PERAN XL DALAM MENINGKATKAN KUALITAS GURU DI DAERAH PEDALAMAN

Dentuman bom mengguncang dua pelosok kota negeri Sakura. Setelah bom atom dijatuhkan oleh tentara sekutu hingga membuat kedua kota itu luluh lantak, Sang Kaisar Jepang, Hirohito, dengan penuh kekhawatiran langsung bertanya pada pusat informasi. Tahukah Anda apa yang dia tanyakan? Ternyata Sang Kaisar bukan menanyakan berapa jumlah tentara, tank, kapal tempur, pesawat tempur yang ada atau jumlah daerah kekuasaan Jepang yang masih tersisa. Yang dia tanyakan adalah berapa jumlah guru yang masih hidup?

Luar biasa! Begitu fahamnya pemahaman Sang Kaisar tentang arti penting seorang guru. Sang Kaisar tidak putus asa negerinya luluh lantak karena banyak guru yang masih hidup. Alhasil, Jepang kembali bangkit dari keterpurukan dan tidak lama kemudian menjadi negara maju dengan mengoptimalkan peran para guru.

Arti penting guru

Guru menjadi ujung tombak dalam proses pendidikan di sekolah. Proses transfer ilmu dilakukan dengan keberadaan seorang guru. Selain itu, guru juga berperan dalam memberi semangat kepada anak didiknya untuk terus belajar. Kegiatan belajar mengajar dapat diselenggarakan dengan keberadaan seorang guru kendatipun tidak ada gedung sekolah. Akan tetapi, kegiatan belajar mengajar tidak akan terselenggara tanpa seorang guru kendatipun tersedia gedung sekolah yang megah. Hal inilah yang menjadi landasan pikiran Ho Chi Min (Bapak Pendidikan Vietnam) bahwa No Teacher, No Education. No Education, No  Economic and Social Development.

Begitu besarnya peran seorang guru, tanpanya proses pembelajaran bangsa tidak akan dapat berjalan. Proses pembentukan karakter individu sebagai bahan dasar sebuah bangsa juga dilakukan oleh seorang guru. Guru juga menjadi penyambung sejarah perjuangan bangsa. Perjuangan heroik para pejuang bangsa dapat diterima generasi muda bangsa salah satunya lewat pendidikan oleh guru di sekolah.

Guru di Daerah Pedalaman

Banyak sekolah memiliki guru yang selalu bersemangat mengajar bahkan tidak pernah absen mengajar serta jumlahnya banyak. Hal tersebut hanya terdapat di daerah perkotaan dan sekitarnya dengan akses informasi dan transportasi yang relatif mudah. Akan tetapi, hal tersebut tidak berlaku di daerah pedalaman. Contohnya seperti yang terjadi di Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Tiga puluh (30) dari 338 sekolah dasar (SD) di kabupaten tersebut hanya mengandalkan seorang guru tiap sekolahnya. Seorang guru tersebut merangkap sebagai kepala sekolah, guru kelas, dan guru mata pelajaran. Sekolah tersebut terpaksa meminta bantuan para guru yang telah pensiun untuk mengajar kembali di sekolah-sekolah tersebut. Fenomena tersebut juga terjadi di SD Negeri di wilayah pedalaman dusun Gun Jemak di daerah tapal batas Kalimantan Barat-Sarawak (Malaysia). Sekolah tersebut hanya memiliki seorang guru yang bernama Joni. Joni sempat 3,5 tahun mengajar murid dari kelas satu sampai enam sendirian saja, tanpa ada guru lain yang membantunya. Ia mengajar murid-murinya dengan cara menggabungkan enam kelas ke dalam tiga ruang kelas. Untuk kelas satu digabung dengan kelas dua, kelas tiga digabung dengan kelas empat, dan kelas lima dengan kelas enam.

Fenomena lain juga terjadi di SD Negeri 63 Toho Paloh, Desa Rasan, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.  Sekolah ini sering libur karena tidak ada satupun guru yang datang mengajar. Padahal, menurut catatan yang ada di sekolah itu, ada enam guru yang bertugas di sana. Dua di antaranya pegawai negeri (PNS), sedangkan empat lainnya sebagai guru honorer. Guru-guru yang mengajar di Toho Paloh itu umumnya tinggal di Ngabang, ibu kota Kabupaten Landak. Awalnya ada guru PNS yang mau tinggal di dekat sekolah, tetapi kemudian mereka memilih tinggal di Ngabang sehingga pelajaran menjadi tidak rutin.

Ada beberapa persoalan yang menyebabkan berbagai persoalan di atas. Persoalan tersebut disebabkan karena faktor eksternal maupun internal. Factor eksternal yang banyak dikeluhkan oleh guru yang enggan mengajar antara lain lokasi terpencil dengan jalan yang masih belum beraspal. Tidak jarang jika musim penghujan banyak dari guru yang jatuh dari sepeda motor karena jalan yang teramat sulit dan licin. Sebagian besar SD yang ada di pedalaman terletak di daerah terpencil yang sangat sulit dicapai dengan minimnya akses menuju sekolah dan tidak adanya sarana transportasi yang dapat mencapai sekolah. Sebagai contoh adalah SDN 63 Toho Paloh. Toho Paloh dan ibu kota Ngabang berjarak sekitar 80 km. Waktu tempuh yang diperlukan sekitar tiga jam karena kondisi jalan buruk. Selepas jalan aspal dan berbatu pada 15 kilometer pertama dari Ngabang, jalan tanah dan berlumpur adalah satu-satunya akses menuju Toho Paloh dan beberapa dusun lain di Desa Rasan. Contoh lain adalah SDN 2 Sendang yang terletak di dusun ngantup Desa Nyawangan, Kecamatan Sendang, Tulungagung, Jawa Timur. SD ini terletak di daerah perkebunan karet dan terletak di puncak gunung. Untuk mencapai SD ini harus melewati jalan yang tajam dan berkelok-kelok dengan jarak tempuh sekitar 35 km dari wilayah Kota Tulungagung. Sementara itu, SD 16 di pedalaman Dusun Gun Jemak, Kabupaten Sanggau, Kalbar hanya bisa ditempuh menggunakan alat transportasi sungai seperti speed boat atau sampan, yang waktu tempuhnya delapan jam dari ibu kota Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau.

Sementara itu, faktor internal berasal dari guru itu sendiri. Banyak tenaga guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang enggan mengabdikan dirinya di daerah pedalaman. Hal itu disebabkan kebanyakan guru sudah kehilangan idealismenya sebagai seorang guru sejati. Kalau guru memiliki idealism tinggi, tanggung jawab dan komitmen sebagai seorang guru pasti akan berupaya semaksimal mungkin memajukan siswanya. Seorang guru punya idealism untuk memikirkan persoalan pendidikan yang selama ini menjadi suatu permasalahan serius di Indonesia. Guru-guru yang sudah diangkat menjadi PNS tinggal di kota dan jarang sekali mengajar dengan alasan akses jalan yang sulit dan minimnya transportasi untuk menjangkau daerah pedalaman tersebut.

Peran XL Dalam Meningkatkan Kualitas Guru di Daerah Pedalaman

Agar proses pendidikan di daerah dapat tetap berlangsung, kualitas guru di daerah pedalaman harus ditingkatkan. Kualitas guru tersebut meliputi kualitas pendidikan guru, kualitas (dan kuantitas) pendapatan, dan kualitas pengabdian guru. Hal ini bisa menjadi salah satu program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan seperti XL baik oleh perusahaan secara mandiri maupun bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat. Dengan kepedulian XL terhadap pendidikan di daerah pedalaman, diharapkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah juga terpanggil hatinya dan lebih serius lagi dalam mengemban amanah UUD’45 adalah memenuhi hak setiap warganya untuk mendapatkan pendidikan secara layak.

Hal yang bisa dilakukan antara lain dengan memberikan penghargaaan kepada guru-guru yang telah mengabdi di daerah terpencil atau pedalaman. Penghargaan ini diberikan dalam rangka memberikan semangat kepada guru-guru yang mengajar di daerah pedalaman. Mungkin salah satu kegiatan XL Award pada tahun-tahun mendatang adalah berupa penghargaan atas perjuangan dan pengorbanan guru-guru yang mengajar di daerah pedalaman. Secara psikologi, pemberian penghargaan ini akan memacu guru-guru di daerah pedalaman untuk semangat dalam mengajar. Semangat ini penting mengingat hal tersebut akan menular kepada anak didiknya. Hal ini juga sesuai dengan fitrah manusia yang pada dasarnya adalah menyukai penghargaan dan perhatian.

Selain itu, XL mungkin dapat membuat program percontohan dengan memfokuskan pada satu sekolah di suatu daerah pedalaman tertentu seperti Sekolah XL. Sekolah tersebut dilengkapi dengan fasilitas yang mempernudah guru dan murid dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Para guru juga diberikan pelatihan-pelatihan seperti motivasi mengajar dengan mengundang trainer-trainer. Dengan pelatihan ini diharapkan guru-guru menjadi lebih serius dalam mengemban amanah sebagai pendidik bangsa. Sekolah tersebut juga dilengkapi dengan rumah untuk guru sehingga mereka tidak perlu pulang pergi menempuh jarak puluhan kilometer. Sekolah XL tersebut juga harus memiliki satu orang guru atau kepala sekolah sebagai pelopor dan selalu semangat dalam mengajak guru-guru yang lain dalam mendidik generasi penerus bangsa.

Selama ini, sedikit sekali calon guru yang mau mengajar di daerah pedalaman karena gaji yang tidak mencukupi untuk biaya hidup sehari-hari. Seikhlas apapun seorang guru dalam mengajar bahkan tidak mendapat balasan, mereka juga membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam Sekolah XL tersebut, guru diberikan gaji yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bersama keluarganya.

 

Referensi :

http://blog.unnes.ac.id/ikaluck

http://pendakigunung.wordpress.com

Saepudin, Aep. 2007. Guruku, Jangan Dipolitisi! Bandung: National Leadership Youth Forum 2007, Masjid Salman ITB.

Satu Tanggapan

  1. tulisan yg menggugah agar ada perhatian yang lebih adil untuk para guru terutama didaerah terpencil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: