Eksekusi ? Why Not !

Beberapa waktu yg lalu saya berkesempatan untuk berkunjung ke negara Tetangga, Singapura. Kesan pertama saya adalah kagum dan sepanjang perjalanan terus bertanya-tanya mengapa bisa seperti ini. Kalau dibandingkan dengan Indonesia tentunya masih sangat jauh tingkat kebersihan dan kedisiplinannya.

Di sepanjang perjalanan, saya dapat dengan mudah menemui tempat sampah dan orang yg membuang sampah di tempat sampah. Beberapa kali saya menemukan dengan mudahnya orang membuang sampah di tempat sampah. Hal ini sangat berbeda dengan di negara saya. Beberapa kali saat mengendarai mobil, saya bahkan menemukan sampah terbang dari mobil.

Semua orang bahkan orang Indonesia sekalipun tentunya sepakat bahwa membuang sampah di tempat sampah adalah hal yg baik sementara membuang sampah di jalan adalah tidak baik. Namun, masih banyak yg enggan melakukan kebaikan dan justru melakukan kejelekan. Lalu mengapa ?

Pengaruh penjajahan
Dalam psikologi manusia, setiap hal yg dipikirkan akan menjadi tindakan. Setiap tindakan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Setiap kebiasaan menahun akan menjadi karakter. Karakter beraneka macam orang yang berkumpul dalam suatu masyarakat atau negara akan menjadi budaya. Yah, nampaknya hal ini sudah menjadi budaya bangsa Indonesia.

350 tahun dijajah oleh Belanda nampaknya sangat mempengaruhi pola pikir dan budaya bangsa Indonesia. Lalu apa hubungannya antara penjajahan dengan budaya disiplin, bersih, tertib, & rapi ? Dalam kondisi terjajah, pendahulu kita terbiasa diatur. Dikasih makan seadanya bahkan jarang makan, bahkan minum pun terbatas, hidup penuh tekanan, alhasil pola pikir kurang berkembang. Jangankan memikirkan hidup bersih, rapi, disiplin, untuk makan dan minum pun masih susah. Berbeda dengan penjajah, penjajah perlu displin, rapi, bersih, dan teratur jika ingin menjajah. Bagaimana mau menjajah dan mengatur yg dijajah jika tidak teratur.

Bukankah Indonesia sudah merdeka sejak tahun 1945 ? Betul, Indonesia memang sudah merdeka, tetapi kebiasaan yg turun-temurun selama 350 tahun sudah membudaya tidak akan bisa hilang seketika. Memang ada para pahlawan seperti Tjokroaminoto, Soekarno, Hatta, Ki Bagus Hadikusumo, KH Ahmad Dahlan, KH Wahid Hasyim yang menginspirasi perubahan, tetapi kita perlu ingat bahwa mereka adalah inspirator dalam melawan penjajahan.

Pendidikan Ujung Tombak Perbaikan
Lantas tidak adakah cara untuk memperbaiki keadaan tersebut ? Tentu saja ada, yaitu melalui pendidikan baik pendidikan sekolah maupun keluarga. Keduanya memiliki pengaruh siginifikan. Agar nilai-nilai kebaikan bisa tereksekusi dalam amal nyata, perlu prakte keteladanan. Praktek keteladanan merupakan bentuk pendidikan yg paling efektif selain menanamkan teori-teori. Idealnya porsi teori dan praktek harus seimbang 50%:50%, bahkan praktek dan eksekusi nyata malah lebih banyak dibutuhkan saat seseorang melalui jenjang pendidikan formal. Lingkungan kerja akan cenderung melihat eksekusi nyata dan hasilnya dibandingkan teori-teorinya.

Sayangnya porsi pendidikan formal kita (selain kejuruan) masih menitik beratkan pada teori. Alhasil ketika dihadapkan pada masalah-masalah dan tantangan di kehidupan pekerjaan, tidak bisa terselesaikan dengan baik. Sekolah lebih sering mengajari tentang apa, bukan bagaimana. Sekolah lebih banyak mengajari untuk berpikir daripada melakukan. Sekolah mengajarkan teori tentang pencairan atau penyubliman, tetapi tidak mengajarkan praktek langsung pencairan itu seperti apa dan penyubliman itu seperti apa. Celakanya ini diterapkan selama 12 tahun sejak SD, SMP, & SMA sehingga akhirnya menjadi karakter dan budaya. Akhirnya yg sudah tahu baik tetapi tidak dilakukan, yang jelas-jelas tidak baik malah dilakukan.

Pendidikan Keluarga Menjadi Harapan
Bagi penulis yg bukan seorang guru formal ataupun berkecimpung di Diknas, tidak banyak yg bisa dilakukan selain menyeimbangkan antara pendidikan teori dan praktek dengan memilihkan sekolah yg sevisi maupun menanamkan dalam pendidikan anak di rumah. Pastinya sudah ada sekolah yg sadar dengan kenyataan bahwa nyatanya seorang anak kelak akan banyak dihadapkan dengan bagaimana bukan apa sehingga mulai diberikan porsi lebih dengan praktek dan berinteraksi dengan alam.

Keluarga perlu mengenalkan kepada anak sejak dini dengan praktek dan dunia nyata. Apalagi tantangan jaman now juga sangat besar dengan dunia digitalnya. Jangankan mengenalkan ilmu eksekusi pada anak, para orang tua sendiri pun tersihir oleh ilmu teori digital melalui youtube atau google alih-alih untuk mengkaji langsung dari guru maupun alam.

Keluarga hendaknya mengajarkan teori dan praktek secara seimbang. Ketika mengenalkan jenis-jenis binatang di youtube, hendaknya diimbangi dengan mengenalkan praktek pada anak. Ketika menjelaskan bahwa membuang sampah di tempat sampah itu baik, orang tua pun perlu mencontohkan dan menyuruh secara langsung untuk membuang sampah di TPS maupun tong sampah. Ketika orang tua mengajarkan bahwa main gadget terlalu sering itu tidak baik maka ada batasan jam gadget di rumah 🙂

Memang tidak mudah merubah Indonesia menjadi lebih baik. Indonesia memang tidak perlu diubah. Indonesia yg berubah menjadi lebih baik hanyalah akibat. Sebabnya adalah merubah diri kita yang jauh lebih penting dan sangat perlu diprioritaskan. Niscaya orang-orang di sekitar kita akan mengikuti.

#30harinonstopwriting
#pendidikan

Iklan

Menjadi Presiden RI (Republik Individu)-Edisi 10 kali Tes SIM

Stop-Suap

Pemilihan presiden telah 6 bulan berakhir. Sesuai hasil yang dirilis KPU, pasangan Jokowi-JK unggul dibandingkan pasangan Prabowo-Hatta. Lima tahun adalah masa Presiden Jokowi mengemban amanah dan memenuhi janji-janji memperbaiki Indonesia selama kampanye.

Pertempuran dalam rangka memilih Presiden RI mau tidak mau memang harus terjadi. Kendatipun kedua pasangan memiliki tujuan yang sama yaitu memajukan Indonesia melalui slogan-slogan masing-masing yaitu “Indonesia Hebat” maupun “Indonesia kuat”, misi yang ditempuh berbeda-beda. Makanya kemudian ada pemilihan presiden karena kedua belah memiliki pandangan yang berbeda tentang cara memperbaiki dan memajukan Indonesia.

Lantas, apakah memajukan Indonesia harus menjadi seorang Presiden ? Jawabannya tentu saja tidak. Sebagai rakyat jelata pun seharusnya kita punya keinginan untuk memperbaiki Indonesia. Tentu sesuai dengan kemampuan masing-masing. Seorang pengusaha mungkin bisa dengan tidak memanipulasi pajak sehingga pajak yang dibayarkan kepada negara bisa digunakan untuk pembangunan. Seorang guru bisa mendidik siswa/i melalui keteladanan sehingga dihasilkan manusia-manusia yang cerdas secara intelektual maupun tingkah laku. Aparat penegak hukum menegakkan hukum tanpa pandang bulu apakah pejabat atau rakyat biasa.

Lalu, jika kita tetap tidak merasa tidak mampu memperbaiki Indonesia, apa yang harus kita lakukan ? Minimal kita tidak menambah rusak bangsa Indonesia. Jika kita diberikan pilihan melakukan 100 kebaikan dan kita tidak sanggup, maka jangan tinggal 100 kebaikan tersebut tetapi pilihlah salah satu yang kita mampu. Contohnya adalah mendapatkan Surat Ijin Mengemudi (SIM) tidak melalui ‘jalur belakang’.

Saya pernah ikut tes sampai 10 kali sampai akhirnya berhasil mendapatkan SIM C dan SIM A dengan rincian tes teori sebanyak 3 kali kemudian tes praktek SIM C 4 kali serta tes praktek SIM A 3 kali. Dan biaya yang dikeluarkan ternyata hanya Rp 100 ribu untuk SIM C dan Rp 120 ribu untuk SIM A, jauh lebih murah dibandingkan melalui perantara yang bisa mencapai 3-4 kalinya. Sampai-sampai kepala bagian pembuatan SIM Polda Magelang bilang “Hebat dan tabah sekali ya ikut tes praktek. Bagus-bagus. Kamu yang kemarin sore itu latihan tes di samping tha”. Ada juga salah satu polisi yang ternyata saya baru ngeh kalau dia adalah tetangga saya sendiri yaitu Pak Agung bilang “Kamu kok sabar banget ya ikut tes sampai berkali-kali”. Saya saya senyum sembari menimpali “Lha wong Pak Angga, salah seorang polisi yang terus menyemangati saya untuk tes SIM tanpa ‘jalur belakang’, ngajari hal-hal yang harus disiapkan supaya lulus tes kok Pak” 🙂

Saya yakin setiap polisi pada dasarnya punya niat yang baik. Saya yakin mereka mau memperbaiki diri dan mau mendukung orang-orang yang berbuat baik. Adapun sebagian orang yang menjelek-jelekkan kepolisian menurut saya pribadi adalah orang-orang yang tidak optimis bahwa kepolisian sudah rusak dan tidak menjadi baik. Mereka berpandangan demikian karena memang sudah sedemikian parahnya kepolisian. Wajar juga sih, Saya juga pernah punya pengalaman dari seorang teman yang mengurusi kasus penggelapan uang di perusahaan tempat dia bekerja senilai sekitar 80 juta, eh ternyata pihak kepolisian minta 50% atau sekitar 40 juta. Setelah dinego akhirnya pihak kepolisian bersedia mendapatkan 30% saja atau 24 juta. Bahkan sang lawyer yang ditanya oleh teman saya tersebut sampai berkata,”Yah, beginilah cara untuk berperkara di kepolisian”. Kita sebagai warga negara yang baik, yang bukan anggota kepolisian, sudah seyogyanya yakin dan optimis bahwa kepolisian bisa menjadi baik seburuk apapun citra kepolisian di mata masyarakat.

Berikut-berikut tips-tips agar bisa lolos tes SIM :
1. Persiapkan bahan untuk dipelajari dalam tes teori SIM
Dalam tes teori SIM baik SIM A maupun SIM C ada 30 soal yang diujikan. Peserta tes harus menjawab benar minimal 21 soal atau 70. Soal-soal yang diujikan meliputi soal tentang cara berkendara di jalan raya dengan mengikuti rambu-rambu lalu lintas maupun petunjuk polisi. Kita diminta untuk menjawab Benar atau Salah untuk setiap soalnya. Waktu yang diberikan pun hanya 30 menit untuk 30 soal. Peserta diwajibkan untuk menekan tombol benar atau salah dari setiap soal yang ditampilkan di layar.

Saya sampai mengikuti 3 kali karena ketinggalan tes saat ijin ke kamar kecil, tertipu oleh soal-soal yang menjebak sehingga hanya mendapatkan nilai 46,67, dan berhasil saat tes yang ketiga kalinya dengan nilai 76,67. Saat tes teori ini diikuti oleh 12 orang dan hanya 3 orang yang lolos dengan nilai minimal 70. (tertinggi kedua) Nilai tes sempat ditampilkan sekilas di layar. Saat hasilnya diprint, ternyata nilainya jadi berubah. Yang membuat aneh adalah saya hanya mendapatkan 70 dan peserta yang lolos menjadi 9 orang. Saya pun hanya bergumam, pantas saja ada ‘jalur belakang’ lha wong sistem penilaian saja tidak dikunci. Saya cuek saja, yang terpenting tidak ingin terbujuk oleh rayuan setan agar ikut lewat ‘jalur belakang’.

Contoh soal-soalnya bisa dipelajari dari link berikut :
http://perbanyakmembaca.blogspot.com/p/blog-page_9472.html
http://asze25.blogspot.com/
http://ujiansim-online.blogspot.com/2014/11/soal-tes-ujian-teori-sim-b-1-b-2-c.html
http://examsworld.us/soal-ujian-sim-dan-kunci-jawabannya.html

2. Tes Praktek SIM C
Tes praktek SIM C bisa dibilang sulit karena saya sampai 4 kali tes. Tes pertama gagal karena tidak diberi kesempatan untuk mencoba motor mengingat waktu yang terbatas karena pesertanya mencapai 9 orang dan tidak ada satupun peserta yang berhasil. Tes kedua saya dianggap gagal padahal saat tes tidak terjatuh, usut punya usut ternyata ban depan motor menyerempet garis yang tidak terlihat. Kemudian tes yang ketiga gagal karena motor memang tidak akan bisa digunakan untuk melewati rintangan berdasarkan penuturan polisi. Saya baru ngeh karena polisi ternyata tidak memberikan contoh dan dengan jujurnya mengakui bahwa dirinya juga tidak akan lulus tes menggunakan motor yang saya kendarai. Dan tes keempat alhamdulillah berhasil setelah sore hari sebelumnya saya latihan didampingi adik. Mungkin karena merasa kasihan dengan saya, pak polisinya juga memberikan tips agar berhasil melewati rintangan yaitu saat berputar jangan menambah gas 🙂

Track untuk tes praktek SIM C bisa dilihat dalam link :

3. Tes Praktek SIM A
Karena berhasil lolos tes praktek SIM C, akhirnya saya menawarkan diri untuk langsung tes SIM A. Dan ternyata tes prakteknya jauh lebih sulit dibandingkan tes SIM C. Tes praktek sim A meliputi :
– Tes berjalan maju
– Tes berjalan mundur
– Tes zig-zag maju dengan jarak antar patok panjang mobil ditambah 1 meter
– Tes zig-zag maju dengan jarak antar patok panjang mobil ditambah 1 meter
– Tes naik turun tanjakan lengkap dengan rambu-rambunya
– Tes parkir maju
– Tes parkir mundur
– Tes parkir di bahu jalan dengan panjang patok panjang mobil ditambah 1 meter.

Track yang harus dilewati dalam tes praktek SIM A bisa dilihat dalam link berikut :

Dan saya harus tes sampai 3 kali alhamdulillah baru berhasil. Tes pertama gagal saat zig-zag maju, tes kedua gagal saat zig-zag mundur, dan tes ketiga alhamdulillah berhasil walaupun sempat ada perdebatan di antara 2 polisi yang mengetes. Saat tes yang ketiga dan tinggal melewati 2 patok terakhir, polisi pertama yang jauh dari mobil meminta belok sementara polisi yang menemani saya di mobil meminta untuk lurus. Alhasil polisi pertama menyatakan tidak lulus. Karena merasa instruksi tidak jelas, saya protes dan akhirnya diluluskan. 🙂

Akhirnya saya mendapatkan SIM A dan C setelah perjuangan 10 kali tes. Anugerah tambahan lagi, saya mendapatkan kenalan alumni UGM yang bekerja di Enseval dan banyak ngobrol soal pekerjaan yang kebetulan berkaitan dengan bidang distribusi yang saat ini saya geluti. Alhamdulillah.

Dari perjuangan 10 kali tes SIM tersebut, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga di antaranya :
– Lebih mengetahui peraturan rambu-rambu lalu lintas sehingga menjadi lebih berhati-hati di jalan dibandingkan sebelum ikut tes.
– Mengetahui kekurangan-kekurangan yang harus diperbaiki.
– Biaya lebih murah karena untuk pembuatan SIM A dan C normalnya membutuhkan 1 juta tetapi saya hanya menghabiskan biaya 220 ribu.
– Mendapatkan kenalan teman yang bekerja di Enseval
– Ikut memajukan bangsa Indonesia minimal dari hal yang sederhana yaitu tidak menambah rusak kepolisian
– Melatih kesabaran yang sangat ekstra karena sempat 3 kali dikerjain. Kesabaran dan saling memahami merupakan kunci keselamatan utama berkendara di jalan raya. Terbukti walaupun ada yang mempermainkan saya tetapi ada seorang polisi yang mendukung saya yaitu Pak Angga. Saya doakan semoga Pak Angga menjadi Kapolres Magelang yang berintegritas.
– Puas karena SIM yang saya peroleh adalah hasil kerja keras.
– Tenang jika di akhirat nanti ditanya oleh malaikat munkar dan nakir karena menolak untuk membuat SIM lewat ‘jalur belakang’. Hehe…

Walaupun harus bersusah payah, ya memang seperti itulah jalan menuju perbaikan selalu penuh onak dan duri. Tidak ringan tetapi jika berhasil mengatasinya maka rasanya nikmat dan puas sekali. Seburuk apapun citra kepolisian di mata masyarakat, kita jangan sampai ikut terpancing dan tidak boleh pesimis bahwa kepolisian akan menjadi lebih baik. Sebagai rakyat biasa, kita harus tetap optimis untuk masa depan kepolisian dan Indonesia yang lebih baik. Semoga kelak Kepolisian Republik Indonesia diisi oleh pejabat-pejabat yang berintegritas. Aamiin. Save Polri !!!

# Berdo’a semoga kelak memiliki anak yang menjadi polisi dan menjadi teladan banyak orang

Semangat Perbaikan I : Khasiat mematikan lampu saat tidur

(Kembali menghidupkan blog yang sudah 3-4 tahun mati)

“Padamkanlah lampu di malam hari apabila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman” (HR.Muttafaq’alaih).

Rasulullah mensabdakan itu lebih dari 14 abad yang lalu. Ternyata, di abad modern ini baru diketahui manfaat medis dari tuntunan Rasulullah untuk memadamkan lampu ketika hendak tidur.

Seperti ditulis Ustadz Yusuf Mansur, ahli biologi Joan Robert mengungkapkan bahwa tubuh baru bisa memproduksi hormon melatonin ketika tidak ada cahaya. Hormon melatonin ini adalah salah satu hormon kekebalan tubuh yang mampu memerangi dan mencegah berbagai penyakit, termasuk kanker payudara dan kanker prostat. Orang yang tidur dalam kondisi gelap, maka tubuhnya bisa memproduksi hormon ini.

Sebaliknya, tidur dengan lampu menyala di malam hari, sekecil apapun sinarnya menyebabkan produksi hormon melatonin terhenti..

Pentingnya tidur di malam hari dengan mematikan lampu juga diteliti oleh para ilmuwan dari Inggris. Peneliti menemukan bahwa ketika cahaya dihidupkan pada malam hari, bisa memicu ekpresi berlebihan dari sel-sel yang dikaitkan dengan pembentukan sel kanker.

Sebuah konferensi tentang anak penderita leukimia yang diadakan di London juga menyatakan bahwa orang bisa menderita kanker akibat terlalu lama memakai lampu waktu tidur di malam hari dibandingkan dengan yang tidak pernah memakai lampu waktu tidur.

Subhanallah… demikian luar biasa tuntunan Rasulullah. Setelah berabad-abad, hikmah medisnya baru terugkap. Wallahu a’lam bish shawab. [Sumber: Fan page ustad Yusuf Mansyur]

Membangun Bangsa Melalui Keluarga Sadar Arsip

Pengantar

Arsip memiliki banyak nilai guna dan peran dalam kehidupan. Arsip berupa akte kelahiran biasa digunakan untuk mengurus kartu keluarga atau pendaftaran siswa baru. Contoh lain dari peran arsip dalam ruang lingkup yang lebih besar adalah sengketa antara Pemda Cilacap dengan Pemda Kebumen menyangkut status Tanah Timbul di Alur Sungai Bodho. Sengketa wilayah mengemuka saat munculnya rencana Pemda Kebumen membangun pelabuhan ikan di Sungai Bodho yang berdekatan dengan Objek Wisata Pantai Logending Kebumen. Rencana tersebut terpaksa dibatalkan karena di tempat itu telah berdiri Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Jetis yang dibangun Pemda Cilacap. Tanah timbul di alur Sungai Bodho telah bertahun-tahun diklaim sebagai Wilayah Cilacap. Sengketa tersebut akhirnya terselesaikan  berkat bantuan peta buatan Belanda tahun 1931 yang disimpan oleh Kodam IV Diponegoro yang menunjukkan Tanah Timbul tersebut adalah milik Pemda Kebumen dan dulunya terpisah dari daerah Cilacap. Saat terjadi sengketa, tanah tersebut menyatu dengan daerah Cilacap sehingga diklaim milik Pemda Cilacap  (Kedaulatan Rakyat, 20 Juni 2002). Mengingat pentingnya nilai guna dan peran arsip tersebut, maka budaya membuat arsip harus ditanamkan sejak kecil mulai dari lingkungan keluarga.

Suatu hari penulis bertanya kepada kedua orang tua tentang tanggal lahir mereka ketika mengisi formulir pendaftaran siswa baru SMP. Mereka pun spontan menjawab Bapak lahir tahun 1955 dan Ibu lahir tahun 1965, sementara tanggal dan bulannya mereka tidak mengetahui. Mereka tidak mengetahuinya karena kakek dan nenek penulis tidak pernah membuatkan akte kelahiran ataupun surat lahir. Kemudian penulis bertanya lagi apakah mereka masih menyimpan ijazah kelulusan sekolah. Mereka pun mengatakan tidak menyimpannya.

Akan tetapi, penulis kemudian menjumpai hal yang berbeda pada kedua orang tua penulis dibanding kakek dan nenek penulis. Nomor, tanggal, bulan, dan tahun penulis maupun adik-adik penulis tertulis di pintu bagian dalam kamar penulis. Ayah dan Ibu juga menyuruh untuk selalu menyimpan buku-buku sekolah dan kertas-kertas hasil ujian. Bahkan, beberapa kitab kuning Ayah ketika mengaji di pesantren juga masih tersimpan di kamar penulis. Alhasil, kebiasaan Ayah menyimpan berkas-berkas menjadi kebiasaan yang rutin dilakukan penulis hingga saat ini.

Hal di atas merupakan contoh bahwa lingkungan keluarga sangat mempengaruhi pembentukan karakter individu yang sadar arsip.   Penanaman arti penting arsip dapat dimulai dari lingkungan keluarga karena keluarga merupakan tiang pokok masyarakat yang menyusun sebuah bangsa. Baik buruknya bangsa ditentukan oleh bagaimana karakter keluarga-keluarga penyusunnya. Bangsa yang peduli dengan kearsipan berarti kumpulan keluarganya peduli terhadap kearsipan pula. Dalam pembentukan karakter bangsa yang peduli arsip, keluarga merupakan lingkungan yang sangat berpotensi karena antaranggota keluarganya cukup sering berinteraksi.

Pembentukan karakter individu yang sadar arsip dilakukan melalui dua metode yang saling menyokong yaitu keteladanan orang tua dan melalui kebiasaan. Teladan dari orang tua merupakan metode yang efektif. Perkembangan seorang anak pada awalnya adalah mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya. Bahkan, pada tahap kehidupan anak selanjutnya ketika seorang anak menghadapi masalah tidak jarang dia meminta nasihat kepada orang tua. Aktivitas kearsipan di dalam keluarga harus dibiasakan secara terus menerus. Kebiasaan terus-menerus itulah yang akan menjadi karakter individu yang kelak ketika bertemu dengan karakter individu yang lain akan menjadi masyarakat dan bangsa.

Arsip Dalam Keluarga

Sebenarnya banyak yang bisa diarsipkan dalam keluarga. Mungkin yang biasa kita arsipkan adalah dokumen-dokumen yang memang sering dibutuhkan seperti ijazah, akte kelahiran, ataupun surat nikah  yang dipakai untuk mengurus kepentingan-kepentingan yang lain misalkan pembuatan kartu keluarga, pendaftaran siswa baru, asuransi kesehatan, atau jual beli tanah. Selain itu, hal-hal lain yang bisa diarsipkan antara lain catatan atau foto perkembangan anggota keluarga dari kecil hingga dewasa.

Perkembangan seorang anak perlu diarsipkan karena anak adalah investasi besar pembangunan dan tentu saja untuk kemanusiaan secara keseluruhan. Oleh karena itu, perencanaan yang baik terhadap anak-anak perlu dilakukan. Proses pelaksanaannya bisa dilakukan dalam sebuah map yang berisi seluruh masalah yang penting diperhatikan, seperti tanggal dan sejarah kelahiran anak, nomor kelahiran, jadwal pemberian obat dan makanan, surat keterangan dokter, keterangan atau catatan tentang kondisi sakit secara detail, ijazah anak-anak, dan catatan seputar prestasi anak-anak di sekolah.

Arsip kesehatan bisa memuat perkembangan kesehatan dari mulai saat lahir hingga ia dewasa, pola makan, dan penyakit yang diderita anak sejak lahir. Surat keterangan atau resep dokter yang memeriksa anak-anaknya dihimpun agar kelak jika mereka terkena penyakit yang sama, mereka dapat dibawa ke dokter yang mengobatinya. Surat resep dokter tersebut bisa saja dilengkapi dengan catatan kecil mengenai kondisi kesehatan dan lamanya meminum obat.

Aspek lain yang bisa diarsipkan antara lain bidang pendidikan. Prestasi seorang anak perlu diarsipkan untuk mengetahui bagaimana perkembangan anak dalam bidang pendidikan. Dengan data yang dimiliki tersebut bisa diketahui kelebihan maupun kekurangan anak. Dengan melihat arsip tentang kebiasaan anak, orang tua juga bisa memberikan masukan tentang gaya belajar yang cocok bagi anak. Misalkan saja seorang anak dengan tipe belajar kinestetik harus diarahkan untuk lebih sering mencatat ketika di kelas, anak dengan tipe auditorial bisa diarahkan untuk belajar sembari menggunakan music atau menyanyi, dan anak dengan tipe belajar visual bisa diarahkan dengan gaya membaca dan warna. Pelajaran dengan nilai yang baik maupun yang jelek bisa dipantau sehingga dalam menentukan masa depan pendidikan anak bisa melihat potensi dan kemampuan anak sehingga prestasi akademik bisa optimal. Misalkan saja seorang anak dengan kemampuan matematika dan ilmu pengetahuan alam yang tinggi bisa diarahkan ke dalam bidang kehidupan yang dominan membutuhkan kedua pengetahuan tersebut.

Pengarsipan perkembangan anak oleh orang tua selain bermanfaat bagi orang tua dalam rangka memberikan perhatian kepada anak juga untuk memberikan pembelajaran kearsipan kepadanya. Dengan begitu, dia akan merasa bahwa orang tuanya memperhatikan dia. Ketika anak menginjak remaja atau dewasa, dia bisa belajar menghargai orang lain juga. Pengarsipan diri anak dalam jangka waktu yang lama misalkan dari SD sampai SMP diharapkan juga menjadikan anak bersifat terbuka terhadap saran dan kritik kelak ketika dewasa. Ketika anak menginjak masa-masa SMA atau kuliah, anak juga akan berpikir bahwa orang tua memandang serius terhadap kearsipan sehingga diharapkan kelak anak juga akan melakukannya.

Pembelajaran tentang kearsipan juga bisa dilakukan dengan cara mendidik anak untuk menulis pengalaman yang dia alami sehari-hari. Pendidikan arsip tidak dilakukan secara paksa tetapi dengan membuat anak menyenanginya. Kemudian, anak diarahkan untuk mengubah kesenangan tadi menjadi karya nyata. Dengan melakukannya secara terus-menerus akan terbentuk kebiasaan dalam mengarsipkan hal-hal  tertentu. Kebiasaan itulah yang kelak akan menjadi karakter mencintai arsip ketika kelak dia dewasa baik dalam ruang lingkup yang kecil sampai ruang lingkup masyarakat dan bangsa.

Penutup

Membangun budaya mencintai arsip membutuhkan usaha yang terus-menerus. Budaya itu bisa dimulai dengan kebiasaan mengarsipkan diri sendiri dalam bentuk arsip tekstual  (tulisan) maupun arsip non-tekstual (film, foto, denah, peta, dan lain-lain). Lingkungan yang berpotensi untuk membangun budaya tersebut adalah lingkungan keluarga. Kebiasaan mengarsipkan kejadian sehari-hari tersebut harus dilakukan secara terus-menerus sehingga lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan dan kemudian menjadi karakter. Apabila karakter tersebut telah terpatri dalam setiap individu dalam keluarga, budaya pengarsipan dalam ruang lingkup yang lebih besar seperti masyarakat dan bangsa akan terbentuk.

Daftar Rujukan

Anis Matta, Muhammad. 2003. Model Manusia Muslim: Pesona Abad ke-21. Bandung: Asy-Syaamil.

Basuki, Ari. 2008. Eksplorasi Arsip Untuk Transfer Pengetahuan dan Penelitian Bagi Masyarakat. Yogyakarta: Buletin Kearsipan “Khazanah” Volume I No 1, September 2008.

Lili Nur Aulia, Muhammad. 2007. Cinta di Rumah Hasan Al Banna. Jakarta: Pustaka Da’watuna.

Zaenuddin. 2009. Membangun Budaya Arsip Demi Menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yogyakarta: UGM Archieves, 11 Juni 2009.

PERAN XL DALAM MENINGKATKAN KUALITAS GURU DI DAERAH PEDALAMAN

Dentuman bom mengguncang dua pelosok kota negeri Sakura. Setelah bom atom dijatuhkan oleh tentara sekutu hingga membuat kedua kota itu luluh lantak, Sang Kaisar Jepang, Hirohito, dengan penuh kekhawatiran langsung bertanya pada pusat informasi. Tahukah Anda apa yang dia tanyakan? Ternyata Sang Kaisar bukan menanyakan berapa jumlah tentara, tank, kapal tempur, pesawat tempur yang ada atau jumlah daerah kekuasaan Jepang yang masih tersisa. Yang dia tanyakan adalah berapa jumlah guru yang masih hidup?

Luar biasa! Begitu fahamnya pemahaman Sang Kaisar tentang arti penting seorang guru. Sang Kaisar tidak putus asa negerinya luluh lantak karena banyak guru yang masih hidup. Alhasil, Jepang kembali bangkit dari keterpurukan dan tidak lama kemudian menjadi negara maju dengan mengoptimalkan peran para guru.

Arti penting guru

Guru menjadi ujung tombak dalam proses pendidikan di sekolah. Proses transfer ilmu dilakukan dengan keberadaan seorang guru. Selain itu, guru juga berperan dalam memberi semangat kepada anak didiknya untuk terus belajar. Kegiatan belajar mengajar dapat diselenggarakan dengan keberadaan seorang guru kendatipun tidak ada gedung sekolah. Akan tetapi, kegiatan belajar mengajar tidak akan terselenggara tanpa seorang guru kendatipun tersedia gedung sekolah yang megah. Hal inilah yang menjadi landasan pikiran Ho Chi Min (Bapak Pendidikan Vietnam) bahwa No Teacher, No Education. No Education, No  Economic and Social Development.

Begitu besarnya peran seorang guru, tanpanya proses pembelajaran bangsa tidak akan dapat berjalan. Proses pembentukan karakter individu sebagai bahan dasar sebuah bangsa juga dilakukan oleh seorang guru. Guru juga menjadi penyambung sejarah perjuangan bangsa. Perjuangan heroik para pejuang bangsa dapat diterima generasi muda bangsa salah satunya lewat pendidikan oleh guru di sekolah.

Guru di Daerah Pedalaman

Banyak sekolah memiliki guru yang selalu bersemangat mengajar bahkan tidak pernah absen mengajar serta jumlahnya banyak. Hal tersebut hanya terdapat di daerah perkotaan dan sekitarnya dengan akses informasi dan transportasi yang relatif mudah. Akan tetapi, hal tersebut tidak berlaku di daerah pedalaman. Contohnya seperti yang terjadi di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Tiga puluh (30) dari 338 sekolah dasar (SD) di kabupaten tersebut hanya mengandalkan seorang guru tiap sekolahnya. Seorang guru tersebut merangkap sebagai kepala sekolah, guru kelas, dan guru mata pelajaran. Sekolah tersebut terpaksa meminta bantuan para guru yang telah pensiun untuk mengajar kembali di sekolah-sekolah tersebut. Fenomena tersebut juga terjadi di SD Negeri di wilayah pedalaman dusun Gun Jemak di daerah tapal batas Kalimantan Barat-Sarawak (Malaysia). Sekolah tersebut hanya memiliki seorang guru yang bernama Joni. Joni sempat 3,5 tahun mengajar murid dari kelas satu sampai enam sendirian saja, tanpa ada guru lain yang membantunya. Ia mengajar murid-murinya dengan cara menggabungkan enam kelas ke dalam tiga ruang kelas. Untuk kelas satu digabung dengan kelas dua, kelas tiga digabung dengan kelas empat, dan kelas lima dengan kelas enam.

Fenomena lain juga terjadi di SD Negeri 63 Toho Paloh, Desa Rasan, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.  Sekolah ini sering libur karena tidak ada satupun guru yang datang mengajar. Padahal, menurut catatan yang ada di sekolah itu, ada enam guru yang bertugas di sana. Dua di antaranya pegawai negeri (PNS), sedangkan empat lainnya sebagai guru honorer. Guru-guru yang mengajar di Toho Paloh itu umumnya tinggal di Ngabang, ibu kota Kabupaten Landak. Awalnya ada guru PNS yang mau tinggal di dekat sekolah, tetapi kemudian mereka memilih tinggal di Ngabang sehingga pelajaran menjadi tidak rutin.

Ada beberapa persoalan yang menyebabkan berbagai persoalan di atas. Persoalan tersebut disebabkan karena faktor eksternal maupun internal. Factor eksternal yang banyak dikeluhkan oleh guru yang enggan mengajar antara lain lokasi terpencil dengan jalan yang masih belum beraspal. Tidak jarang jika musim penghujan banyak dari guru yang jatuh dari sepeda motor karena jalan yang teramat sulit dan licin. Sebagian besar SD yang ada di pedalaman terletak di daerah terpencil yang sangat sulit dicapai dengan minimnya akses menuju sekolah dan tidak adanya sarana transportasi yang dapat mencapai sekolah. Sebagai contoh adalah SDN 63 Toho Paloh. Toho Paloh dan ibu kota Ngabang berjarak sekitar 80 km. Waktu tempuh yang diperlukan sekitar tiga jam karena kondisi jalan buruk. Selepas jalan aspal dan berbatu pada 15 kilometer pertama dari Ngabang, jalan tanah dan berlumpur adalah satu-satunya akses menuju Toho Paloh dan beberapa dusun lain di Desa Rasan. Contoh lain adalah SDN 2 Sendang yang terletak di dusun ngantup Desa Nyawangan, Kecamatan Sendang, Tulungagung, Jawa Timur. SD ini terletak di daerah perkebunan karet dan terletak di puncak gunung. Untuk mencapai SD ini harus melewati jalan yang tajam dan berkelok-kelok dengan jarak tempuh sekitar 35 km dari wilayah Kota Tulungagung. Sementara itu, SD 16 di pedalaman Dusun Gun Jemak, Kabupaten Sanggau, Kalbar hanya bisa ditempuh menggunakan alat transportasi sungai seperti speed boat atau sampan, yang waktu tempuhnya delapan jam dari ibu kota Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau.

Sementara itu, faktor internal berasal dari guru itu sendiri. Banyak tenaga guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang enggan mengabdikan dirinya di daerah pedalaman. Hal itu disebabkan kebanyakan guru sudah kehilangan idealismenya sebagai seorang guru sejati. Kalau guru memiliki idealism tinggi, tanggung jawab dan komitmen sebagai seorang guru pasti akan berupaya semaksimal mungkin memajukan siswanya. Seorang guru punya idealism untuk memikirkan persoalan pendidikan yang selama ini menjadi suatu permasalahan serius di Indonesia. Guru-guru yang sudah diangkat menjadi PNS tinggal di kota dan jarang sekali mengajar dengan alasan akses jalan yang sulit dan minimnya transportasi untuk menjangkau daerah pedalaman tersebut.

Peran XL Dalam Meningkatkan Kualitas Guru di Daerah Pedalaman

Agar proses pendidikan di daerah dapat tetap berlangsung, kualitas guru di daerah pedalaman harus ditingkatkan. Kualitas guru tersebut meliputi kualitas pendidikan guru, kualitas (dan kuantitas) pendapatan, dan kualitas pengabdian guru. Hal ini bisa menjadi salah satu program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan seperti XL baik oleh perusahaan secara mandiri maupun bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat. Dengan kepedulian XL terhadap pendidikan di daerah pedalaman, diharapkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah juga terpanggil hatinya dan lebih serius lagi dalam mengemban amanah UUD’45 adalah memenuhi hak setiap warganya untuk mendapatkan pendidikan secara layak.

Hal yang bisa dilakukan antara lain dengan memberikan penghargaaan kepada guru-guru yang telah mengabdi di daerah terpencil atau pedalaman. Penghargaan ini diberikan dalam rangka memberikan semangat kepada guru-guru yang mengajar di daerah pedalaman. Mungkin salah satu kegiatan XL Award pada tahun-tahun mendatang adalah berupa penghargaan atas perjuangan dan pengorbanan guru-guru yang mengajar di daerah pedalaman. Secara psikologi, pemberian penghargaan ini akan memacu guru-guru di daerah pedalaman untuk semangat dalam mengajar. Semangat ini penting mengingat hal tersebut akan menular kepada anak didiknya. Hal ini juga sesuai dengan fitrah manusia yang pada dasarnya adalah menyukai penghargaan dan perhatian.

Selain itu, XL mungkin dapat membuat program percontohan dengan memfokuskan pada satu sekolah di suatu daerah pedalaman tertentu seperti Sekolah XL. Sekolah tersebut dilengkapi dengan fasilitas yang mempernudah guru dan murid dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Para guru juga diberikan pelatihan-pelatihan seperti motivasi mengajar dengan mengundang trainer-trainer. Dengan pelatihan ini diharapkan guru-guru menjadi lebih serius dalam mengemban amanah sebagai pendidik bangsa. Sekolah tersebut juga dilengkapi dengan rumah untuk guru sehingga mereka tidak perlu pulang pergi menempuh jarak puluhan kilometer. Sekolah XL tersebut juga harus memiliki satu orang guru atau kepala sekolah sebagai pelopor dan selalu semangat dalam mengajak guru-guru yang lain dalam mendidik generasi penerus bangsa.

Selama ini, sedikit sekali calon guru yang mau mengajar di daerah pedalaman karena gaji yang tidak mencukupi untuk biaya hidup sehari-hari. Seikhlas apapun seorang guru dalam mengajar bahkan tidak mendapat balasan, mereka juga membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam Sekolah XL tersebut, guru diberikan gaji yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bersama keluarganya.

 

Referensi :

http://blog.unnes.ac.id/ikaluck

http://pendakigunung.wordpress.com

Saepudin, Aep. 2007. Guruku, Jangan Dipolitisi! Bandung: National Leadership Youth Forum 2007, Masjid Salman ITB.

11 Oktober 2010

Memandang laut takjub abadi
Gelombang ombak terjang samudra hidup
Maksud diri hiasi hati
Tapi garam buat luka tertutup

Evaluasi Amanah Dewan Santri Pesantren Mahasiswa Miftahul Khoir

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban kelak di hari Kiamat, seorang pemimpin pemerintahan adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang rakyatnya, suami adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang anggota keluarganya, istri adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang rumah tangga suaminya serta anak-anaknya, dan seorang pembantu adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang harta benda majikannya, ingatlah bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban kelak di hari Kiamat.” (HR Muttafaq ‘alaih, dalam Lu’lu wal Marjan hadits no. 1199)

“Ada 4 perkara yang jika semuanya ada pada dirimu maka tidak berbahaya bagimu apa yang terlepas darimu dalam dunia: Benar ketika berbicara, menjaga amanah, sempurna dalam akhlaq, menjaga diri dari meminta.” (HR Ahmad dalam musnadnya 2/177; Hakim dalam al-Mustadrak 4/314 dari Ibnu Umar ra; berkata Imam al-Mundziri ttg hadits ini: Telah meriwayatkan Ahmad, Ibnu Abi Dunya, Thabrani, Baihaqi dengan sanad yang hasan, lih. At-Targhib wa Tarhib 3/589)

Kamis, 15 Jumadil Awwal 1431 H atau 29 April 2010 M adalah saat pertama kali saya bersama Ginan Alfian (STIE EKUITAS), Ahmad Rijal Sholehuddin (Institut Manajemen Telkom), dan Yayan Cahyana (Universitas Komputer) diamanahi sebagai Dewan Santri Pondok Pesantren Mahasiswa Miftahul Khoir Bandung. Saya sendiri diamanahi sebagai Ketua Dewan Santri, Ginan sebagai komisi A bertanggung jawab menampung aspirasi santri dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan Pesantren seperti ustadz, masyarakat, dan yayasan, Rijal sebagai komisi B yang bertanggung jawab mengontrol keberjalanan Pengurus Santri, dan Yayan Cahyana sebagai komisi C yang bertanggung terhadap amandemen AD/ART atau melaksanakan Musyawarah Santri. Yayan sendiri akhirnya harus keluar dari Dewan Santri karena menjadi Sekretaris Santri dan sampai sekarang masih belum menemukan penggantinya.

Ada beberapa program yang harus dilaksanakan oleh Dewan Santri, diantaranya adalah :

  1. Stiker Do’a (Komisi B)
  2. Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Tengah Tahun Pengurus Santri & Dewan Santri (Komisi B)
  3. Pembuatan database warga sekitar pesantren (Komisi A)
  4. Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pengurus Santri & Dewan Santri (Komisi B)
  5. Pembuatan buku pesantren (Komisi C)

Berdasarkan evaluasi keberjalanan program, hanya stiker do’a yang baru berjalan. Dalam pelaksanaannya berbenturan dengan program Divisi Syiar – Pengurus Santri khususnya Panitia Ramadhan. Alhasil Dewan Santri harus turun tangan secara langsung dalam kepanitiaan khususnya di divisi Publikasi dan Dokumentasi (PubDok). Sangat aneh memang dalam suatu organisasi sebuah lembaga yang seharusnya bertugas mengawasi dan mengarahkan malah ikut bekerja bersama pengurus harian.

Dewan santri juga kadang harus terjun langsung dalam mengurusi penerimaan santri baru. Hal ini disebabkan kurang tanggapnya pengurus santri selain Divisi Sumber Daya Manusia (SDM). Idealnya ketika ada calon santri yang mendaftar semua santri harus melayaninya. Kenyataannya selama ini yang sering mengurusi adalah Rois, DSDM, dan kadang Dewan Santri. Belum lagi kejadian lain seperti Ginan yang merangkap sebagai Ketua Panitia Ramadhan 1431 H.

Hal tersebut tentu saja dilakukan karena mempertimbangkan pelaksanaan amanah dalam Islam (hukum syar’i) yang harus lebih diutamakan dibanding secara struktur (hukum adat). Apalagi organisasi santri di Pondok Pesantren Mahasiswa Miftahul Khoir masih jauh dari organisasi ideal seperti di kampus. Kedekatan secara emosional di antara pengurus santri dan dewan santri juga menimbulkan perasaan tidak tega jika pengurus santri dibiarkan bekerja sendirian. Alhasil baik pengurus santri maupun dewan santri bekerja bersama-sama (bukan bekerja sama). Kelemahan system ini adalah kurang sistem kontrol terhadap keberjalanan program-program pesantren. Dewan santri pun akhirnya lupa dengan peran yang semestinya dijalankan.

Langkah ke depan

Peran ganda pengurus dewan santri akan dikurangi dan fokus pada pelaksanaan program dewan santri seperti pembuatan database warga dan LPJ tengah tahun. Komisi C juga harus diisi oleh anggota baru dari santri lama. Teladan dari pengurus dewan santri dalam rangka pembinaan syakhsiyah islamiyah (kepribadian Islam) antara lain menjadi muadzin masjid dan rajin ta’lim. Ketua Dewan Santri juga harus lebih sering diskusi dengan Rois, pengasuh, maupun yayasan untuk membicarakan pengembangan pesantren ke depannya.