Fiqh Birrul Walidain

Judul Buku   : “Fiqh Birrul Walidain-Menjemput Surga Dengan Bakti Orang Tua”

Pengarang   : Mushthofa bin Al-‘adawi

Alih bahasa : Hawin Murtadlo

Kategori      : Akhlak

Penerbit      : Al- Qowam

Tahun Terbit : 2005

Edisi              : Mei 2005

Waktu baca    : 12-13 Agustus 2007

Kesan : Astaghfirullah…ampuni anakmu ini yang masih sering mengabaikanmu. Dengan membaca buku ini saya jadi lebih tahu dan semangat untuk berbakti guna menjemput surga-Nya

Resensi :

Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Terserah maumu, apakah engkau menyia-nyiakan pintu itu atau memeliharanya (Al-Hadist). Orang tua adalah permata mulia yang akan mengatarkan seseorang jika ia berbakti kepadanya. Namun orang tua juga bisa menjadi ‘pintu neraka’ bagi seseorang yang durhaka kepada keduanya. Orang yang berakal tentu akan memilih ‘pintu surga’ dengan berbakti kepada kedua orang tua.

Seperti shalat yang ada fiqhnya, berbakti kepada kedua orang tua pun ada fiqhnya. Misalnya, bolehkah ibu atau ayah yang bodoh dicekal hartanya, tentang hukum mempuasakan orang tua yang telah meninggal, dan mengirimkan pahala bacaan Al-Qur’an kepadanya, tentang memperbaiki kejahatan yang pernah dilakukan ayah, bolehkan ayah mencium anak perempuannya, dan lain sebagainya.

Semua permasalahan fiqh birrul walidain dibahas secara tuntas dengan uraian yang bernas dan lugas dalam buku ini, beserta solusi yang ditempuh secara syar’i. Sehingga buku ini layak dimiliki oleh siapa saja yang ingin secara sungguh menjadikan orang tua sebagai ‘pintu surga’ baginya.

Satu Tanggapan

  1. Berhadapan dengan sosok bernama orang tua, tentu tidaklah sama dengan orang lain. Bila kita bisa leluasa ‘menceramahi’ orang lain, maka tidak demikian dengan orang tua. Bagaimanapun mereka tetap orang tua kita yg mana mengerti betul kita dari lahir.Sehingga perubahan atas diri kita yg notabene mengarah pada suatu ‘progress +’atau sering dikenal dengan istilah ‘hijrah’ seringkali belum bisa diterima jika penyampaiannya tidak baik. Seringkali kita terjebak pada menyamakan pola penyampaian pesan kepada orang lain kemudian diterapkan sama terhadap orang tua. Tak ayal, mereka bukannya tercerahkan tapi malah ‘mental’ dari apa yg kita sampaikan. Setiap perkataan bernada dakwah, sering disalahartikan dengan kata ‘sok nggurui’. So, smart solutionnya adalah ‘keteladanan’. Yah, daripada perang mulut yg kadang malah tidak melahirkan titik temu kenapa kita tidak memberikan contoh nyata?Tentu dengan tidak mengabaikan penyampaian secara lisan, biar mereka juga mengetahui apa maksud perilaku qt itu,tapi harus dengan perkataan yg baik pula. Istilah kerennya”Qoulan Sadiida” Harus diingat pula, kita tetap harus berpegang pada prinsip kebenaran kalau memang orang tua menyuruh qt melakukan tindakan yg bertentangan dg Islam. Yah, memang dibutuhkan kesabaran ekstra untuk bisa ‘ngemong’ sosok bernama orang tua. 4WI…maafkan diri ini yg kadang lepas kendali kalau sudah terjun ke lapangan. Moga Q bisa menjadi anak yg bisa menjadi penyelamat ayah ibuku dari kobaran api neraka, bukan malah menjerumuskan mereka kedalamnya. Amien.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: