Membangun Bangsa Melalui Keluarga Sadar Arsip

Pengantar

Arsip memiliki banyak nilai guna dan peran dalam kehidupan. Arsip berupa akte kelahiran biasa digunakan untuk mengurus kartu keluarga atau pendaftaran siswa baru. Contoh lain dari peran arsip dalam ruang lingkup yang lebih besar adalah sengketa antara Pemda Cilacap dengan Pemda Kebumen menyangkut status Tanah Timbul di Alur Sungai Bodho. Sengketa wilayah mengemuka saat munculnya rencana Pemda Kebumen membangun pelabuhan ikan di Sungai Bodho yang berdekatan dengan Objek Wisata Pantai Logending Kebumen. Rencana tersebut terpaksa dibatalkan karena di tempat itu telah berdiri Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Jetis yang dibangun Pemda Cilacap. Tanah timbul di alur Sungai Bodho telah bertahun-tahun diklaim sebagai Wilayah Cilacap. Sengketa tersebut akhirnya terselesaikan  berkat bantuan peta buatan Belanda tahun 1931 yang disimpan oleh Kodam IV Diponegoro yang menunjukkan Tanah Timbul tersebut adalah milik Pemda Kebumen dan dulunya terpisah dari daerah Cilacap. Saat terjadi sengketa, tanah tersebut menyatu dengan daerah Cilacap sehingga diklaim milik Pemda Cilacap  (Kedaulatan Rakyat, 20 Juni 2002). Mengingat pentingnya nilai guna dan peran arsip tersebut, maka budaya membuat arsip harus ditanamkan sejak kecil mulai dari lingkungan keluarga.

Suatu hari penulis bertanya kepada kedua orang tua tentang tanggal lahir mereka ketika mengisi formulir pendaftaran siswa baru SMP. Mereka pun spontan menjawab Bapak lahir tahun 1955 dan Ibu lahir tahun 1965, sementara tanggal dan bulannya mereka tidak mengetahui. Mereka tidak mengetahuinya karena kakek dan nenek penulis tidak pernah membuatkan akte kelahiran ataupun surat lahir. Kemudian penulis bertanya lagi apakah mereka masih menyimpan ijazah kelulusan sekolah. Mereka pun mengatakan tidak menyimpannya.

Akan tetapi, penulis kemudian menjumpai hal yang berbeda pada kedua orang tua penulis dibanding kakek dan nenek penulis. Nomor, tanggal, bulan, dan tahun penulis maupun adik-adik penulis tertulis di pintu bagian dalam kamar penulis. Ayah dan Ibu juga menyuruh untuk selalu menyimpan buku-buku sekolah dan kertas-kertas hasil ujian. Bahkan, beberapa kitab kuning Ayah ketika mengaji di pesantren juga masih tersimpan di kamar penulis. Alhasil, kebiasaan Ayah menyimpan berkas-berkas menjadi kebiasaan yang rutin dilakukan penulis hingga saat ini.

Hal di atas merupakan contoh bahwa lingkungan keluarga sangat mempengaruhi pembentukan karakter individu yang sadar arsip.   Penanaman arti penting arsip dapat dimulai dari lingkungan keluarga karena keluarga merupakan tiang pokok masyarakat yang menyusun sebuah bangsa. Baik buruknya bangsa ditentukan oleh bagaimana karakter keluarga-keluarga penyusunnya. Bangsa yang peduli dengan kearsipan berarti kumpulan keluarganya peduli terhadap kearsipan pula. Dalam pembentukan karakter bangsa yang peduli arsip, keluarga merupakan lingkungan yang sangat berpotensi karena antaranggota keluarganya cukup sering berinteraksi.

Pembentukan karakter individu yang sadar arsip dilakukan melalui dua metode yang saling menyokong yaitu keteladanan orang tua dan melalui kebiasaan. Teladan dari orang tua merupakan metode yang efektif. Perkembangan seorang anak pada awalnya adalah mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya. Bahkan, pada tahap kehidupan anak selanjutnya ketika seorang anak menghadapi masalah tidak jarang dia meminta nasihat kepada orang tua. Aktivitas kearsipan di dalam keluarga harus dibiasakan secara terus menerus. Kebiasaan terus-menerus itulah yang akan menjadi karakter individu yang kelak ketika bertemu dengan karakter individu yang lain akan menjadi masyarakat dan bangsa.

Arsip Dalam Keluarga

Sebenarnya banyak yang bisa diarsipkan dalam keluarga. Mungkin yang biasa kita arsipkan adalah dokumen-dokumen yang memang sering dibutuhkan seperti ijazah, akte kelahiran, ataupun surat nikah  yang dipakai untuk mengurus kepentingan-kepentingan yang lain misalkan pembuatan kartu keluarga, pendaftaran siswa baru, asuransi kesehatan, atau jual beli tanah. Selain itu, hal-hal lain yang bisa diarsipkan antara lain catatan atau foto perkembangan anggota keluarga dari kecil hingga dewasa.

Perkembangan seorang anak perlu diarsipkan karena anak adalah investasi besar pembangunan dan tentu saja untuk kemanusiaan secara keseluruhan. Oleh karena itu, perencanaan yang baik terhadap anak-anak perlu dilakukan. Proses pelaksanaannya bisa dilakukan dalam sebuah map yang berisi seluruh masalah yang penting diperhatikan, seperti tanggal dan sejarah kelahiran anak, nomor kelahiran, jadwal pemberian obat dan makanan, surat keterangan dokter, keterangan atau catatan tentang kondisi sakit secara detail, ijazah anak-anak, dan catatan seputar prestasi anak-anak di sekolah.

Arsip kesehatan bisa memuat perkembangan kesehatan dari mulai saat lahir hingga ia dewasa, pola makan, dan penyakit yang diderita anak sejak lahir. Surat keterangan atau resep dokter yang memeriksa anak-anaknya dihimpun agar kelak jika mereka terkena penyakit yang sama, mereka dapat dibawa ke dokter yang mengobatinya. Surat resep dokter tersebut bisa saja dilengkapi dengan catatan kecil mengenai kondisi kesehatan dan lamanya meminum obat.

Aspek lain yang bisa diarsipkan antara lain bidang pendidikan. Prestasi seorang anak perlu diarsipkan untuk mengetahui bagaimana perkembangan anak dalam bidang pendidikan. Dengan data yang dimiliki tersebut bisa diketahui kelebihan maupun kekurangan anak. Dengan melihat arsip tentang kebiasaan anak, orang tua juga bisa memberikan masukan tentang gaya belajar yang cocok bagi anak. Misalkan saja seorang anak dengan tipe belajar kinestetik harus diarahkan untuk lebih sering mencatat ketika di kelas, anak dengan tipe auditorial bisa diarahkan untuk belajar sembari menggunakan music atau menyanyi, dan anak dengan tipe belajar visual bisa diarahkan dengan gaya membaca dan warna. Pelajaran dengan nilai yang baik maupun yang jelek bisa dipantau sehingga dalam menentukan masa depan pendidikan anak bisa melihat potensi dan kemampuan anak sehingga prestasi akademik bisa optimal. Misalkan saja seorang anak dengan kemampuan matematika dan ilmu pengetahuan alam yang tinggi bisa diarahkan ke dalam bidang kehidupan yang dominan membutuhkan kedua pengetahuan tersebut.

Pengarsipan perkembangan anak oleh orang tua selain bermanfaat bagi orang tua dalam rangka memberikan perhatian kepada anak juga untuk memberikan pembelajaran kearsipan kepadanya. Dengan begitu, dia akan merasa bahwa orang tuanya memperhatikan dia. Ketika anak menginjak remaja atau dewasa, dia bisa belajar menghargai orang lain juga. Pengarsipan diri anak dalam jangka waktu yang lama misalkan dari SD sampai SMP diharapkan juga menjadikan anak bersifat terbuka terhadap saran dan kritik kelak ketika dewasa. Ketika anak menginjak masa-masa SMA atau kuliah, anak juga akan berpikir bahwa orang tua memandang serius terhadap kearsipan sehingga diharapkan kelak anak juga akan melakukannya.

Pembelajaran tentang kearsipan juga bisa dilakukan dengan cara mendidik anak untuk menulis pengalaman yang dia alami sehari-hari. Pendidikan arsip tidak dilakukan secara paksa tetapi dengan membuat anak menyenanginya. Kemudian, anak diarahkan untuk mengubah kesenangan tadi menjadi karya nyata. Dengan melakukannya secara terus-menerus akan terbentuk kebiasaan dalam mengarsipkan hal-hal  tertentu. Kebiasaan itulah yang kelak akan menjadi karakter mencintai arsip ketika kelak dia dewasa baik dalam ruang lingkup yang kecil sampai ruang lingkup masyarakat dan bangsa.

Penutup

Membangun budaya mencintai arsip membutuhkan usaha yang terus-menerus. Budaya itu bisa dimulai dengan kebiasaan mengarsipkan diri sendiri dalam bentuk arsip tekstual  (tulisan) maupun arsip non-tekstual (film, foto, denah, peta, dan lain-lain). Lingkungan yang berpotensi untuk membangun budaya tersebut adalah lingkungan keluarga. Kebiasaan mengarsipkan kejadian sehari-hari tersebut harus dilakukan secara terus-menerus sehingga lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan dan kemudian menjadi karakter. Apabila karakter tersebut telah terpatri dalam setiap individu dalam keluarga, budaya pengarsipan dalam ruang lingkup yang lebih besar seperti masyarakat dan bangsa akan terbentuk.

Daftar Rujukan

Anis Matta, Muhammad. 2003. Model Manusia Muslim: Pesona Abad ke-21. Bandung: Asy-Syaamil.

Basuki, Ari. 2008. Eksplorasi Arsip Untuk Transfer Pengetahuan dan Penelitian Bagi Masyarakat. Yogyakarta: Buletin Kearsipan “Khazanah” Volume I No 1, September 2008.

Lili Nur Aulia, Muhammad. 2007. Cinta di Rumah Hasan Al Banna. Jakarta: Pustaka Da’watuna.

Zaenuddin. 2009. Membangun Budaya Arsip Demi Menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yogyakarta: UGM Archieves, 11 Juni 2009.

3 Tanggapan

  1. wahhh mantap bnr tu gan,,,

  2. Trimakasih banyak atas infonya Om. Bagus banget n sangat membantu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: