Membangun Bangsa Melalui Keluarga Sadar Arsip

Pengantar

Arsip memiliki banyak nilai guna dan peran dalam kehidupan. Arsip berupa akte kelahiran biasa digunakan untuk mengurus kartu keluarga atau pendaftaran siswa baru. Contoh lain dari peran arsip dalam ruang lingkup yang lebih besar adalah sengketa antara Pemda Cilacap dengan Pemda Kebumen menyangkut status Tanah Timbul di Alur Sungai Bodho. Sengketa wilayah mengemuka saat munculnya rencana Pemda Kebumen membangun pelabuhan ikan di Sungai Bodho yang berdekatan dengan Objek Wisata Pantai Logending Kebumen. Rencana tersebut terpaksa dibatalkan karena di tempat itu telah berdiri Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Jetis yang dibangun Pemda Cilacap. Tanah timbul di alur Sungai Bodho telah bertahun-tahun diklaim sebagai Wilayah Cilacap. Sengketa tersebut akhirnya terselesaikan  berkat bantuan peta buatan Belanda tahun 1931 yang disimpan oleh Kodam IV Diponegoro yang menunjukkan Tanah Timbul tersebut adalah milik Pemda Kebumen dan dulunya terpisah dari daerah Cilacap. Saat terjadi sengketa, tanah tersebut menyatu dengan daerah Cilacap sehingga diklaim milik Pemda Cilacap  (Kedaulatan Rakyat, 20 Juni 2002). Mengingat pentingnya nilai guna dan peran arsip tersebut, maka budaya membuat arsip harus ditanamkan sejak kecil mulai dari lingkungan keluarga.

Suatu hari penulis bertanya kepada kedua orang tua tentang tanggal lahir mereka ketika mengisi formulir pendaftaran siswa baru SMP. Mereka pun spontan menjawab Bapak lahir tahun 1955 dan Ibu lahir tahun 1965, sementara tanggal dan bulannya mereka tidak mengetahui. Mereka tidak mengetahuinya karena kakek dan nenek penulis tidak pernah membuatkan akte kelahiran ataupun surat lahir. Kemudian penulis bertanya lagi apakah mereka masih menyimpan ijazah kelulusan sekolah. Mereka pun mengatakan tidak menyimpannya.

Akan tetapi, penulis kemudian menjumpai hal yang berbeda pada kedua orang tua penulis dibanding kakek dan nenek penulis. Nomor, tanggal, bulan, dan tahun penulis maupun adik-adik penulis tertulis di pintu bagian dalam kamar penulis. Ayah dan Ibu juga menyuruh untuk selalu menyimpan buku-buku sekolah dan kertas-kertas hasil ujian. Bahkan, beberapa kitab kuning Ayah ketika mengaji di pesantren juga masih tersimpan di kamar penulis. Alhasil, kebiasaan Ayah menyimpan berkas-berkas menjadi kebiasaan yang rutin dilakukan penulis hingga saat ini.

Hal di atas merupakan contoh bahwa lingkungan keluarga sangat mempengaruhi pembentukan karakter individu yang sadar arsip.   Penanaman arti penting arsip dapat dimulai dari lingkungan keluarga karena keluarga merupakan tiang pokok masyarakat yang menyusun sebuah bangsa. Baik buruknya bangsa ditentukan oleh bagaimana karakter keluarga-keluarga penyusunnya. Bangsa yang peduli dengan kearsipan berarti kumpulan keluarganya peduli terhadap kearsipan pula. Dalam pembentukan karakter bangsa yang peduli arsip, keluarga merupakan lingkungan yang sangat berpotensi karena antaranggota keluarganya cukup sering berinteraksi.

Pembentukan karakter individu yang sadar arsip dilakukan melalui dua metode yang saling menyokong yaitu keteladanan orang tua dan melalui kebiasaan. Teladan dari orang tua merupakan metode yang efektif. Perkembangan seorang anak pada awalnya adalah mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya. Bahkan, pada tahap kehidupan anak selanjutnya ketika seorang anak menghadapi masalah tidak jarang dia meminta nasihat kepada orang tua. Aktivitas kearsipan di dalam keluarga harus dibiasakan secara terus menerus. Kebiasaan terus-menerus itulah yang akan menjadi karakter individu yang kelak ketika bertemu dengan karakter individu yang lain akan menjadi masyarakat dan bangsa.

Arsip Dalam Keluarga

Sebenarnya banyak yang bisa diarsipkan dalam keluarga. Mungkin yang biasa kita arsipkan adalah dokumen-dokumen yang memang sering dibutuhkan seperti ijazah, akte kelahiran, ataupun surat nikah  yang dipakai untuk mengurus kepentingan-kepentingan yang lain misalkan pembuatan kartu keluarga, pendaftaran siswa baru, asuransi kesehatan, atau jual beli tanah. Selain itu, hal-hal lain yang bisa diarsipkan antara lain catatan atau foto perkembangan anggota keluarga dari kecil hingga dewasa.

Perkembangan seorang anak perlu diarsipkan karena anak adalah investasi besar pembangunan dan tentu saja untuk kemanusiaan secara keseluruhan. Oleh karena itu, perencanaan yang baik terhadap anak-anak perlu dilakukan. Proses pelaksanaannya bisa dilakukan dalam sebuah map yang berisi seluruh masalah yang penting diperhatikan, seperti tanggal dan sejarah kelahiran anak, nomor kelahiran, jadwal pemberian obat dan makanan, surat keterangan dokter, keterangan atau catatan tentang kondisi sakit secara detail, ijazah anak-anak, dan catatan seputar prestasi anak-anak di sekolah.

Arsip kesehatan bisa memuat perkembangan kesehatan dari mulai saat lahir hingga ia dewasa, pola makan, dan penyakit yang diderita anak sejak lahir. Surat keterangan atau resep dokter yang memeriksa anak-anaknya dihimpun agar kelak jika mereka terkena penyakit yang sama, mereka dapat dibawa ke dokter yang mengobatinya. Surat resep dokter tersebut bisa saja dilengkapi dengan catatan kecil mengenai kondisi kesehatan dan lamanya meminum obat.

Aspek lain yang bisa diarsipkan antara lain bidang pendidikan. Prestasi seorang anak perlu diarsipkan untuk mengetahui bagaimana perkembangan anak dalam bidang pendidikan. Dengan data yang dimiliki tersebut bisa diketahui kelebihan maupun kekurangan anak. Dengan melihat arsip tentang kebiasaan anak, orang tua juga bisa memberikan masukan tentang gaya belajar yang cocok bagi anak. Misalkan saja seorang anak dengan tipe belajar kinestetik harus diarahkan untuk lebih sering mencatat ketika di kelas, anak dengan tipe auditorial bisa diarahkan untuk belajar sembari menggunakan music atau menyanyi, dan anak dengan tipe belajar visual bisa diarahkan dengan gaya membaca dan warna. Pelajaran dengan nilai yang baik maupun yang jelek bisa dipantau sehingga dalam menentukan masa depan pendidikan anak bisa melihat potensi dan kemampuan anak sehingga prestasi akademik bisa optimal. Misalkan saja seorang anak dengan kemampuan matematika dan ilmu pengetahuan alam yang tinggi bisa diarahkan ke dalam bidang kehidupan yang dominan membutuhkan kedua pengetahuan tersebut.

Pengarsipan perkembangan anak oleh orang tua selain bermanfaat bagi orang tua dalam rangka memberikan perhatian kepada anak juga untuk memberikan pembelajaran kearsipan kepadanya. Dengan begitu, dia akan merasa bahwa orang tuanya memperhatikan dia. Ketika anak menginjak remaja atau dewasa, dia bisa belajar menghargai orang lain juga. Pengarsipan diri anak dalam jangka waktu yang lama misalkan dari SD sampai SMP diharapkan juga menjadikan anak bersifat terbuka terhadap saran dan kritik kelak ketika dewasa. Ketika anak menginjak masa-masa SMA atau kuliah, anak juga akan berpikir bahwa orang tua memandang serius terhadap kearsipan sehingga diharapkan kelak anak juga akan melakukannya.

Pembelajaran tentang kearsipan juga bisa dilakukan dengan cara mendidik anak untuk menulis pengalaman yang dia alami sehari-hari. Pendidikan arsip tidak dilakukan secara paksa tetapi dengan membuat anak menyenanginya. Kemudian, anak diarahkan untuk mengubah kesenangan tadi menjadi karya nyata. Dengan melakukannya secara terus-menerus akan terbentuk kebiasaan dalam mengarsipkan hal-hal  tertentu. Kebiasaan itulah yang kelak akan menjadi karakter mencintai arsip ketika kelak dia dewasa baik dalam ruang lingkup yang kecil sampai ruang lingkup masyarakat dan bangsa.

Penutup

Membangun budaya mencintai arsip membutuhkan usaha yang terus-menerus. Budaya itu bisa dimulai dengan kebiasaan mengarsipkan diri sendiri dalam bentuk arsip tekstual  (tulisan) maupun arsip non-tekstual (film, foto, denah, peta, dan lain-lain). Lingkungan yang berpotensi untuk membangun budaya tersebut adalah lingkungan keluarga. Kebiasaan mengarsipkan kejadian sehari-hari tersebut harus dilakukan secara terus-menerus sehingga lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan dan kemudian menjadi karakter. Apabila karakter tersebut telah terpatri dalam setiap individu dalam keluarga, budaya pengarsipan dalam ruang lingkup yang lebih besar seperti masyarakat dan bangsa akan terbentuk.

Daftar Rujukan

Anis Matta, Muhammad. 2003. Model Manusia Muslim: Pesona Abad ke-21. Bandung: Asy-Syaamil.

Basuki, Ari. 2008. Eksplorasi Arsip Untuk Transfer Pengetahuan dan Penelitian Bagi Masyarakat. Yogyakarta: Buletin Kearsipan “Khazanah” Volume I No 1, September 2008.

Lili Nur Aulia, Muhammad. 2007. Cinta di Rumah Hasan Al Banna. Jakarta: Pustaka Da’watuna.

Zaenuddin. 2009. Membangun Budaya Arsip Demi Menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yogyakarta: UGM Archieves, 11 Juni 2009.

PERAN XL DALAM MENINGKATKAN KUALITAS GURU DI DAERAH PEDALAMAN

Dentuman bom mengguncang dua pelosok kota negeri Sakura. Setelah bom atom dijatuhkan oleh tentara sekutu hingga membuat kedua kota itu luluh lantak, Sang Kaisar Jepang, Hirohito, dengan penuh kekhawatiran langsung bertanya pada pusat informasi. Tahukah Anda apa yang dia tanyakan? Ternyata Sang Kaisar bukan menanyakan berapa jumlah tentara, tank, kapal tempur, pesawat tempur yang ada atau jumlah daerah kekuasaan Jepang yang masih tersisa. Yang dia tanyakan adalah berapa jumlah guru yang masih hidup?

Luar biasa! Begitu fahamnya pemahaman Sang Kaisar tentang arti penting seorang guru. Sang Kaisar tidak putus asa negerinya luluh lantak karena banyak guru yang masih hidup. Alhasil, Jepang kembali bangkit dari keterpurukan dan tidak lama kemudian menjadi negara maju dengan mengoptimalkan peran para guru.

Arti penting guru

Guru menjadi ujung tombak dalam proses pendidikan di sekolah. Proses transfer ilmu dilakukan dengan keberadaan seorang guru. Selain itu, guru juga berperan dalam memberi semangat kepada anak didiknya untuk terus belajar. Kegiatan belajar mengajar dapat diselenggarakan dengan keberadaan seorang guru kendatipun tidak ada gedung sekolah. Akan tetapi, kegiatan belajar mengajar tidak akan terselenggara tanpa seorang guru kendatipun tersedia gedung sekolah yang megah. Hal inilah yang menjadi landasan pikiran Ho Chi Min (Bapak Pendidikan Vietnam) bahwa No Teacher, No Education. No Education, No  Economic and Social Development.

Begitu besarnya peran seorang guru, tanpanya proses pembelajaran bangsa tidak akan dapat berjalan. Proses pembentukan karakter individu sebagai bahan dasar sebuah bangsa juga dilakukan oleh seorang guru. Guru juga menjadi penyambung sejarah perjuangan bangsa. Perjuangan heroik para pejuang bangsa dapat diterima generasi muda bangsa salah satunya lewat pendidikan oleh guru di sekolah.

Guru di Daerah Pedalaman

Banyak sekolah memiliki guru yang selalu bersemangat mengajar bahkan tidak pernah absen mengajar serta jumlahnya banyak. Hal tersebut hanya terdapat di daerah perkotaan dan sekitarnya dengan akses informasi dan transportasi yang relatif mudah. Akan tetapi, hal tersebut tidak berlaku di daerah pedalaman. Contohnya seperti yang terjadi di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Tiga puluh (30) dari 338 sekolah dasar (SD) di kabupaten tersebut hanya mengandalkan seorang guru tiap sekolahnya. Seorang guru tersebut merangkap sebagai kepala sekolah, guru kelas, dan guru mata pelajaran. Sekolah tersebut terpaksa meminta bantuan para guru yang telah pensiun untuk mengajar kembali di sekolah-sekolah tersebut. Fenomena tersebut juga terjadi di SD Negeri di wilayah pedalaman dusun Gun Jemak di daerah tapal batas Kalimantan Barat-Sarawak (Malaysia). Sekolah tersebut hanya memiliki seorang guru yang bernama Joni. Joni sempat 3,5 tahun mengajar murid dari kelas satu sampai enam sendirian saja, tanpa ada guru lain yang membantunya. Ia mengajar murid-murinya dengan cara menggabungkan enam kelas ke dalam tiga ruang kelas. Untuk kelas satu digabung dengan kelas dua, kelas tiga digabung dengan kelas empat, dan kelas lima dengan kelas enam.

Fenomena lain juga terjadi di SD Negeri 63 Toho Paloh, Desa Rasan, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.  Sekolah ini sering libur karena tidak ada satupun guru yang datang mengajar. Padahal, menurut catatan yang ada di sekolah itu, ada enam guru yang bertugas di sana. Dua di antaranya pegawai negeri (PNS), sedangkan empat lainnya sebagai guru honorer. Guru-guru yang mengajar di Toho Paloh itu umumnya tinggal di Ngabang, ibu kota Kabupaten Landak. Awalnya ada guru PNS yang mau tinggal di dekat sekolah, tetapi kemudian mereka memilih tinggal di Ngabang sehingga pelajaran menjadi tidak rutin.

Ada beberapa persoalan yang menyebabkan berbagai persoalan di atas. Persoalan tersebut disebabkan karena faktor eksternal maupun internal. Factor eksternal yang banyak dikeluhkan oleh guru yang enggan mengajar antara lain lokasi terpencil dengan jalan yang masih belum beraspal. Tidak jarang jika musim penghujan banyak dari guru yang jatuh dari sepeda motor karena jalan yang teramat sulit dan licin. Sebagian besar SD yang ada di pedalaman terletak di daerah terpencil yang sangat sulit dicapai dengan minimnya akses menuju sekolah dan tidak adanya sarana transportasi yang dapat mencapai sekolah. Sebagai contoh adalah SDN 63 Toho Paloh. Toho Paloh dan ibu kota Ngabang berjarak sekitar 80 km. Waktu tempuh yang diperlukan sekitar tiga jam karena kondisi jalan buruk. Selepas jalan aspal dan berbatu pada 15 kilometer pertama dari Ngabang, jalan tanah dan berlumpur adalah satu-satunya akses menuju Toho Paloh dan beberapa dusun lain di Desa Rasan. Contoh lain adalah SDN 2 Sendang yang terletak di dusun ngantup Desa Nyawangan, Kecamatan Sendang, Tulungagung, Jawa Timur. SD ini terletak di daerah perkebunan karet dan terletak di puncak gunung. Untuk mencapai SD ini harus melewati jalan yang tajam dan berkelok-kelok dengan jarak tempuh sekitar 35 km dari wilayah Kota Tulungagung. Sementara itu, SD 16 di pedalaman Dusun Gun Jemak, Kabupaten Sanggau, Kalbar hanya bisa ditempuh menggunakan alat transportasi sungai seperti speed boat atau sampan, yang waktu tempuhnya delapan jam dari ibu kota Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau.

Sementara itu, faktor internal berasal dari guru itu sendiri. Banyak tenaga guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang enggan mengabdikan dirinya di daerah pedalaman. Hal itu disebabkan kebanyakan guru sudah kehilangan idealismenya sebagai seorang guru sejati. Kalau guru memiliki idealism tinggi, tanggung jawab dan komitmen sebagai seorang guru pasti akan berupaya semaksimal mungkin memajukan siswanya. Seorang guru punya idealism untuk memikirkan persoalan pendidikan yang selama ini menjadi suatu permasalahan serius di Indonesia. Guru-guru yang sudah diangkat menjadi PNS tinggal di kota dan jarang sekali mengajar dengan alasan akses jalan yang sulit dan minimnya transportasi untuk menjangkau daerah pedalaman tersebut.

Peran XL Dalam Meningkatkan Kualitas Guru di Daerah Pedalaman

Agar proses pendidikan di daerah dapat tetap berlangsung, kualitas guru di daerah pedalaman harus ditingkatkan. Kualitas guru tersebut meliputi kualitas pendidikan guru, kualitas (dan kuantitas) pendapatan, dan kualitas pengabdian guru. Hal ini bisa menjadi salah satu program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan seperti XL baik oleh perusahaan secara mandiri maupun bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat. Dengan kepedulian XL terhadap pendidikan di daerah pedalaman, diharapkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah juga terpanggil hatinya dan lebih serius lagi dalam mengemban amanah UUD’45 adalah memenuhi hak setiap warganya untuk mendapatkan pendidikan secara layak.

Hal yang bisa dilakukan antara lain dengan memberikan penghargaaan kepada guru-guru yang telah mengabdi di daerah terpencil atau pedalaman. Penghargaan ini diberikan dalam rangka memberikan semangat kepada guru-guru yang mengajar di daerah pedalaman. Mungkin salah satu kegiatan XL Award pada tahun-tahun mendatang adalah berupa penghargaan atas perjuangan dan pengorbanan guru-guru yang mengajar di daerah pedalaman. Secara psikologi, pemberian penghargaan ini akan memacu guru-guru di daerah pedalaman untuk semangat dalam mengajar. Semangat ini penting mengingat hal tersebut akan menular kepada anak didiknya. Hal ini juga sesuai dengan fitrah manusia yang pada dasarnya adalah menyukai penghargaan dan perhatian.

Selain itu, XL mungkin dapat membuat program percontohan dengan memfokuskan pada satu sekolah di suatu daerah pedalaman tertentu seperti Sekolah XL. Sekolah tersebut dilengkapi dengan fasilitas yang mempernudah guru dan murid dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Para guru juga diberikan pelatihan-pelatihan seperti motivasi mengajar dengan mengundang trainer-trainer. Dengan pelatihan ini diharapkan guru-guru menjadi lebih serius dalam mengemban amanah sebagai pendidik bangsa. Sekolah tersebut juga dilengkapi dengan rumah untuk guru sehingga mereka tidak perlu pulang pergi menempuh jarak puluhan kilometer. Sekolah XL tersebut juga harus memiliki satu orang guru atau kepala sekolah sebagai pelopor dan selalu semangat dalam mengajak guru-guru yang lain dalam mendidik generasi penerus bangsa.

Selama ini, sedikit sekali calon guru yang mau mengajar di daerah pedalaman karena gaji yang tidak mencukupi untuk biaya hidup sehari-hari. Seikhlas apapun seorang guru dalam mengajar bahkan tidak mendapat balasan, mereka juga membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam Sekolah XL tersebut, guru diberikan gaji yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bersama keluarganya.

 

Referensi :

http://blog.unnes.ac.id/ikaluck

http://pendakigunung.wordpress.com

Saepudin, Aep. 2007. Guruku, Jangan Dipolitisi! Bandung: National Leadership Youth Forum 2007, Masjid Salman ITB.

11 Oktober 2010

Memandang laut takjub abadi
Gelombang ombak terjang samudra hidup
Maksud diri hiasi hati
Tapi garam buat luka tertutup

Evaluasi Amanah Dewan Santri Pesantren Mahasiswa Miftahul Khoir

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban kelak di hari Kiamat, seorang pemimpin pemerintahan adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang rakyatnya, suami adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang anggota keluarganya, istri adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang rumah tangga suaminya serta anak-anaknya, dan seorang pembantu adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang harta benda majikannya, ingatlah bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban kelak di hari Kiamat.” (HR Muttafaq ‘alaih, dalam Lu’lu wal Marjan hadits no. 1199)

“Ada 4 perkara yang jika semuanya ada pada dirimu maka tidak berbahaya bagimu apa yang terlepas darimu dalam dunia: Benar ketika berbicara, menjaga amanah, sempurna dalam akhlaq, menjaga diri dari meminta.” (HR Ahmad dalam musnadnya 2/177; Hakim dalam al-Mustadrak 4/314 dari Ibnu Umar ra; berkata Imam al-Mundziri ttg hadits ini: Telah meriwayatkan Ahmad, Ibnu Abi Dunya, Thabrani, Baihaqi dengan sanad yang hasan, lih. At-Targhib wa Tarhib 3/589)

Kamis, 15 Jumadil Awwal 1431 H atau 29 April 2010 M adalah saat pertama kali saya bersama Ginan Alfian (STIE EKUITAS), Ahmad Rijal Sholehuddin (Institut Manajemen Telkom), dan Yayan Cahyana (Universitas Komputer) diamanahi sebagai Dewan Santri Pondok Pesantren Mahasiswa Miftahul Khoir Bandung. Saya sendiri diamanahi sebagai Ketua Dewan Santri, Ginan sebagai komisi A bertanggung jawab menampung aspirasi santri dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan Pesantren seperti ustadz, masyarakat, dan yayasan, Rijal sebagai komisi B yang bertanggung jawab mengontrol keberjalanan Pengurus Santri, dan Yayan Cahyana sebagai komisi C yang bertanggung terhadap amandemen AD/ART atau melaksanakan Musyawarah Santri. Yayan sendiri akhirnya harus keluar dari Dewan Santri karena menjadi Sekretaris Santri dan sampai sekarang masih belum menemukan penggantinya.

Ada beberapa program yang harus dilaksanakan oleh Dewan Santri, diantaranya adalah :

  1. Stiker Do’a (Komisi B)
  2. Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Tengah Tahun Pengurus Santri & Dewan Santri (Komisi B)
  3. Pembuatan database warga sekitar pesantren (Komisi A)
  4. Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pengurus Santri & Dewan Santri (Komisi B)
  5. Pembuatan buku pesantren (Komisi C)

Berdasarkan evaluasi keberjalanan program, hanya stiker do’a yang baru berjalan. Dalam pelaksanaannya berbenturan dengan program Divisi Syiar – Pengurus Santri khususnya Panitia Ramadhan. Alhasil Dewan Santri harus turun tangan secara langsung dalam kepanitiaan khususnya di divisi Publikasi dan Dokumentasi (PubDok). Sangat aneh memang dalam suatu organisasi sebuah lembaga yang seharusnya bertugas mengawasi dan mengarahkan malah ikut bekerja bersama pengurus harian.

Dewan santri juga kadang harus terjun langsung dalam mengurusi penerimaan santri baru. Hal ini disebabkan kurang tanggapnya pengurus santri selain Divisi Sumber Daya Manusia (SDM). Idealnya ketika ada calon santri yang mendaftar semua santri harus melayaninya. Kenyataannya selama ini yang sering mengurusi adalah Rois, DSDM, dan kadang Dewan Santri. Belum lagi kejadian lain seperti Ginan yang merangkap sebagai Ketua Panitia Ramadhan 1431 H.

Hal tersebut tentu saja dilakukan karena mempertimbangkan pelaksanaan amanah dalam Islam (hukum syar’i) yang harus lebih diutamakan dibanding secara struktur (hukum adat). Apalagi organisasi santri di Pondok Pesantren Mahasiswa Miftahul Khoir masih jauh dari organisasi ideal seperti di kampus. Kedekatan secara emosional di antara pengurus santri dan dewan santri juga menimbulkan perasaan tidak tega jika pengurus santri dibiarkan bekerja sendirian. Alhasil baik pengurus santri maupun dewan santri bekerja bersama-sama (bukan bekerja sama). Kelemahan system ini adalah kurang sistem kontrol terhadap keberjalanan program-program pesantren. Dewan santri pun akhirnya lupa dengan peran yang semestinya dijalankan.

Langkah ke depan

Peran ganda pengurus dewan santri akan dikurangi dan fokus pada pelaksanaan program dewan santri seperti pembuatan database warga dan LPJ tengah tahun. Komisi C juga harus diisi oleh anggota baru dari santri lama. Teladan dari pengurus dewan santri dalam rangka pembinaan syakhsiyah islamiyah (kepribadian Islam) antara lain menjadi muadzin masjid dan rajin ta’lim. Ketua Dewan Santri juga harus lebih sering diskusi dengan Rois, pengasuh, maupun yayasan untuk membicarakan pengembangan pesantren ke depannya.

Pengendalian Hawa Nafsu

Cinta kita kepada Allah SWT dan keyakinan bahwa kehidupan di dunia ini suatu saat akan berakhir dan di akhirat nanti masing-masing kita harus mempertanggungjawabkan setiap detik perjalanan hidup di dunia, memiliki andil yang sangat besar dalam mengendalikan kecenderungan hawa nafsu.

Suatu saat terjadi dialog antara Rasulullah SAW dengan Hudzaifah Ra. Rasulullah Saw bertanya kepada Hudzaifah. Ya Hudzaifah, bagaimana keadaanmu saat ini? Jawab Hudzaifah: “Saat ini saya sudah benar-benar beriman, ya Rasulullah”. Rasul kemudian mengatakan, “Setiap kebenaran itu ada hakikatnya, maka apa hakikat keimananmu, wahai Hudzaifah?” Jawab Hudzaifah: Ada “dua”, ya Rasulullah. Pertama, saya sudah hilangkan unsur dunia dari kehidupan saya, sehingga bagi saya debu dan mas itu sama saja. Dalam pengertian, saya akan cari kenikmatan dunia, lantas andaikata saya dapatkan maka saya akan menikmatinya dan bersyukur kepada Allah SWT. Tapi, kalau suatu saat kenikmatan dunia itu hilang dari tangan saya, maka saya tinggal bersabar sebab dunia bukanlah tujuan. Bila ia datang maka Alhamdulillah, dan bila ia pergi maka, Innalillaahi wa inna ilaihi raji’un. Yang kedua, Hudzaifah mengatakan, “setiap saya ingin melakukan sesuatu, saya bayangkan seakan-akan surga dan neraka itu ada di depan saya. Lantas saya bayangkan bagaimana ahli surga itu me-nikmati kenikmatan surga, dan sebaliknya bagaimana pula ahli neraka itu merasakan azab neraka jahanam. Sehingga terdoronglah saya untuk melakukan yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang-Nya”.

Mendengar jawaban Hudzaifah ini, Rasul langsung saja memeluk Hudzaifah dan menepuk punggungnya sambil berkata, “pegang erat-erat prinsip keimananmu itu, ya Hudzaifah, kamu pasti akan selamat dunia akhirat”. Bila kita cermati dialog tersebut, paling tidak, ada “dua” hikmah yang bisa kita petik. Pertama, iman kepada Allah, dengan mencintai Allah itu di atas cinta kepada selain Allah. Dan yang kedua, selalu membayangkan akibat dari setiap perbuatan yang dilakukan di dunia bagi kehidupan yang abadi di akhirat nanti.

Di dalam beberapa ayat, Allah SWT menjelaskan tentang sifat-sifat orang-orang yang muttaqin, mereka di antaranya adalah yang meyakini akan adanya kehidupan akhirat. Orang yang beriman akan adanya kehidupan akhirat, akan membuat dia mampu mengendalikan kecenderungan hawa nafsunya. Sebaliknya, orang-orang yang tidak meyakini akan adanya kehidupan akhirat, “Mereka tidak pernah takut dengan hisab Kami, dan mereka telah mendustai ayat-ayat Allah dengan dusta yang nyata.” (An Naba’, 78 : 27-28)

Di dalam Alquran, Allah SWT mengisahkan dialog sesama Muslim di akhirat yakni antara Muslim yang ahli surga dengan Muslim berdosa yang masuk dalam neraka jahanam. Muslim yang langsung masuk surga bertanya kepada Muslim berdosa yang masuk ke dalam neraka. “Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka ? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan hingga datang kepada kami kematian.” (Al Muddatstsir, 74 : 42-46)

Menurut Alquran, kebanyakan orang-orang yang kufur adalah mereka yang akhir hidupnya penuh dengan kemaksiatan. Ini terjadi karena mereka tidak mengimani bahwa kehidupan mereka akan berakhir di alam akhirat dan mereka harus mempertanggungjawabkan seluruh aspek kehidupan mereka selama di dunia. Demikian pula, Allah SWT mengisahkan kesombongan Fir’aun dan orang-orang yang menyembahnya, “Sombonglah Fir’aun itu dengan seluruh pengikutnya di muka bumi tentu dengan alasan yang tidak benar. Dan mereka mengira, bahwa mereka tidak akan pernah kembali kepada Kami.” (Al Qashash, 28 : 39)

Kesombongan Fir’aun berakhir saat sakaratul maut. Saat dia menyadari bahwa dia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Ketika rombongan malaikat yang bengis-bengis itu mendatanginya saat dia sedang berada di tengah laut, yang dikisahkan para malaikat itu langsung memukul wajah dan punggung mereka. Allah SWT berfirman: “..Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (Al An’aam, 6 : 93)

Pada saat sakaratul maut itu, Fir’aun menyatakan: “Sekarang saya benar-benar beriman dengan Tuhannya Nabi Musa dan Harun”. Namun saat sakaratul maut pintu taubat sudah ditutup. Karena sudah tidak ada lagi ujian keimanan, sebab yang ghaib termasuk alam dan makhluk ghaib sudah terlihat nyata. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (Qaaf, 50 : 22)

Orang yang beriman kepada Allah dan beriman kepada hari pembalasan/akhirat, yang diharapkan dapat mengendalikan kecenderungan hawa nafsunya untuk hanya mencintai yang dicintai Allah dan membenci yang dibenci Allah, yang hanya mencintai sesuatu di dunia jika yang dicintainya itu dicintai Allah SWT.

Dalam sebuah hadis dikisahkan, suatu ketika pada siang hari, Sayidana Umar ra. berkunjung ke rumah Rasulullah SAW di mana saat itu Rasul sedang tidut beristirahat, dengan dada telanjang. Ketika beliau bangun tampaklah pada punggungnya garis-garis merah karena kasarnya alas tidur beliau yang dibuat dari pelepah kurma. Melihat pemandangan ini, Sayidina Umar menangis. Beliau yang terkenal keras saat itu luluh hatinya ketika melihat Rasulullah dalam kondisi seperti itu. Rasul bertanya: “Apa yang membuat kamu menangis wahai Sayidina Umar ? “Umar berkata:” saya malu ya Rasulullah, engkau adalah pemimpin kami, engkau adalah Rasul Allah, manusia pilihan, manusia yang dimuliakan-Nya. Engkau adalah pemimpin ummat, namun engkau tidur di atas alas yang kasar seperti ini, sementara kami yang engkau pimpin tidur di atas alas yang empuk. Saya malu ya Rasusulullah, selayaknya engkau mengambil alas tidur yang lebih dari ini”. Rasul menjawab: “Apa urusan saya dengan dunia ini? Tidak ada! Urusan diri saya dengan dunia ini kecuali seperti orang yang sedang mengembara dalam musim panas menempuh sebuah perjalanan yang cukup panjang, lalu sekejap mencoba bernaung di bawah sebuah pohon yang rindang untuk sekejap melepas lelah. Setelah itu dia pun kemudian pergi meninggalkan tempat peristirahatannya”. Kata Rasul: haruskah saya korbankan kehidupan yang abadi hanya untuk bernaung sejenak menikmati itu? (HR. Ahmad, Ibnu Habban, Baihaqi)

Selain kisah di atas, ada kisah lain yang layak kita renungkan di mana suatu ketika Khalifah Umar kedatangan putranya, Abdullah, yang meminta dibelikan baju baru. Secara spontan saja Sayidina Umar langsung marah sambil mengatakan: “Apakah karena kamu seorang anak Amirul Mu’minin lantas kamu ingin bajumu selalu lebih baik dari anak-anak yang lain ? Jawab Abdullah: Tidak! Saya khawatir malah kondisi saya ini akan menjadi fitnah, menjadi bahan cemoohan orang lain di mana anak Amirul mu’minin pakaiannya tidak pernah ganti-ganti, sebab dia hanya memiliki dua baju, di mana bila yang satu dipakai maka yang satu dicuci dan seterusnya. Sayidina Umar berkata: “Baiklah Nak, saya ingin belikan kamu baju baru hanya saja ayah saat ini tidak punya uang. Untuk itu kamu saya utus menemui “Khoolin Baitul Maal’ (bendahara negara), sampaikan kepada beliau salam dari ayah dan katakan pula bahwa ayah bermaksud mengambil gajinya bulan depan untuk membelikan kamu baju baru. Abdullah langsung menemui bendaharawan negara dengan mengatakan: “Ada salam dari ayah. Dan, ayah minta supaya gaji bulan depan bisa diserahkan saat ini untuk membelikan saya baju baru”. Bendaharawan tersebut mengatakan: “Nak, sampaikan kembali salamku kepada ayahmu, dan katakan bahwa aku tidak bersedia mengeluarkan uang itu”. Tanyakan kepada ayahmu, apakah ayahmu yakin sampai bulan depan beliau masih menjabat Amirul Mu’minin, sehingga berani mengambil uang gajinya bulan depan sekarang ? Andaikata dia yakin sampai bulan depan dia masih Amirul Mu’inin, yakinkah sampai besok dia masih hidup, bagaimana kalau besok ia meninggal dunia padahal gajinya bulan depan sudah dikeluarkan. Mendengar jawaban bendahara negara yang demikian itu, pulanglah Abudullah segera menemui ayahnya sambil menyampaikan pesan dari bendaharawan tersebut.

Mendengar penuturan anaknya, Umar langsung menggandeng tangan anaknya sambil mengatakan, antarkan saya menemui bendaharawan tadi. Begitu sampai di hadapan bendaharawan tersebut, Sayidina Umar langsung memeluknya, sambil mengatakan, terima kasih, saudara telah mengingatkan saya terhadap satu keputusan yang nyaris saja salah. Demikianlah kisah Sayidina Umar dan masih banyak lagi kisah lain dari perjalanan hidup para sahabat yang patut kita teladani untuk menghadapi dinamika kehidupan yang terus berkembang mengikuti perputaran zaman.

Allah SWT telah mengingatkan tentang bahayanya manusia-manusia yang menjadikan dunia ini sebagai tujuan hidupnya, “Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya.” (An Naazi’aat, 79 : 39) “Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nyadan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk” (An Najm, 53 : 29-30)

Akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat yang sedemikian mulianya bisa terwujud tiada lain karena adanya benteng keimanan yang sangat kuat dan kokoh. Semoga kita bisa meneladani apa yang menjadi perilaku Rasul dan para sahabatnya. Amin!

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber :http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/dakwah/09/10/23/84360-pengendalian-hawa-nafsu

Adab Berjalan Kaki Menurut Ajaran Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Suatu hari Khalifah Umar bin Khattab RA melihat seorang pemuda berjalan seperti orang sakit. Lalu, Umar pun bertanya kepada pria itu, “Apakah engkau sedang sakit?” Pemuda itu menjawab, “Tidak.” Mendengar jawaban itu, Umar mengangkat cambuknya dan memukul pemuda itu. Ia lalu memerintahkan anak muda itu untuk berjalan dengan tegap. Dalam sebuah hadis dari Anas bin Malik dikisahkan Rasulullah SAW telah memberi contoh berjalan yang baik. “Sesungguhnya Rasulullah SAW berjalan dengan tegar.” (HR Muslim). Ketika berjalan, Nabi Muhammad SAW mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi karena beliau berjalan dengan tegap. Saking tegapnya, Nabi SAW seakan-akan berjalan dengan bertumpu pada pangkal telapak kakinya. Rasulullah berjalan dengan tegap, tak loyo dan tak seperti berjalan orang sakit atau perempuan. Kemampuan berjalan merupakan karunia yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya. Kisah di atas menggambarkan bahwa Islam pun mengatur tata cara atau adab berjalan yang baik. Setiap Muslim apabila sedang berjalan untuk sesuatu urusan diharuskan menjaga adab berjalan. Lalu seperti apakah adab berjalan yang diajarkan Islam itu? Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada secara rinci menjelaskan adab berjalan dalam kitabnya Mausuu’tul Aadaab al Islamiyah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Ensiklopedi Adab Islam Menurut Alquran dan Sunah. Berikut adalah adab berjalan sesuai tuntunan Islam: Pertama, niat yang benar. Seorang Muslim hendaklah berniat yang benar ketika hendak berjalan. Niatkan berjalan itu untuk tujuan yang baik itu sebagai ibadah dengan mengharapkan ridha dari Allah SWT. “Apabila berjalan hendak ke masjid, niatkan untuk beribadah kepada Allah. Jika berjalan untuk bekerja, niatkan untuk mencari rezeki yang baik dan halal untuk keluarga,” tutur Syekh Sayydi Nada. Bahkan, ketika akan berjalan untuk suatu permainan yang diperbolehkan, kata dia, hendaklah berniat untuk mencari penyegaran agar jiwa kembali segar dan bersemangat untuk beribadah. Menurut Syekh Sayyid Nada, dengan menghadirkan niat yang benar, maka akan mencegah seorang Muslim dari berjalan untuk sesuatu yang haram. Kedua, tak berjalan untuk suatu yang haram. Sesungguhnya, kedua kaki akan memberi kesaksian berbicara pada hari kiamat. Untuk itu, hendaklah menghindar dari berjalan untuk sesuatu yang dilarang agama. Sebab, setiap ayunan langkah kita menuju sesuatu yang diharamkan akan berbuah dosa. Ketiga, bersikap tawadhu dan tak sombong ketika berjalan. Ketiga, bersikap tawadhu dan tidak sombong. Allah SWT berfirman dalam Alquran Surah Al Israa ayat 37: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” Dalam surah Lukman ayat 18, Allah SWT berfirman: “… Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi de ngan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” Ibnu Katsir mengingatkan agar seorang Muslim membanggakan diri, sombong, takabur dan keras kepala, karena Allah akan murka. Keempat, berjalan normal. Hendaklah seseorang berjalan normal, yakni pertengahan antara berjalan terlalu lambat dan terlalu cepat. Ibnu Katsir menjelaskan, berjalan normal adalah berjalan secara biasa. Tidak terlalu cepat dan tak terlalu lambat. “Pertengahan di antara ke duanya.” Kelima, tak menoleh ke belakang. Dalam Shahiihul Jaami dikisahkan bahwa Nabi Muhammad SAW apabila berjalan tidak menoleh ke belakang. Menoleh ke belakang saat berjalan dapat membuat seseorang bertabrakan, tergelincir serta bisa juga dicurigai oleh orang yang melihatnya. Keenam, tak berpura-pura lemah ketika berjalan. Berpura-pura lemah ketika berjalan dengan maksud untuk dilihat orang lain dilarang dalam Islam. Selain itu, juga tak boleh berpura-pura sakit ketika berjalan, karena dapat mengundang kemarah an Allah SWT. Ketujuh, berjalan dengan kuat. Setiap Muslim harus berjalan dengan tegap seperti yang dicontohkan Nabi SAW. Menurut Syekh Sayyid Nada, cara berjalan seperti Rasulullah SAW lebih dekat kepada roh Islam. “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah SWT, dibandingkan mukmin yang lemah,” tuturnya. Kedelapan, menghindari cara berjalan yang tercela. Contoh berjalan yang tercela itu antara lain; berjalan dengan sombong dan takabur, berjalan dengan gelisah dan gemetaran; berjalan dengan loyo seperti orang sakit; berjalan meniru lawan jenis; berjalan terburu-buru dan terlalu cepat; serta berjalan seakan-akan melompat. Kesembilan, tidak berjalan dengan satu sandal. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian memakai sandal, maka hendaknya memulai dari yang kanan. Apabila ia melepasnya, maka mulailah dari yang kiri. Pakailah kedua-duanya atau lepaskanlah kedua-duanya.” Kesepuluh, bertelanjang kaki sesekali waktu. Bertelanjang kaki termasuk tanda tawadhu di hadapan Allah SWT. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Nabi SAW memerintahkan kami agar kadang kala bertelanjang kaki.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan an-Nasa’i). Menurut Syekh Sayyid Nada, bertelanjang kaki adalah perkara yang baik, syaratnya tidak terdapat najis pada tanah serta sesuatu yang dapat menyakiti kedua telapak kaki.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/islam-digest/10/07/10/124133-adab-berjalan-kaki-menurut-ajaran-islam

Sepakbola dan Pergerakan Islam

Muhamad Miftachudin

Ketua Dewan Santri Pondok Pesantren Mahasiswa Miftahul Khoir Bandung

Piala Dunia 2010 sudah mendekati puncaknya dengan 4 negara yang bertanding di babak semifinal yaitu Jerman melawan Spanyol dan Uruguay menantang Belanda. Dari empat negara tersebut, kemenangan meyakinkan diperoleh Jerman atas lawan-lawannya. Di babak penyisihan grup, Jerman berhasil melumat Australia 4-0, kalah 0-1 dari Serbia, dan menang atas Ghana 1-0. Jerman kembali menang meyakinkan atas Inggris dengan skor 4-1 di babak perdelapanfinal serta membantai tim kuat Argentina dengan skor 4-0 di babak perempatfinal.

Kekompakan tim Jerman terbukti bisa mengalahkan tim sekelas Argentina yang lebih mengandalkan kemampuan individu para pemain depannya. Pencetak gol kemenangan Jerman antara lain Thomas Muller (pemain tengah), Miroslave Klose (pemain depan) dengan dua golnya, dan Arne Freidrich (pemain belakang) juga tidak ketinggalan dengan 1 golnya. Pelatih Jerman, Joachim Loew, lebih mengandalkan perpaduan antara pemain muda berpotensi dengan beberapa pemain senior. Dan hasilnya, Jerman pun mampu memporak-porandakan Argentina.

Seiring dengan semakin dekatnya final Piala Dunia, umat Islam pun akan memperingati peristiwa besar yang terjadi 14 abad yang lalu yaitu peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW pada tanggal 27 Rajab 1431 H atau 10 Juli 2010 M. Kalau kita membuka kembali kalender Hijriyah 89 tahun yang lalu pada tanggal yang sama, kita akan menjumpai peristiwa jatuhnya Khilafah Islam. Kekhalifahan Turki Utsmani yang merupakan bentuk formal negara Islam secara resmi dibubarkan oleh seorang agen Inggris keturunan Yahudi yang bernama Mustafa Kemal Pasha pada tanggal 27 Rajab 1342 H atau 3 Maret 1924 M. Khilafah Islam pun dihapus dan diganti dengan Republik Turki yang menganut asas sekular-demokratis.

Tim sepakbola Islam

Setelah runtuhnya Khilafah Islam, sebagian umat Islam yang dimotori oleh para ‘ulama berusaha untuk mendirikan kembali negara Islam, termasuk di Indonesia. Spirit untuk membuat peradaban Islam kembali menjadi ustadziatul ‘alam (guru bagi alam semesta) inilah yang mendorong munculnya banyak jamaah dari umat Islam (jama’atul minal muslimin). Jamaah-jamaah yang bermunculan di Indonesia antara lain Nahdlatul ‘Ulama, Muhammadiyah, Tarbiyah, Hizbut Tahrir, Salafi, Jama’ah Tabligh, Persatuan Islam (Persis), Front Pembela Islam (FPI), dan masih banyak lagi jamaah yang lain. Jamaah-jamaah tersebut meyakini spirit bahwa kelak akan tegak kembali khilafah seperti yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya.

“...kemudian akan muncul (lagi) khilafah yang mengikuti sistem kenabian.”(HR Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Kendatipun jamaah-jamaah Islam tersebut memiliki tujuan yang sama, mereka menempuh jalan perjuangan yang berbeda-beda. Tidak jarang karena perbedaan tersebut menyebabkan terjadinya konflik. Salah satu konflik yang terjadi akhir-akhir ini adalah ada sebuah jamaah melalui medianya menuduh jamaah lain yang terjun di perjuangan politik praktis sebagai penipu karena tidak mampu berbuat banyak untuk ummat dan terkesan seperti tidak memperjuangkan Islam.

Konflik antarjamaah seharusnya tidak perlu terjadi jikalau setiap jamaah menyadari peran dan tugasnya masing-masing. Ibarat sebuah tim sepakbola, setiap jamaah menempati posisinya masing-masing. Ada jamaah yang berposisi sebagai striker yang tugas utamanya adalah ‘mencetak gol’. Jamaah-jamaah tersebut selain membina masyarakat juga berjuang lewat ranah siyasi (politik) untuk merebut kekuasaan Islam seperti perjuangan yang dilakukan oleh PKS, PPP, PAN, dan PKB. Jamaah tersebut berupaya membawa ‘spirit masjid’ dalam ranah pemerintahan. Adapula jamaah yang tidak berkecimpung dalam politik praktis tetapi berperan dalam menyadarkan masyarakat melalui sosialisasi khilafahnya. Adapula jamaah yang secara tidak disadari juga telah berperan sebagai pemain belakang dalam menjaga pertahanan masyarakat dari bahaya kemaksiatan dan upaya-upaya penghancuran moral generasi muda Islam.

Seperti halnya tim sepakbola yang ingin mendapatkan kemenangan, kerjasama dan kekompakan antarjamaah pun sangat dibutuhkan untuk mencapai kemenangan perjuangan Islam. Apabila ada salah satu jamaah yang lengah dalam berjuang maka kewajiban jama’ah yang lain adalah mengingatkan secara langsung bukannya malah mencaci-maki. Apabila suatu jamaah terdapat kekurangan dalam hal cabang agama, maka kewajiban jamaah yang lain adalah memperbaiki kekurangan tersebut dari dalam jamaah yang terdapat kekurangan. Apabila perbaikan tidak mungkin dilaksanakan, persatuan umat harus lebih diutamakan.

Kerjasama antarjamaah dalam menegakkan Islam melalui sistem bottom-up (masyarakat menuju khilafah) dan top-down (khilafah mengatur masyarakat) juga perlu upaya sinergisasi. Kalaulah hanya mengandalkan perjuangan top-down nampaknya kekuatan Islam belum signifikan. Empat partai berasas Islam yang berjuang di legislatif baru mencapai 191 kursi (dari 576 kursi DPR atau 742 kursi MPR). Jumlah tersebut tidak mencapai syarat yang diperlukan untuk mengusulkan undang-undang syariat Islam karena syarat minimalnya adalah 1/3 anggota MPR. Belum lagi undang-undang syariat Islam akan diberlakukan harus disetujui oleh sekurang-kurangnya lima puluh persen ditambah satu anggota dari seluruh anggota MPR. Oleh karena itu, sangat masuk akal jika perubahan di ranah politik belum terlalu signifikan.

Mungkin akan terasa indah jika antarjamaah bisa saling memuji dan menghargai setiap amal perjuangan yang dilakukan. Dan bukan tidak mungkin kekompakan antarjamaah bisa seperti Jerman yang dengan kekompakan timnya berhasil mengalahkan lawan-lawan yang tangguh. Apabila demikian, bukan tidak mungkin khilafah Islam akan lebih cepat diraih dan kesejahteraan umat manusia khususnya di Indonesia akan tercapai.



Komitmen Shalat Berjama’ah di Masjid

Aku berlindung dari godaan syaithan yang terkutuk

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Mulai 21 Rajab 1431 Hijriyah atau 5 Juli 2010 Miladiyah, saya akan berkomitmen shalat berjama’ah di Masjid dan sedapat mungkin tidak tertinggal takbir pertama hingga 30 Sya’ban 1431 H atau 10 Agustus 2010 M.

Semoga Allah memberikan kekuatan dan keistiqomahan pada diri yang lemah ini. Amiin

Gaza Akan WIsuda 12 Ribu Penghafal Al-Quran

REPUBLIKA.CO.ID,GAZA–Hampir 12 ribu penghafal alquran di Jalur Gaza, setelah mereka menyelesaikan tahap akhir pemantapan selama 60 hari berturut-turut. Mereka tersebar pada ratusan pusat penghafal tahfidz Al-Qur’an di Gaza. Termasuk kamp-kamp pengungsian yang dijadikan halaqah-halaqah hifdzil Qur’an.

Mereka menamakan halaqah-halaqah tersebut “Generasi Qur’ani Untuk Al-Aqsha” yang berada dibawah pembiayaan pemerintah Palestina pimpinan Ismael Haneya dan langsung dibawah pengawasan departemen waqaf dan urusan agama Palestina.

Halaqah-halaqah ini mendapat sambutan luar biasa dari warga. Mereka berlomba-lomba mendaftarkan anak-anaknya pada halaqah tersebut, hingga banyak diantara para perserta yang ditolak, karena tempatnya sudah tak menampung lagi.

Sukses Besar
Sementara itu, Dr. Thalib Abu Syaer, menteri waqaf dan urusan agama Palestina mengatakan, kami sedang berupaya mewisuda sejumlah penghafal Alqur’an, setelah sebelumnya sukses selama beberapa tahun terakhir dan tentu kami merasa bangga.

Dalam wawancaranya dengan pusat infopalestina, menteri waqaf mengatakan, jauh-jauh hari kami sudah merencanakan dan menyusun perangkat-perangkat yang diperlukan dalam program kamp qur’ani. Ia berharap programnya ini bisa sukses.

Ia menyebutkan, ada sekitar 870 penghafal Alqur’an yang tersebar di 272 pusat tahfidz Alqur’an di Jalur Gaza (Rafah, Khanyunis, Gaza Tengah, Gaza, Gaza Utara).

Ia mengisyaratkan, pihaknya sedang mempersiapkan perhelatan akbar dan spektakuler untuk memberkan penghargaan pada para penghafal Al-Qur’an. Ia mengungkapkan, bangga atas prestasi para penghafal tersebut. Ini adalah kebiasaan yang baik yang digalakan pemerintah Palestina melalui menteru waqaf dan urusan agama secara khusus.

Peningkatan kemampuan dalam membaca dan menghafal
Di sisi lain, Dr. Abdullah Abu Jarbu deputi departemen waqaf mengatakan, proyek hifdzil Alqur’an yang dilakukan departemen waqaf ini bertujuan secara langsung mencetak para penghafal Alqur’an, disamping meningkatkan bacaan dan mereka, melalui penghafalan Alqur’an.

Dr. Abu Jarbu’ menjelaskan, ada sejumlah mahasiswa yang mempunyai predikat al-hafidz. Pihaknya sangat memperhatikan masalah ini dengan memunculkan bakat dan kemampuan mereka dalam menghafal Alqur’an. Mereka dipersiapkan untuk mengikuti kamp musabaqah tilawatil alqur’an regional dan internasional yang dapat mengangkat derajat Palestina di dunia internasional.

Proyek Besar
Di pihak lain, Diyab Radhi, seorang warga Palestina di Gaza sangat menghargai langkah yang dilakukan departemen waqaf dan urusan agama. Ia mengucapkan terima kasih pada pemerintah dalam hal ini, yang telah mengadakan program kamp hifdzil Alqur’an.

Ia menambahkan, kami telah menunggu dengan shabar musim panas tiba untuk memulai proyek besar ini dan agar kita bisa membentuk anak-anak kita dan selanjutnya kita membantu mereka untuk menghafal alqur’an dalam waktu tertentu.

Red: Krisman Purwoko
Sumber: info palestina

Membangun Rumah Tangga yang Qurani

Assalamu’alaykum. Karena beberapa permintaan, berikut saya salinkan catatan Taujih Mabit 24-25 April 2010 di Masjid Raya Habiburrahman.  Dalam catatan taujih ini, tidak seutuhnya kata-kata panjang  dari Ustadz Aziz dituliskan, hanya ide-ide dari kalimat panjang tersebut dicatatkan dikarenakan tidak adanya alat perekam, sehingga kadangkala ada beberapa kalimat utuh yang disalin pas juga adakalanya memakai kata-kata pencatat. Untuk beberapa ayat yang dijelaskan Ustadz, dicoba untuk dicari ayatnya dari Alqur’an digital, walau tak semuanya. Semoga bisa menjadi inspirasi, penggerak dan amal jariyah pagi kita semua secara umum dan dari pencatat secara khusus untuk membangun cita-cita besar kita semua, segerombolan besar keluarga Qur’ani yang berkumpul bersama di surga Alloh.. “Fabiayyi haditsin ba’dahu yukminuun..” (akhir Al Mursalat)

­_______________________________________________________________________________

Membangun Rumah Tangga yang Qur’ani

Taujih Ba’da Isya, Oleh Ust. Abdul  Aziz Abdur rauf, Al-Hafidz. Lc.

Alhamdulillah.. washolatu wassalamu’ala rosulillah.. wa’ala alihi washohbihi wamawwalah..

BAB 1 PENGERTIAN DAN CIRI KELUARGA QUR’ANI

Dalam bagian akhir surat Alfurqon, ayat 74, “.. robbanaa hablanaa min azwaajina wadzurriyyaatina qurrota a’yun waja’alnaa lilmuttaqiiyna imaama”. Yang artinya kurang lebih,”Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai qurrota’ayun dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.”

Dari ayat ini, bahwa dalam keluarga qur’ani itu ada cita-cita mensholehkan keturunan.  Bukan hanya anak saja, bahkan sampai keturunan keberapa pun, sudah menjadi cita-cita keluarga qur’ani.

Bahkan, sampai anak yang akan datang 100 tahun mendatang pun, sudah menjadi pemikiran orang-orang beriman. Seperti do’anya Nabi Ibrahim:

Robbana wab’ats fiyhim rosuulamminhum yatlu ‘alayhim aayaatika wayu ‘allimuhumul kitaaba wal hikmata wayuzakkiyhim innaka antal ‘aziyyzul hakiim”, yang artinya “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”.

Hasil do’a Nabi Ibrahim itu baru 1 abad kemudian dikabulkan Alloh dengan diutusnya Rasulullah Saw.

Itulah yang dimaksud dengan “…wadzurriyyaatina..”  pada akhir surat Alfurqon ayat  tadi, adalah semua yang menjadi garis keturunan kita. Juga di do’a Nabi Ibrahim di Q.S. Ibrahim: 40, “Robbij ‘alniy muqiiymassholaati wamin dzurriyyaati…”.

Seorang nabi Ibrahim yang tauhidnya kuat luar biasa berdo’anya kepada Alloh ingin agar dirinya dan keturunannya menjadi orang yang “muqiiymassholaati” (mendirikan sholat). Kalau Nabi Ibrahim aja yang tauhidnya kuat ingin supaya seperti itu, kita yang tauhidnya tak sekuat Nabi ibrahim, seharusnya lebih utama lagi agar diri kita dan keturunan kita “muqiiymassholaati” (mendirikan sholat).

Sebab jika posisi “muqiiymassholaati” kita dapatkan, apa saja yang gak kita dapatkan di dunia ini, ga akan rugi yang hakiki. Sehinga, jangan pernah terpikir menjadi muqimassholati itu hal yang biasa karena sekelas Nabi ibrahim pun, sangat mendamba-dambakan hal itu.

dzurriyyah” itu adalah kata yang sangat umum.  Karena kata cucu dalam bahasa arab, jika cucu yang dihasilkan oleh anak laki-laki =asbat. Kalau cucu yang dihasilkan oleh anak perempuan = ahfad. Tapi kalau cucu yang sampai sekian banyak keturunan kita = dzurriyyah. Nah, yang kita minta kepada Alloh adalah keturunan yang sampai ketika telah di liang lahat pun supaya mereka keturunan  itu mendapat hidayah Alloh.

Sampai saking Ibrahim mendamba-dambakan “…muqimassholati..” itu , doanya diakhiri dengan “…robbana wataqobbal du ‘a.”.. karena “…muqimassholati..”itu strategis dalam kehidupan akhirat dan dunia.

Karena amal-amal akhlaq pun timbul merupakan dampak dari “…muqimassholati..”. Orang yang tertarik sholat sunnah pasti karena dampak “…muqimassholati..”. Orang yang berakhlak baik pastilah karena dampak “…muqimassholati..”.  Oleh sebab itu, jadikan “…muqimassholati..”sebagai kebutuhan mendasar diri kita.

Kesadaran berdo’a untuk keluarga dijadikan Allah sebagai bukti keimanan yang semakin baik. Allah menggambarkan di bagian akhir Q.S. Alfurqon sebagai ‘ibadurrahman.

Pada bagian akhir surat alfurqon itu, disebutkan hamba-hamba Alloh yang langsung tersibghoh dengan ajaran-ajaran Allah, yang terwarnai dengan akhlaknya, takutnya dengan api neraka, sifatnya yang perhatian dengan masalah ekonominya, perhatian terhadap keluarganya, tidak hanya keluarga dia tapi hingga keluarganya yang akan datang hingga sekian tahun mendatang.

Keturunan itu menjadi qurrota a’yun ( menyejukkan mata) bahkan keinginannya, keturunan ga hanya menjadi orang yang bertaqwa, tapi jadi pemimpinnya orang yang bertaqwa. Berarti harus ada ketaqwaan yang luar biasa dan istimewa sehingga layak sebagai pemimpin orang-orang yang bertaqwa.

Saat berdo’a ini, kita harus bisa menghilangkan kondisi riil diri kita (kondisi lingkungan dan diri) apalagi do’a ini adalah do’a yang diajarkan langsung oleh Alloh dan yang memanjatkan do’a ini adalah orang-orang yang istimewa di sisi Alloh.

Jadi, modal utama pertama bagi rumah tangga Qur’ani adalah : Addu’a (Do’a).

-> dengan do’a itu, kita punya keyakinan/pengakuan yang utuh bahwa Allah itu maha kuasa mengatur kehidupan kita, istri dan anak.

-> bagi yang sudah punya anak, kita rasakan pengaruh game komputer itu begitu luar biasanya pada anak. Gimana bisa cinta Alqur’an klo gitu. Tapi..sudah.. kembalikan pada Allah sambil kita terus berusaha.

Do’a itu diletakkan Alloh sebagai silahul mu’min (senjata orang2 mukmin). Makna senjata ini aslinya adalah bahwa kita ga berdaya menghadapi dunia ini sehingga kita butuh do’a.

Dari keluarga qur’ani itu, ciri utamanya adalah mendirikan sholat. Tentunya dalam pelaksanaannya akan terus berkembang sesuai perkembangan keimanan. Manusia akan beramal sesuai perkembangan keimanannya.  Kalau sholat 5 waktu terus, maka akan meningkat menjadi juga sholat sunnat. Lalu kan meningkat lagi, solat 5 waktunya akan agak lama’an. Itu kalau imannya meningkat semakin kuat, ini akan membuat orang semakin enak dirinya bersama Allah Swt.

Rumah tangga qur’ani itu fokus utamanya adalah gimana agar satu sama lain saling tolong menolong dalam ketaatan kepada Alloh Swt.  Karena ada rumah tangga yang fokus utamanya nyari duiit aja. Ada juga rumah tangga yang fokus utamanya memenuhi hobi saja.

Terkait hal ini, sehingga ada hadist = Rosulullah saw bersabda : “Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun malam, kemudian mengerjakan sholat dan membangunkan istrinya (agar ikut mengerjakan sholat malam/sunnah tahajud), lantas jika istrinya enggan, maka ia memerciki wajahnya dengan air. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun malam kemudian mengerjakan sholat malam dan membangunkan suaminya (agar mengerjakan sholat malam), lantas jika suaminya enggan, maka ia memerciki wajahnya dengan air.” (HR. Abu Dawud (1308) dan Ibnu Majah (1335)).

Insya Allah kalau baik suami dan istri dua-duanya memahami hadist ini, maka percikan itu adalah percikan cinta. Soalnya ada kasus saat istrinya dipercikin air, malah jadi ribut, karena istrinya menganggap suaminya nyari gara-gara mengganggu ketenangan tidur atau melanggar HAM. Sehingga pastikan istri antum juga pernah membaca hadist ini. Harus ada keseimbangan, suami maupun istri harus tahu hadist ini.

Ini adalah bukti bahwa fokus keduanya adalah amal sholeh. Ini adalah kriteria paling MINIMALIS untuk keluarga Qur’ani.

KRITERIA KEDUA dari keluarga qur’ani adalah punya fokus utama interaksi dengan Qur’an itu sendiri. Semua anggota keluarga punya interaksinya sendiri yang langsung terhadap Alqur’an ini.

“Innalladzi na yatluuna kitaaballoohi wa aqoomusshoolata wa anfaquu mimma rozaqnaahum sirrow wa’ala niyatan yarjuwna tijaarotanlantabuur” yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,” [Q.S. Fathir:29].

Ini kalau dirintis akan menumbuhkan kesadaran. Kalau tilawah qur’an terus dilakukan, akhirnya akan tumbuh rasa belum puas sehingga tumbuh kesadaran untuk lebih intens

Karena ga’ akan hafal betul kalau pengulangannya kurang dari 350 kali. Ada orang yang merasa cepat lupa ketika menghafal, sebenarnya sederhana, bacanya kurang dari 350 kali. Seperti surat al ikhlas, ga bakal lupa insya Alloh, karena pembacaannya sudah lebih dari 350 kali. Juga alamtarokayfafa’ala,  insya Alloh ga bakal lupa karena pengulangannya sudah lebih dari 350 kali. Kalaupun lupa, paling Cuma sekali dan akan ingat terus insya Alloh.

Bayangkan kalau hal itu kita lakukan untuk Albaqoroh, Ali imron. Insya Alloh surah-surah itu akan senasib dengan surat al-ikhlas yang insya Alloh ga dimuroja’ah ga akan lupa.

Jadi bisa dibayangkan pahala dari menghafal, sebab orang akan baca ayat itu dalam bilangan/jumlah yang luar biasa.

Semakin meningkat lag interaksinya, hafalan itu akan jadi tadabbur yang baik. Semakin meningkat lagi, akan jadi kemampuan memahami tafsirnya.

YANG KE-TIGA, selain ia menjadikan qur’an sebagai perhatian utama, ia juga terjun memperjuangkan qur’an ini dalam kehidupannya.

Kalau yang ke-1 dan ke-2 sudah dilakukannya, ia belum puas kalau rumah tangga qur’ani cuma keluarga dia saja.  Rumah tangga lain juga kalau bisa merasakan kenikmatan Alqur’an ini. Atau Rumah tangga qur’ani yang berfungsi bila semua rumah tangga ini aktif mengajak ummat kepada alqur’an.

Betapa resikonya amat banyak ketika mengajak yang lain kepada Alqur’an ini. Ada resiko ga dihargai orang lain, boro-boro orang mau terima kasih, malah bisa orang salah faham. Tapi kartena ia sudah kuat prinsipnya: melakukan perbuatan ini buka untuk menerima balasan dan walau syukuro/ terima kasih dari orang lain.

Kebahagiaan keluarga itu adalah ketika orang lain yang ga sholat bisa sholat, yang ga bisa baca qur’an jadi bisa baca qur’an. Sebab kebaikan ga akan sempurna kalo belum ada kesolehan kolektif. Di Al a’rof, “walau aamana ahlul quroo aamanu wattaqow…” . Dari ayat ini, penduduk suatu negeri, perlunya keimanan dan ketakwaan yang bersama, baru akan “lafatahnaa ‘alaykum barokaa…”

Yang ke-3 ini, keluarga yang senantiasa berfikir bagaimana orang lain bisa soleh. Siap dalam model kehidupan yang bagaimana saja, itu ga mempengaruhi dirinya, yang penting ia selalu merasakan hidayah pada orang lain yang belum dapat hidayah. Maka orang seperti ini, aslinya adalah orang yang paling kaya.

Dalam Hadist, “….”, (yang maknanya bahwa) 1 orang yang dapat hidayah karena peranmu/ do’amu, kamu kan peroleh yang lebih baik daripada dunia dan seisinya.

Tinggal pilih yang mana dari 3 ini. Kalau yang 1  mau dirintis, insya Alloh ia akan naik ke tingkat yang 2, dan kalau dirintis lagi, ia akan naik ke tingkat 3.

Yang ke-3 ini, seperti keluarga para Sahabat Nabi. Contoh: keluarga Abu Thalhah yang istrinya Ummu Sulaim. Kesabarannya ketika Abu Thalhah pulang, ia bilang bahwa titipan Alloh telah diambil. Ia bersabar saja. Karena kesabaran itu, Alloh ganti dengan 10 anak lain yang kulluhum yaqroo’unal qur’an. Yang sepuluh-sepuluhnya bisa melaksanakan qur’an senganbaik.

Itulah semua (penjelasan) tentang pengertian keluarga qur’an. Selanjutnya kita akan bahas tentang keutamaan keluarga Alqur’an.

BAB 2. KEUTAMAAN RUMAH TANGGA QUR’ANI

Pertama, agar benar-benar kehidupan yang sementara ini, alfauzu fiddunya, kalau bisa diisi dengan qur’an, kehidupan yang sebentar ini jadi bernilai tinggi di sisi Alloh.

Ringkasnya, Alqur’an mendudukkan rumah tangga dalam kehidupan yang positif dan negatif (potensi posifif dan negatif). Yang positig, kita sudah hampir semua hafal di qur’an Arrum:21. Yaitu: litaskunuu ilayha, waja’ala mawaddakum, dan warohmah.

Tetapi potensi dalam diri kita bukan hanya itu saja. Kita juga punya potensi marah-marahan, kesel keselan, bosen-bosenan, karena diri kita itu di Q.S.Attaghobun “inna min azwaajikum wa awlaadikum ‘aduww…”. Rumah tangga itu peperangan. Di ayat ini, dikatakan bahwa istri dan anak sebagai musuh. Jadi, jangan dikira bahwa keluarga itu positif semua. Karena di dalamnya ada nuansa permusuhan yang Allah sebut dia yat lain sebagai fitnah.

Intinya, ada kenikmatan, ada ujian. Manusia ga akan lulus ujian kecuali kehidupan ini dioptimalkan amal sholehnya.

Kalau di keluarga itu dipadatkan 3 hal kriteria ini (melaksanakan perintah Alloh, punya fokus interaksi dengan Alqur’an dan menda’wahkan qur’an), maka peran setan dan peran hawa nafsu akan kecil. Sehingga ntar yang dominan adalah : Litaskunuu ilayha, mawaddah, dan warohmah.

Jika pada diri itu tidak dikuatkan 3 hal ini (melaksanakan perintah Alloh, punya fokus interaksi dengan Alqur’an dan menda’wahkan qur’an), maka yang (Litaskunuu ilayha, mawaddah, dan warohmah) timbul hanya dari sisi kemanusiaan saja. Karena yang namanya manusia, dengan sendirinya sudah diberi Allah benih litaskunu, mawaddah dan warohmah dari sisi kemanusiaannya,( punya rasa cinta, kasih sayang, dsb.).

Tapi, benih ini mudah hilang dan dominan hawa nafsu dan setan. Dan jika dah dominan ini, maka ga akan berlangsung lama Litaskunuu ilayha, mawaddah, dan warohmah-nya.

Semua orang merasakan nikmatnya sesuatu kalau sedikit. Seperti eskrim itu enak kalau sedikit, kalau seember disuruh habiskan sekali ga enak. Kalau mengandalkan adanya (Litaskunuu ilayha, mawaddah, dan warohmah) hanya dari sisi kemanusiaan saja, wajar kalau 1 tahun nikah kemudian cerai, dsb.

Sebaliknya kalau keluarga it dibangun dengan ketaatan kepada Alloh, maka rumah tangga itu dibangun oleh 2 hal:

1. oleh benih kemanusiaannya

2. hubungan dengan Alloh yang akan menetralisir hawa nafsu dan setan sehingga semua konflik akan terselesaikan/terlupakan.

Karena Alloh punya (Litaskunuu ilayha, mawaddah, dan warohmah) yang tidak habis-habisnya. Allah itu al ghofuurul waduud. (Waduud=banyak cintanya).

Insya Alloh kalau kita akses Alloh sekuat-kuatnya, maka sifat Allah akan mewarnai rumah tangga. Insya Alloh akan menjadi rumah tangga yang kokok dan kuat dan bisa merasakan sebagian kenikmatan surga di dunia.

Bagaimana dengan kehidupan akhiratnya? Insya Alloh, Alloh akan memberikan keistimewaan pada keluarga yang senantiasa hidup dengan Alqur’an. Diantaranya: ALLAH AKAN MEMBERI KEUTUHAN KELUARGA ITU HINGGA AKHIRAT NANTI.

Sebagai contoh, kalau saat lebaran, akan kurang terasa kalau salah satu dari suami atau istri ga kumpul bareng., misalnya suami/istrinya telah lebih dahulu dipanggil Alloh. Ini kumpul yang paling cuman sehari, paling juga Cuma sampe dzuhur ied itu. Paling terasa kalau berkumpul/menyatu dengan keluarga. Padahal baru kenikmatan lebaran saja.

Bisa dibayangkan ga kalau di surga itu sendirian,  Suami/ istri di neraka dan anak di neraka pula? Nikmat ya nikmat, tapi kalo ga ngumpul lagi, ga utuh kenikmatannya. Makanya do’anya para malaikat pada keluarga (yang qur’ani-pen) ini adalah agar rumah tangga itu seperti yang disebutkan di Q.S. 40:7-8. Supaya terus ngumpul sampe akhirat. Kalo dimasukin surga, masukin rame-rame aja sekeluarganya.

Ketika ada perhatian khusus pada Alqur’an, qur’an akan berfungsi sebagai syafaat. Arti syafaat adalah punya hak untuk bisa menolong orang lain. Walaupun mungkin bobotnya ga sama. Misalnya: Bapaknya rajin baca qur’an walau ga sampe hafal, tapi anaknya sampe hafal. Maka ini beda bobot saja. Kalau Bapaknya masuk neraka, insya Alloh masih bisa jadi syafaat. Jadi ada syaratnya agar qur’an itu bisa jadi syafaat, yaitu harus ada kesamaan dalam kesolehan atau semua unsur daam keluarga punya kesolihan. Kalau ada beda bobot, insya Alloh bisa dikumpulkan oleh malaikat. Contoh lagi: kalau bapaknya rajin sholat lima waktu, sedangkan anaknya rajin sholat lima waktu ditambah getol qiyamullail, maka insya Alloh masih bisa terkumpul.

(nb: di sesi  tanya jawab, ada seorang akhwat yang bertanya via tulisan, bahwa ia memiliki bapak yang jauh dari Alloh. Ia bertanya terkait tema ini?  Dijawab Ustadz Abdul Aziz, bahwa prinsipnya: segala sesuatu itu (yang baik) bila ga bisa diraih sempurna, maka jangan ditinggalkan semuanya. Kalaupun dah mentok semua upaya, dengan do’a ga akan mentok. Misalnya: hari senin nanti kita shaum dan berdo’a, supaya shaum kita itu jadi wasilah untuk do’a itu. Tiap orang punya ciri/model pengajakan yang berbeda-beda, sesuai “bahasa”nya masing-masing. Insya Alloh ajakan yang terus-menerus)

BAB 3 LANGKAH-LANGKAH MENUJU RUMAH TANGGA QUR’ANI

Apa yang harus kita lakukan agar Allah menakdirkan kita, keluarga kita menjadi keluarga Qur’ani?

LANGKAH PERTAMA: BANGUNLAH KEINGINAN

Sekedar keinginan, ini pun butuh pertolongan dari Alloh.

Karena segala sesuatu itu tumbuh dari keinginan. Akan tumbuh keinginan kalau kita pelajari dan gali rumah tangga qur’ani ini. Tapi kalau keinginannya belum ada, berarti harus belajar lagi, harus baca lagi kitab-kitab referensi terkait hal ini.

Kalau Alloh telah beri keinginan dalam diri kita, maka insya Alloh akan termotivasi ke langkah berikutnya: do’a.

LANGKAH KEDUA: DO’A

Do’a yang dilakukan akan sesuai dengan bobot keinginan itu sendiri. Itu rahasianya kalau orang berdoa untuk diselamatkan dari api neraka maka Allah memberi apresiasi, neraka pun akan ikut berdo’a agar manusia itu dijauhkan dari dia.

Tapi kenyataannya, apa dah benar kita tiap hari minta ke Alloh supaya diselamatkan dari api neraka? Belum tentu. Tergantung keimanan kita, bergantung rasa butuh diri kita.

Dalam sebuah hadist: ketika Allah mendengar hamba-hambanya minta diselamatkan dari neraka, Allah tanya ke malaikat (walaupun Allah Maha Tahu): mereka itu minta diselamatkan dari neraka itu saking butuhnya apa pernah mereka liat neraka itu? Jawab malaikat: itu karena keimanan mereka. Belum liat aja dah seserius itu (ka annaha ro’yal ‘ain = seolah melihat neraka di mata kepala sendiri), apalagi kalau mereka dah liat, akan lebbbih lagi doanya.

Sejauh mana keinginan kita untuk menjadi keluarga qur’ani itu terlihat dari do’a kita.

Kalau ternyata apa yang kita minta pada Alloh itu (keluarga qur’ani) kurang terwujud, maka Allah akan catat kita sebagaimana apa yang kita minta, bahwa kita telah melaksanakan rumah tangga qur’ani dengan sukses. Sebagai contoh:rumah tangga nabi Nuh, dinilai sukses oleh Alloh dalam menunaikan risalah Allah, meski anak dan istrinya tetap dalam keadaan kafir. (Allah ga pernah menyalahkan nabi Nuh bahwa ia termasuk orang yang ga sukses. –int pen).

Karena Alqur’an itu adalah kitab ilmu, ia ga akan terwariska secara otomatis. Jadi harus:

PERTAMA, HARUS DIPELAJARI

Apa sepekan sekali, atau tiap hari sekali. Hadist-hadist tentang penghargaan orang yang belajar qur’an diriwayatkan dengan shahih dalam berbagai kitab hadist. Seperti : 1 ayat saja yang kita pelajari dar qur’an lebih baik dari onta kualitas bagus zaman itu.

KEDUA. KETELAH DIPELAJARI HARUS DITERAPKAN SAMPAI MENJADI QUDWAH (TELADAN)

Menjadi contoh bagi orang lain. Bisa jadi anak/ istri/suami yang jadi qudwah. Siapa yang lebih dahulu menjadi qudwah, maka ia yang lebih mulia di hadapan Alloh.  Misalnya: ada seorang yang menyampaikan pada saya bahwa ia mulai dekat dengan Allah dan qur’an ketika ia sering masuk ke kamar anaknya, dan ia temui di kamar anaknya itu bagitu banyak buku agama. Ia baca dan mulai dari situlah timbul hidayah untuk lebih dekat dengan Alloh.

Karena mukmin itu “ almukminu mir’atul mi’min”.  jadi, anak pun ternyata bisa jadi qudwah bagi bapaknya.

KETIGA, SETELAH JADI QUDWAH, DIBENTENGI DENGAN ATS-SABAT (KETEGUHAN)

Agar generasi berikutnya benar-benar bisa teguh/tsabat/ istiqomah, maka kita diajarkan do’a-do’a agar tsabat. Apakah itu “ya muqollibal quluub, tsabbit quluubina ‘ala diinik”, dan do’a lainnya.

Untuk bisa istiqomah, selain dengan yusaha kita, juga dibarengi dengan do’a yang intensif. Sebagaimana intensifnya Rasulullah berdo’a untuk keluarganya.

Inilah jama’ah rohimakumullah.. Aquwlu qouli hadza wastaghfirulloh…. Wassalamu’alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh.

Wallahu’alam bishowab.

Sumber : Blog Eko

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.