisan disusun melalui berbagai pendekatan sesuai bidang ilmu yang sedang
    ditekuni oleh mahasiswa;
  4. Jumlah halaman penulisan 10 s.d. 20 halaman, tidak termasuk halaman judul, halaman kata pengantar, halaman daftar isi dsb.;
  5. Penyampaian karya tulis ilmiah harus diketahui dan/atau melalui surat pengantar pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan;
  6. Karya tulis harus sudah diterima selambat-lambatnya tanggal 5 Agustus 2008 di Biro Kemahasiswaan ITB atau Bapak Caska 4 (empat) rangkap.
  7. Panitia akan menetapkan 10 (sepuluh) karya tulis terbaik dari setiap kategori topik sebagai finalis KKTM-LH 2008 dan akan dipresentasikan pada Minggu IV September 2008;
  8. Secara umum topik yang dapat dipilih dikatergorikan pada
    a. Lingkungan Biosystem (cover Biru)
    b. Lingkungan Biofisik (cover Putih)
    c. Lingkungan Sosial dan Budaya Kesehatan Nasional (cover Coklat)
  9. Pedoman penulisan KKTM Bidang Lingkungan Hidup mengacu pada Pedoman Umum Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa Bidang Lingkungan Hidup tahun 2008 dapat diunduh (download) di www.evaluasi.or.id

Dari anggaran pribadi ke anggaran negara

Astaghfirullah! Boros Sekali !!! Itulah komentarku terhadap pengeluaran selama bulan April 2008. Bagaimana tidak, total pengeluaran bulan April ini mencapai Rp 616.375,00. Jika dirata-rata, tiap hari aku harus mengeluarkan uang sebesar Rp 20.550,00 untuk makan, minum, tempat tinggal, kuliah, transportasi, komunikasi, dan memenuhi hobiku. Biaya terbesar dikeluarkan untuk makan dan minum sebesar Rp 340.125,00, kuliah Rp 42.900,00, program komposting mandiri Rp 51.800,00, komunikasi/pulsa Rp 46.000,00, transportasi Rp 11.500,00, tempat tinggal Rp 100.000,00 dan sisanya untuk kesenangan.

Sementara itu, selama bulan Mei 2008 aku telah mengeluarkan uang sejumlah Rp 597.600,00 yang jika dirata-rata maka tiap hari aku harus mengeluarkan uang Rp 19.300,00. Mungkin ada penurunan dibanding bulan April, akan tetapi penurunan tersebut belum menunjukkan angka yang signifikan yaitu hanya Rp 1.250,00. Kok saya semakin boros saja ya menggunakan uang. Padahal dulu ketika awal-awal kuliah sempat hanya mengeluarkan uang Rp 250.000,00 tiap bulannya. Iiiiiiihhhhhhhh……!!!

Penyebab Membengkaknya Anggaran

Membengkaknya pengeluaran bulan April dan Mei bisa disebabkan oleh beberapa hal diantaranya tidak bisa memberikan skala prioritas dalam pemakaian uang, tidak komitmen terhadap rancangan anggaran pendapatan sebelumnya, dan memenuhi hawa nafsu terbesarku, penginnya makan melulu. Astaghfirullahal ‘adziim…

Miftah, kamu pasti bisa! Harus komitmen dengan target, jangan terbujuk dengan rayuan syetan dan hawa nafsu!!! Target sampai selesai kuliah nanti, pokoknya harus bisa beli laptop dan sepeda motor pakai uang sendiri. Ganbatte!!!

bank – kit !!!

“Kegagalan itu seperti luka di lutut. Sakit sekali memang, tetapi akan cepat sembuh dengan sendirinya”

“Cukup gagal sekali saja, tetapi tidak untuk yang kedua kalinya”

Saatnya meninggalkan medan kata-kata menuju medan amal nyata

Sosok pahlawan yang kucari

3 tahun yang lalu….

Sang surya telah tenggelam tergantikan sang rembulan. Suasana malam yang sunyi semakin indah oleh langit yang bermandikan bintang-bintang. Ditambah lagi dengan suara jangkerik, katak, dan belalang yang tidak henti-hentinya mendendangkan lagu favoritnya. Belum lagi ditambah dinginnya malam yang menusuk sampai ke tulang. Padahal melihat tubuhmu yang kurus dan kering, aku tak tega. Dalam kegelapan malam kau terus-menerus berjuang, tak kenal lelah. Walaupun hanya bertemankan 3 kerbau yang dengan penuh kasih sayang engkau rawat. Yah,, kau harus menggembalakan kerbau di malam hari karena paginya harus membajak sawah.

Terdengar suara ketukan pintu sekitar jam 11 malam. Oh,, ternyata kau, ayahku! Alhamdulillah,, kau pulang juga. Setelah mandi dan berganti pakaian, langsung kau rebahkan badanmu di depan TV. Yah,, kami terbiasa tidur bersama di depan ruang TV bareng dengan ketiga adikku dan ibuku karena tidak ada tempat tidur untuk kedua orang tuaku. Palingan hanya sebuah kamar untuk aku dan adikku. Tapi, kami lebih senang tidur di depan TV bersama ayah dan ibu. Yah,, begitulah tidur sehari-hariku bersama keluargaku. Walaupun sangat sederhana tapi aku sangat bersyukur.

Jarum jam telah menunjukkan angka 3, kau pun bangun paling awal. Langsung kau ambil air wudhu dan kau tunaikan shalat tahajud. Setelah selesai salat tahajud, kau langsung membawa 3 kerbaumu ke ladang untuk digembalakan lagi. Rumput semalam dirasa masih belum cukup mengenyangkan kerbau-kerbaumu karena siang ini kau harus mempekerjakannya sampai matahari tegak di atas kepala. Tentu saja kau menahan dinginnya udara di malam hari.

Tak terasa sang fajar pun dengan gagah berani menunjukkan tajinya. Kau pun langsung bersiap-siap pulang ke rumah dan shalat subuh. Setelahnya, kau langsung bersiap-siap ke sawah. Ketika bangun tidur, aku pun sudah tidak melihat batang hidungmu.

Dari pagi sampai adzan dhuhur terdengar kau sibuk membajak sawah dengan kedua kerbaumu. Heyah…heyah…heyah !!! Sesekali terdengar suaramu menyemangati kerbau-kerbaumu sambil mencambuknya. Pernah suatu hari kulihat kau dengan tubuh kecilmu berjuang seharian di bawah panas terik matahari.

Yah,, itulah kau ayahku yang kucinta dan kubanggakan. Aku salut padamu. Berhari-hari kau bekerja siang malam untuk menghidupi aku, 3 adik, dan ibuku. Pernah suatu hari ibuku bercerita tentangmu. Saat kau masih muda, kau dikenal oleh teman-temanmu sebagai orang yang pintar di sekolah dan juga rajin mengaji. Namun, ternyata kau bersekolah tanpa sepengetahuan ayahmu. Dengan alasan mau ke pondok pesantren, kau ternyata sambil bersekolah di suatu SMK. Kau terpaksa menitipkan seluruh buku-bukumu di rumah temanmu. Sampai suatu hari, aktivitasmu itu ketahuan juga oleh ayahmu. Sambil merengek-rengek, kau minta kepada ayahmu supaya mengijinkanmu sekolah. Tapi,, ternyata sekolahmu harus berhenti padahal beberapa bulan lagi kau harus menghadapi ujian kelulusan SMK.

Belum sampai di situ kelebihanmu. Kata ibuku juga, kau terus bersabar di saat ada beberapa warga sibuk memusuhimu. Kejadiannya adalah saat kau kehilangan sabitmu dan ternyata ada yang sengaja mengambilnya. Tapi, apa reaksimu? Kau hanya berdoa semoga Allah menambahkan rizkimu. Subhanallah,, air mata ini pun mulai mengalir. Pernah juga saat aku diterima di salah satu Perguruan Tinggi terbaik di negeri ini, ada warga yang selalu meledekmu. Tapi apa reaksimu? Kau hanya berdoa semoga dilapangkan dadamu dan tak bergeming sedikitpun. Lagi-lagi aku bukan tahu itu darimu tapi dari ibuku. Kalau aku hanya sendirian, mungkin aku sudah menangis sekeras-kerasnya.

Dan kini aku telah hampir tiga tahun merantau di Kota Kembang, menuntut ilmu di sebuah institut yang aku sendiri sebelumnya tak yakin bisa mencicipinya bukan karena minder dengan kecerdasan mahasiswanya, tetapi ngeri dengan biayanya. Dan 2 tahun lagi, aku berjanji akan memberi kado istimewa untukmu. Tunggulah saatnya nanti. Doakan yah! Dan salah satu doaku,” Semoga Allah memberkahimu dan mengumpulkan aku, adik dan ibuku di surga-Nya kelak!” Amin

Ayahku…salut padamu! ^_^
My father,, I really love u.

Senin sore, di sela-sela mengerjakan makalah dan teringat engkau.

Shalat Seperti Nabi

Judul Buku      : “Shalat Seperti Nabi SAW” (Shahih Shifat Shalat an-Nabi)

Pengarang      : Hasan bin ‘Ali as-Saqqaf

Penerjemah     : Drs. Tarmana Ahmad Qosim

Kategori          : Fiqh

Penerbit           : Pustaka Hidayah

Tahun Terbit   : 2004

Edisi                : November 2004

Waktu baca     : 26 – 29 Juli 2007

Kesan              : Alhamdulillah, setelah mengetahui gerakan shalat beserta dalil-

dalilnya menjadikan saya semakin mantap dalam shalat. Sebelum saya

mengenaldalil-dalilnya mungkin saya hanya sekedar taqlid dalam

menjalankannya. Bahkan masih ada gerakan dalam shalat saya yang

belum sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Semoga buku ini bermanfaat

bagi umat islam untuk kembali mengikuti sunnah Rasulullah SAW

lewat shalatnya.

Resensi :

Shalat seperti Nabi SAW

(Shahih Shifat Shalat an-Nabi)

Ajaran Islam yang paling penting untuk dipelajari dan diajarkan kepada orang lain adalah shalat. Hal ini antara lain pernah ditegaskan oleh junjungan kita, Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadist sahih dan kuat, “Aku didatangi Jibril as pada awal-awal turunnya wahyu kepadaku. Dia mengajarkan kepada wudhu dan shalat.” Di sisi lain nabi pun pernah bersabda,”Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat shalatku.”

Dalam upaya mengikuti tuntunan Rasulullah saw itu, berbagai kitab dan ajaran bermunculan. Kemunculan berbagai pendapat yang beragam mengenai sifat shalat Nabi in telah banyak menimbulkan kebingungan di kalangan umat, bahkan percekcokan dan perpecahan. Perbedaan itu muncul sebenarnya hanya karena perbedaan pemilihan hadist dan riwayat. Buku ini berusaha menjelaskan sifat shalat junjungan kita, Muhammad SAW, seoptimal mungkin, menjelaskan setiap bagian shalat dari takbir hingga salam. Penjelasan tersebut dibuat secara rinci dan jelas dengan menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami. Setiap masalah dikupas dengan dalil-dalil yang lengkap, dengan menggunakan hadist-hadist yang shahih. Penulis memberikan komentar terhadap hadist-hadist lemah yang sering digunakan oleh sebagian orang untuk menguatkan pendapatnya. Disamping itu, ia juga menjelaskan kandungan fiqhiyah dari hadist-hadist sahih sebagai suatu kesimpulan hukum darinya.

Semua pertanyaan atas hukum dijelaskan dengan sejelas-jelasnya. Untuk menguatkan penjelasan tersebut, dikutip perkataan dan pendapat para ulama, baik mereka sebagai penghafal Al-Qur’an dan hadist maupun sebagai pakar hadist yang terkenal kemampuannya dalam mengambil kesimpulan hukum, dan yang temasyhur dalam hal ketelitiannya mengenai cacat-cacat hadist, mereka yang terbukti dapat membedakan hadist shahih dari hadist lemah.

Dengan semua cara itu, penulis mencari dalil yang paling kuat, sehinggal dengan rahmat Allah swt buku ini akan tampil sebagai buku yang paling istimewa di bidangnya. Buku ini melebihi buku-buku lain yang sejenis, bahkan menyingkup berbagai kesalahan dan kekeliruan kitab-kitab sebelumya.