Nilai Seorang Pemimpin

Bung Hatta

Menduga perasaan rakyat dan memberi jalan kepada perasaan itu keluar itulah kewajiban yang amat sulit dan susah. Itulah kewajiban leadership! Caranya memenuhi kewajiban itu bergantung pula pada waktu dan tempat.

Ambillah sebagai contoh sejarah Rusia sebelum perang besar, ambillah sejarah Italia sebelum ia bersatu dan merdeka, dan ambillah pula sejarah Indonesia sendiri. Apa yang kita katakan itu akan ternyata semuanya.

Rakyat yang banyak pada mulanya tidak tahu bergerak apa-apa, sesungguhnya sakit dan gusar yang ditanggungnya hampir tidak tertahan lagi. Langkah terikat oleh ketiadaan pengetahuan pandangan sayup oleh kekurangan penerangan. Sitani yang miskin dan bodoh mempunyai alam pikiran yang tidak lebih luas dari pada batas tanah yang dikerjakannya. Paham tertutup dan ingatan tak lain daripada memikirkan bagaimana makan dari sehari ke sehari dan bagaimana membayar pajak kalau pegawai datang menagih. Dalam rasa sakit yang seperti itu, dalam tindasan yang menutup kalbu, orang banyak tawakkal saja kepada nasibnya, menyerahkan untung kepada “apa boleh buat”. Apalagi di zaman despotisme yang tidak berhingga, seperti di Rusia dahulu. Orang takut akan murka rajanya, yang gampang membuang orang ke Siberia. Berkata tidak berani, karena takut akan terdengar oleh mata-mata rahasia yang mempunyai kuping di mana-mana.

Siapakah berani mengatakan, bahwa rakyat yang hidup semacam itu tidak mempunyai perasaan dan kemauan? Selagi manusia tinggal manusia, ia insaf akan nasibnya, berapa juga bodoh dan bebalnya. Hanya ada perbedaan antara rakyat dan rakyat. Yang satu lekas mencari jalan sendiri dan yang lain lambat bergerak. Di sinilah tempatnya pemimpin, menduga apa yang terasa dalam hati rakyat, menggerakkan apa yang tidak bisa berjalan sendiri, menyuluhi jalan yang masih gelap di mata rakyat, tetapi telah terkandung di hatinya. Pemimpin mengemudikan apa yang sudah dikehendaki oleh rakyat. Itulah sebabnya maka pemimpin lekas dapat pengikut dan pergerakan yang dianjurkannya cepat berkembang.

Sebelumnya pemimpin ada dengan pergerakan, yang menjadi jurubahasa hati rakyat terdapat kaum terpelajar, pemuda-pemudi yang sudah mendapat pelajaran sekolah. Hatinya sedih melihat nasib rakyatnya yang begitu melarat. Dalam hatinya terasa suruhan untuk membela nasib rakyat jelata itu. Belas kasihan melihat keadaan rakyat, itulah yang menjadi sebab mula-mula, maka kaum terpelajar dan pemuda-pemudi anak orang bangsawan maju ke muka, menceburkan diri sebagai pembuka jalan kepada orang banyak, bagaimana harus bergerak menuntut perbaikan nasib. Dan dengan kurban ia hendak memberi contoh, supaya perbuatan itu diikuti oleh rakyat yang banyak. Dengan tiada gentar dan takut seorang pemuda tadi memajukan aksinya, berpropaganda ke mana dengan rahasia untuk membangunkan semangat rakyat yang tertutup. Demikianlah keadaan di Rusia pada zaman Tzarisme, demikian juga di Italia pada waktu Mazzini dan Garibaldi menganjurkan persatuan dan kemerdekaan Tanah Air. Supaya rakyat yang banyak terbangun dan tahu menuntut hak-haknya, orang seorang berkurban, hidup dalam bui dan sengsara dalam pembuangan.

Inilah masa romantisme dalam pergerakan kemerdekaan. Penganjur-penganjur, yang belum lagi bernama pemimpin, berkorban, supaya terbuka jalan bagi pergerakan rakyat. Supaya perasaan rakyat yang tertutup dalam hati, dapat mencari jalan keluar.

Setelah terbuka mata rakyat, individuele actie berganti menjadi massa-actie, yaitu aksi orang banyak yang tersusun sebagai satu badan. Dengan itu timbullah leiderschap, pemimpin yang mempunyai pekerjaan tertentu. Ia mengemukakan apa yang terasa oleh rakyat, yang tidak dapat dikeluarkannya sendiri. Di sini timbul organisasi rakyat yang mempunyai semangat sendiri, gelagat dan sifat sendiri. Pendeknya timbul satu collective psyche dan kemauan bersama, yang dikemudikan oleh pemimpin.

Pada satu ketika kemauan bersama itu tampak keluar dengan jelas. Misalnya pada kongres, pada rapat umum dan pada beberapa keputusan yang diambil dalam rapat tertutup dan diumumkan. Dan pada waktu anggauta-anggauta tidak berkumpul, pemimpin itulah yang menjadi jurubahasa (tolk) perasaan dan kemauan pergerakan. Semuanya ini menyatakan, bahwa tiap-tiap organisasi itu mempunyai jiwa sendiri dan kemauan sendiri. Dan inilah yang dianjurkan dan dikemudikan oleh Pemimpin. Tidak lain kedudukan pemimpin. Sejak ayam jantan yang berkokok sebab hari akan siang, pemimpin bersuara sebab pergerakan dan rakyat mempunyai kehendak.

Kebenaran ini ternyata pula dengan jelas dalam sejarah pergerakan umum. Kalau seorang pemimpin menyimpang dari dasar organisasinya, kepercayaan rakyat hilang kepada dia dan ia disingkirkan dari pimpinan. Dan kalau ia terlalu jauh meliwati batas, ia dilemparkan keluar organisasi. Jalan pemimpin adalah terutama jurubahasa daripada rakyat. Betul dialah yang menyusun politik, program partai dan lain-lainnya, akan tetapi bukti ini tidak lain daripada menyatakan kemauan bersama.

Dalam pergerakan rakyat, pada suatu masa organisasi, sikap pemimpin mestilah cocok dengan yang dipimpin. Tidak dapat pemimpin berbuat sesuka-sukanya, sedangkan seorang dictator di waktu sekarang terpaksa memperhatikan semangat dan perasaaan yang hidup dalam hati rakyat. Sering juga kekuasaannya bersandar kepada sebagian rakyat yang menjadi pengikutnya. Kalau tidak ia mesti jatuh! Dalam pada itu pemimpin bukan pula budak pergerakan semata-mata. Ia penduga perasaaan rakyat, penganjur dan jurumudi pergerakan. Dan pemimpin yang cakap dan populair dapat melaksanakan teguhnya organisasi. Tetapi pekerjaan pemimpin sedikit hasilnya, kalau tidak dibantu dengan majalah dan tidak dibantu oleh anggauta-anggauta dengan memperkuat partai.

Mohammad Hatta dalam “Memoir”, 1984, Jakarta:PT Tintamas Indonesia

Masjid Al-Muntaha Kompleks PT Pupuk Iskandar Muda-Rumah Pak Sogol-Aceh Utara, 7 Juni 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: