Sosok pahlawan yang kucari

3 tahun yang lalu….

Sang surya telah tenggelam tergantikan sang rembulan. Suasana malam yang sunyi semakin indah oleh langit yang bermandikan bintang-bintang. Ditambah lagi dengan suara jangkerik, katak, dan belalang yang tidak henti-hentinya mendendangkan lagu favoritnya. Belum lagi ditambah dinginnya malam yang menusuk sampai ke tulang. Padahal melihat tubuhmu yang kurus dan kering, aku tak tega. Dalam kegelapan malam kau terus-menerus berjuang, tak kenal lelah. Walaupun hanya bertemankan 3 kerbau yang dengan penuh kasih sayang engkau rawat. Yah,, kau harus menggembalakan kerbau di malam hari karena paginya harus membajak sawah.

Terdengar suara ketukan pintu sekitar jam 11 malam. Oh,, ternyata kau, ayahku! Alhamdulillah,, kau pulang juga. Setelah mandi dan berganti pakaian, langsung kau rebahkan badanmu di depan TV. Yah,, kami terbiasa tidur bersama di depan ruang TV bareng dengan ketiga adikku dan ibuku karena tidak ada tempat tidur untuk kedua orang tuaku. Palingan hanya sebuah kamar untuk aku dan adikku. Tapi, kami lebih senang tidur di depan TV bersama ayah dan ibu. Yah,, begitulah tidur sehari-hariku bersama keluargaku. Walaupun sangat sederhana tapi aku sangat bersyukur.

Jarum jam telah menunjukkan angka 3, kau pun bangun paling awal. Langsung kau ambil air wudhu dan kau tunaikan shalat tahajud. Setelah selesai salat tahajud, kau langsung membawa 3 kerbaumu ke ladang untuk digembalakan lagi. Rumput semalam dirasa masih belum cukup mengenyangkan kerbau-kerbaumu karena siang ini kau harus mempekerjakannya sampai matahari tegak di atas kepala. Tentu saja kau menahan dinginnya udara di malam hari.

Tak terasa sang fajar pun dengan gagah berani menunjukkan tajinya. Kau pun langsung bersiap-siap pulang ke rumah dan shalat subuh. Setelahnya, kau langsung bersiap-siap ke sawah. Ketika bangun tidur, aku pun sudah tidak melihat batang hidungmu.

Dari pagi sampai adzan dhuhur terdengar kau sibuk membajak sawah dengan kedua kerbaumu. Heyah…heyah…heyah !!! Sesekali terdengar suaramu menyemangati kerbau-kerbaumu sambil mencambuknya. Pernah suatu hari kulihat kau dengan tubuh kecilmu berjuang seharian di bawah panas terik matahari.

Yah,, itulah kau ayahku yang kucinta dan kubanggakan. Aku salut padamu. Berhari-hari kau bekerja siang malam untuk menghidupi aku, 3 adik, dan ibuku. Pernah suatu hari ibuku bercerita tentangmu. Saat kau masih muda, kau dikenal oleh teman-temanmu sebagai orang yang pintar di sekolah dan juga rajin mengaji. Namun, ternyata kau bersekolah tanpa sepengetahuan ayahmu. Dengan alasan mau ke pondok pesantren, kau ternyata sambil bersekolah di suatu SMK. Kau terpaksa menitipkan seluruh buku-bukumu di rumah temanmu. Sampai suatu hari, aktivitasmu itu ketahuan juga oleh ayahmu. Sambil merengek-rengek, kau minta kepada ayahmu supaya mengijinkanmu sekolah. Tapi,, ternyata sekolahmu harus berhenti padahal beberapa bulan lagi kau harus menghadapi ujian kelulusan SMK.

Belum sampai di situ kelebihanmu. Kata ibuku juga, kau terus bersabar di saat ada beberapa warga sibuk memusuhimu. Kejadiannya adalah saat kau kehilangan sabitmu dan ternyata ada yang sengaja mengambilnya. Tapi, apa reaksimu? Kau hanya berdoa semoga Allah menambahkan rizkimu. Subhanallah,, air mata ini pun mulai mengalir. Pernah juga saat aku diterima di salah satu Perguruan Tinggi terbaik di negeri ini, ada warga yang selalu meledekmu. Tapi apa reaksimu? Kau hanya berdoa semoga dilapangkan dadamu dan tak bergeming sedikitpun. Lagi-lagi aku bukan tahu itu darimu tapi dari ibuku. Kalau aku hanya sendirian, mungkin aku sudah menangis sekeras-kerasnya.

Dan kini aku telah hampir tiga tahun merantau di Kota Kembang, menuntut ilmu di sebuah institut yang aku sendiri sebelumnya tak yakin bisa mencicipinya bukan karena minder dengan kecerdasan mahasiswanya, tetapi ngeri dengan biayanya. Dan 2 tahun lagi, aku berjanji akan memberi kado istimewa untukmu. Tunggulah saatnya nanti. Doakan yah! Dan salah satu doaku,” Semoga Allah memberkahimu dan mengumpulkan aku, adik dan ibuku di surga-Nya kelak!” Amin

Ayahku…salut padamu! ^_^
My father,, I really love u.

Senin sore, di sela-sela mengerjakan makalah dan teringat engkau.

Satu Tanggapan

  1. Miftah!!!
    Semangaaaaaaaaat!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: